ADJIE BANDI - MENGENANG SANG LEGENDA - FLP Blitar

ADJIE BANDI - MENGENANG SANG LEGENDA

Bagikan


ADJIE BANDI - MENGENANG SANG LEGENDA

Para sahabat budiman, masih ingatkah anda lagu 'Damai Tapi Gersang'? Lagu yang syairnya bercerita tentang kehidupan itu berhasil menyabet penghargaan 'Outstanding Song Award' di Nippon Budokan Hall, Tokyo, Jepang, pada 11 - 13 Nopember 1977 silam.

Pencapaian ini langsung mengangkat nama sang pencipta, Adjie Bandi, pria bertalenta seni yang dilahirkan di Blitar, Jawa Timur, pada 10 Januari 1947. 

Saat di Budokan Hall, musikus ini bawakan tembang gubahannya sendiri dengan berduet bersama penyanyi Hetty Koes Endang, ratu segala festival kejuaraan musik di tanah air. Keduanya tampil memukau saat membawakan 'Damai Tapi Gersang' diiringi Yamaha Pops Orchestra dari Jepang. Sebelum itu Adjie mengawali performennya dengan memainkan grand piano di panggung. 

Ironi,  ya segalanya ironi. Saat berlangsung festival lagu pop Indonesia 1977, lagu Damai Tapi Gersang tampil apik di antara lagu-lagu ciptaan para komposer hebat negeri ini.  Namun saat dibacakan hasil penjurian,  lagu ini  hanya mampu meraih juara ke dua, karena dikalahkan lagu 'Bila cengleh berbunga' karya Minggus Tahitu.

Langkah selanjutnya, saat hendak masuk festival tingkat internasional, dewi fortuna lebih berpihak kepadanya, sebab panitia penyelenggara World Polular Song Festival berpendapat lain dan lebih memilih lagu 'Damai Tapi Gersang' sebagai wakil dari Indonesia untuk berlaga.

Dalam ajang tersebut gelar bergengsi Grand Prix Award diraih penyanyi Mia Martini dari Italia yang membawakan tembang 'Ritratto di Donna' - Potret seorang Wanita.


Berbicara tentang keikutsertaan Indonesia dalam ajang tingkat internasional, pada World Popular Song festival di Budokan Hall Tokyo tersebut sudah dimulai sejak tahun 1971, tapi sejauh itu Indonesia belum pernah meraih juara. 

Sejarah  baru diukir pada tahun 1977 tatkala Indonesia yang mengirimkan lagu Damai Tapi Gersang berhasil mendapatkan gelar prestisius sebagai pemenang komposisi lagu terbaik atau 'Outstanding Song Award.' Gelar yang diperoleh  tersebut merupakan gelar perdana bagi Indonesia sejak aktif mengirimkan dutanya pada berbagai festival seni musik dunia. 

Kemenangan Indonesia ini ternyata mengundamg perhatian berbagai kalangan termasuk para pejabat. Satu di antara mereka adalah gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo yang telah mengundangnya secara khusus, seperti diceritakan pemerhati dunia musik,  Bens Leo dalam majalah Aktuil tahun 1979.

***

Semasa hidupmya, sosok Adjie Bandi lekat dengan nuansa kehidupan yang idealis. Kelahiran Blitar 10 Januari 1947 itu menguasai dengan baik berbagai instrumen musik mulai dari gitar, keyboard, saxophone hingga biola. Musik klasik adalah dasar musik yang dia geluti. 

Bakat musiknya memang sudah terasah sejak dini. Pada 1960, di saat baru menginjak usia 13 tahun, ia tampil memukau dengan gesekan biolanya di Yogyakarta. Di kota budaya inilah ia menimba ilmu musik klasik di Akademi Musik Yogyakarta yang diselesaikannya pada 1969.

Berbekal wawasan musik klasik yang telah membuat benaknya disesaki dengan repertoar klasik seperti Johann Sebastian Bach,  Ludwig von Beethoven, Chopin hingga Wolfgang Amadeus Mozart, ia hijrah ke Jakarta. 

