Kriiiing! Kriiing! Selamat Milad FLP Blitar ke 13 Tahun 2021 - FLP Blitar

Kriiiing! Kriiing! Selamat Milad FLP Blitar ke 13 Tahun 2021

Bagikan


Kriiiing! Kriiing!

Tepat jam duabelas malam ponselku berbunyi. Kulirik sebentar. Ada panggilan grub whatshap. What? Malam-malam begini?


Penasaran, buru-buru kuusap layar ponsel dengan jari. Segera serasa berada dalam ruangan tak kasat mata.


Disana sudah riuh suara teman-teman FLP Blitar.

Senyum, tawa dan canda bertukar satu sama lain, membuatku terharu.

 

Ya, PPKM membuat semua seperti ini. Meski berjauhan berusaha seakan sedang duduk berdampingan. Aku pun mencari tempat duduk ternyaman yaitu di lantai, bersandar pada dinding kamarku.

 

Ruang menjadi hening ketika Kama, ketua FLP Blitar menunjukkan sebuah tumpeng mini bertulisan milad FLP Blitar ke 13 tahun.

 

Tak lupa setelah itu Pak Yo membaca sebuah doa, lalu katanya, " Yuk kita makan bersama-sama," ajaknya sembari mulai mencuci tangannya dengan hand sanitizer.

 

"Bismillahirohmanirrohim," lanjutnya lagi.

 

Teman-teman tampak amat menikmati tumpeng di depan mereka. Ya, mungkin hanya aku yang melongo.

 

"Ayo, Mbak Sa dimakan!" ajak Kama.

 

Sementara aku tak kerkedip menatap layar ponsel ini. Seakan sedang kena prank. Kok bisa sih mereka sudah bawa tumpeng? Tak ada yang memberitahu aku tentang acara ini. Harusnya aku turut memesan tumpeng.

 

"Kenapa, Mbak Na? Ndak suka sama tumpengnya? Kok nggak dibuka?" kali ini suara Putra.

 

"Maksudnya? Apa yang dibu ...," aku masih belum paham tetapi sedetik kemudian mataku tercengang melihat bungkusan di depanku. Tadi terlalu fokus melihat ponsel sampai tak sadar ada bungkusan tumpeng tepat tigapuluh sentimeter di depanku, entah kapan itu ada disana.

 

Kubuka tumpeng itu dengan perasaan tak karuan. Setelah melihat seisi kamar yang lengang, pintu dan jendela kamar yang tertutup, akhirnya kuputuskan menikmati tumpeng seperti teman-teman.

 

Tiba-tiba ... ...

 

------------

 

Kriiing! Kriiing! Alarm jam beker di kamar berbunyi nyaring. Aku mengerjab-ngerjabkan mata, seakan ada lem yang membuatnya menutup. Ah, rupanya tadi hanya mimpi.

 

Tanganku meraba-raba meja di samping ranjang, berniat mematikan alarm. Tetapi, malah menyentuh sesuatu yang tak biasa. Sontak aku duduk dan menatap bungkusan disana. Tercengang! Bukankah itu tumpeng mini, persis seperti dalam mimpi tadi?

 

Tak lama kemudian ponselku berdering, itu panggilan whatshap. Aku tahu karena sengaja memberi nada berbeda.

 

Benar saja itu panggilan grub dari teman-teman FLP Blitar. Segera kuperhatikan waktu di ponselku, melirik jam dinding berbentuk buku di dinding. Juga di jam beker tadi. Semua tepat pukul 24.00.

 

Apa yang ada di panggilan grub ini persis seperti mimpiku tadi. Bedanya kali ini aku sudah membawa nasi tumpeng.

 

Usai Pak Yo membacakan doa, kami makan tumpeng bersama-sama. Sesekali bercanda seakan benar-benar dalam satu ruangan.

 

Namun, lagi-lagi ... ...

 

----------

 

Kriiing! Kriiing!

 

Byar! Mataku terbuka, nyaris menjerit kaget melihat ibu yang sedang mematikan jam beker.

 

"Memangnya jam 12 mau apa sih, Na? Berisik sekali," kata ibu. Ibu pun ngeloyor keluar kamar.

 

Aku melongo, lagi-lagi mengucek-ucek mata. Duh mimpi lagikah ini?

 

Barangkali Allah menyuruhku shalat malam saat itu juga. Usai berwudhu dan ketika mulai memakai mukena, jam lonceng di ruang tamu berbunyi dua belas kali.

 

Kali ini entah kenapa dadaku berdebar hebat. Kulirik meja di samping tempat tidur. Benar saja ponselku berdering. Dari nadanya aku paham kalau itu panggilan grub teman-teman FLP Blitar.

 

Ah, terserah! Kepalaku mulai pening. Kuputuskan untuk tetap shalat, memuaskan diri dengan membaca Al-Qur an.

 

Lalu aku menghampiri ponselku. Kian heran ketika jam disana masih menunjuk angka 12. Lagi-lagi kuperhatikan jam buku di dinding dan jarum jam beker. Semua menunjukkan angka yang sama.

 

Ponselku pun bergetar, dan muncul panggilan grub dari teman-teman FLP Blitar.

 

Apakah kali ini aku masih bermimpi? Kulempar ponselku ke atas kasur. Terjatuh disamping sebuah bungkusan rapi yang langsung membuat mataku tak berkedip. Itu tumpeng mini bertulisakan Selamat Milad FLP Blitar!

 

Aku pun terhuyung mundur sampai menubruk tembok. Di sana kepalaku beberbenturan dengan foto pigura hingga terjatuh. Aku memungutnya. Fotoku saat masih berumur sepuluh tahun bersama ... ibu. Oh, tidak. Serasa aku baru teringat sesuatu - bahwa ibu sudah meninggal saat aku berumur sepuluh tahun. Lalu siapa perempuan yang tadi mematikan jam bekerku?

 

Nafasku kian tersengal, apalagi ponselku mulai riuh suara teman-teman FLP Blitar. Padahal aku yakin tadi belum kupencet tombol hijau untuk bergabung.

 

Berikutnya terdengar suara Kama, "Selamat Milad FLP Blitar ke Tiga Belas Tahun. Semoga semakin berbakti, berkarya dan berarti, "

 

Dilanjutkan suara Pak Yo yang berdoa, lalu ajakan makan tumpeng.

 

Deg! Deg! Deg! Jantungku serasa memacu lebih cepat. Butiran keringat sebesar jagung memenuhi wajahku.

Nafasku tak beraturan.

 

"Mbak Na, kenapa tumpengnya belum dibuka?"

 

"Tidaaaak!" jeritku panik.

 

Beberapa saat kemudian, ... ...

 

‐--------------

 

Plakkk! 

Aw! Seseorang menamparku. Sakit!

"Mbak! Bangun Mbak! Mbak kenapa!" suara yang amat kukenal, adikku Doni.

Mataku yang telah terbuka menatapnya dalam-dalam. Segera duduk dan mencubit pipi adikku bertubi-tubi. Sekadar meyakinkan bahwa ini bukan mimpi lagi.

"Sakit, Mbak!" teriak Doni.

Haa! Aku tertawa memeluk adikku dengan erat, " Ah, akhirnya aku bangun! Akhirnya!" kataku riang.

"Mbak, kenapa sih tadi tidur kok teriak-teriak. Maaf ya Mbak,  aku menampar Mbak. Biar Mbak bangun!" jelas Doni.

"Nggak pa pa, Dek. Makasih!"  ucapku padanya.

"Oya Mbak, tadi ada yang ngirim itu ke rumah," Doni menunjuk bungkusan di atas meja. Tumpeng bertuliskan Selamat Milad FLP Blitar.

"Aku ke kamar ya, Kak!" Doni menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dariku.

Aku tertegun. Tiba-tiba kamar ini terasa lengang. Sunyi. Hanya terdengar suara detak jam berbentuk buku di dinding kamar. Ketakutan aku melirik jam itu. Tepat pukul 24.00. Sebentar lagi ponselku pasti berbunyi.

Derrrt! Derrrt! Derrtt!

Benar saja, ada panggilan grub whatshap. Kuberanikan diriku menatap layar ponsel. Barangkali sekarang nyata dan bahwa ini bukan mimpi.

Lalu aku melalui lagi rentetan sama seperti dalam mimpi. Sampai pada momen memakan tumpeng. Perutku yang tiba-tiba terasa lapar, ditambah aroma nasi tumpeng yang menggoda membuatku ingin menelan bulat-bulat tumpeng itu.

Bismillah, aku mulai memakan tumpeng seperti yang lain. Pertama kucuci tangan dengan hand sanitizer di dekatku. Kedua kucicipi sedikit bumbu-bumbu ditumpeng. Hm, lezat. Pelan-pelan menjimpit nasi dan lauk sedikit demi sedikit.

Aku mengambil nafas dalam-dalam. Huft, akhirnya aku benar-benar bangun.

Namun, ... sebuah panggilan masuk dari adikku, Doni.

"Mbak!" sapa suara di seberang.

"Kenapa sih, Don?" Bukannua dia di kamar sebelah? Ngapain sih telpon begini?

"Mau minta tolong! Tadi sore aku ngechas latop di kamarku! Lupa belum kucabut, tolong dicabut ya Kak! Aku tidur di rumah Dion, nih," pintanya.

Kali ini kepalaku pusing. "Kamu ke rumah Dion sejak kapan?" tanyaku tak percaya.

"Tadi sore, Kak," jawabnya pelan.

"Hah!"

Beberapa saat kemudian, ... ...

----------

Kriiing! Kriiing!

Aku dikejutkan dengan alarm jam beker di meja samping ranjang. Kali ini nafasku tersengal-sengal. Keringat dingin berbutir-butir di seluruh tubuhku.

Aku sudah hafal dengan semuanya. Jadi mataku beralih pada meja disampingku. Benar saja sebuah tumpeng mini disana.

Jam dinding kamar mulai menunjuk angka dua belas. Ponselku berbunyi tanda ada panggilan grub whatshap. Tanpa kubuka, sudah terdengar suara Kama, " Selamat Milad FLP Blitar ke tigabelas tahun!"

Aku beringsut merepet ke dinding kamar dan menutup wajahku. Entah kapan ini berakhir.

(END)


Dari Penulis 

"Selamat Milad FLP Blitar yang ke 13. Semoga kegiatan-kegiatannya makin kreatif dan panuh berkah, bisa menggemakan literasi ke seluruh pelosok Blitar raya. Seperti motto FLP : Berbakti Berkarya dan berarti!"


No comments:

Pages