Untuk meniti karir musik, di ibukota Nusantara itu ia bergabung dengan Orkes Simphony Jakarta yang dipimpin Adidharma. Namun hanya sekitar dua tahun laki-laki yang eksploratif dalam bermusik ini sudah merasa jenuh, tak betah pada suasana kerja di kelompok orkestra yang bermarkas di RRI Jakarta itu. 

Naluri kreativitasnya yang terus bergejolak membuat Adjie memilih bergabung dengan sebuah kelompok musik pop,  C'Blues,  yang antara lain didukung oleh Idang Rasyidi, Mamad,  Yongli, Bams, dan Bambang. Kelompok ini sempat merilis dua album di perusahaan Remaco. Adjie sempat menulis beberapa lagu, di antaranya yang melejit sebagai hits adalah "Ikhlas" yang juga dinyanyikannya sendiri.

Begitu banyak liku-liku kehidupannya dalam bermusik. Setelah keluar C'Blues, ia sempat berlabuh di kelompok band Cockpit, Gipsy, dan Contrapunk. 

Di tahun 1976, lagu ciptaannya 'Puteri Mohon diri', berhasil masuk final 'Festival Lagu Pop Indonesia 1976'. Dan hasilnya meraih juara ke dua, di belakang lagu 'Renjana' gubahan Guruh Sukarno Putra. Renjana pun berhak dikirim mewakili Indonesia ke World Popular Song Festival 1976 di Budokan Hall, Tokyo.

Dan setahun kemudian Adjie kembali memasukkan karyanya di Festival Lagu Pop Indonesia 1977, dan lagu 'Damai Tapi Gersang' meraih juara ke dua, tetapi yang terjadi para panitia penyelenggara World Popular Song Festival lebih memilihnya sebagai wakil Indonesia.

***

Seusai meraih penghargaan untuk 'Damai Tapi  Gersang', Adjie Bandi mulai merintis karier solo. Ia merilis dua album solo, di antaranya berduet dengan Yetty Bandi, sang istri.

Di album perdana ini Adjie Bandi kembali membawakan lagu 'Damai tapi Gersang' disamping juga menyanyikan kembali lagu, 'Kampus Biru',  yang dulu ia tulis untuk theme song film "Cintaku di Kampus Biru" 1976, yang dibintangi Roy Marten dan Rae Sita. 

Album ini terhitung sukses di pasaran. Tapi sayangnya masa kejayaan Adjie berakhir 'gersang', dimana saat memasuki dasawarsa delapanpuluhan, namanya pelan-pelan surut dan bahkan nyaris terlupakan.

Memasuki era sembilanpuluhan sosok Adjie Bandi tiba-tiba kembali menggema. Bukan dalam dunia yang serba gemerlap dan bertabur puja-puji, tapi dalam suasana yang sarat keprihatinan. Adjie yang telah bercerai dengan istrinya, terbaring lemah di sebuah rumah #kontrakan yang sangat bersahaja.

Pada 27 Januari 1992, pukul 07.00 WIB, saat semburat sang surya usai meremas sisa-sisa kabut malam, Adjie Bandi menutup mata selamanya di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Lagu “Damai tapi Gersang” pun seolah menjadi penggalan nubuah atas dirinya.

***

Lirik Damai Tapi Gersang :

Seindah dalam kata 
Seindah dalam cinta 
Bilakah segala-galanya, bersatu 

Tetapi kenyataan 
Hidupnya pengorbanan 
Tinggal penghabisan lamunan, berlalu 

Semua kehidupan dia 
Berkhayal tinggal yang ada 
Rindu sayangi sesama 
Hidupmu sebentar saja 

Seharum wangi bunga 
Hidupmu bersandiwara 
Seribu katanya senada, merayu 

Tetapi kenyataan 
Hidup berliku ganda 
Tinggalkan bertanya, bertanya... tiada 

Semua kehidupan dia 
Berkhayal tinggal yang ada 
Rindu sayangi sesama 
Hidupmu sebentar saja 

Semua kehidupan dia 
Berkhayal tinggal yang ada 
Rindu sayangi sesama 
Hidupmu sebentar saja 

Dan kini tiba saatnya 
Bahagia datang padanya 
Semua saling mencinta 
Di kedamaian yang ada

Blitar,  8 Desember 2021

Sumber gambar : 
Screenshot / Rephotographed dari indolawas.blogspot.com

No comments:

Pages