Tak Sehangat Pelukmu - FLP Blitar

Tak Sehangat Pelukmu

Bagikan
Tak Sehangat Pelukmu
Oleh Widya K


"Di-dingin ...." Kalimat itu berulang kali diucapkan oleh seorang wanita paruh baya yang terbaring di tikar. Tangannya yang rapuh itu beberapa kali mengusap lengan, berharap kehangatan menyapa. Namun sia-sia. Suhu dingin tetap menjadi teman setianya, seperti malam-malam sebelumnya.

Pemuda yang berada di sampingnya mengerjapkan mata. Suara ibunya mengusik hati. Bergegas dia bangun dan mengecek kondisi wanita yang telah melahirkannya.

"Bu, Ibu nggak papa?" tanyanya khawatir. Laki-laki bernama Indra itu menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.

"Dingin." Kata itu diucapkan lagi. Indra lalu membenarkan selembar sarung yang digunakan untuk menyelimuti tubuh renta ibunya.

"Sebentar ya, Bu," kata Indra menenangkan. Meski tidak ada jawaban, Indra tetap bergerak.

Kakinya melangkah keluar dari rumah berukuran 3x3 meter yang menjadi tempatnya berlindung. Rumah yang sepenuhnya terbuat dari anyaman bambu itu yang sudah menjadi tempatnya pulang. Meski gelap, Indra masih bisa mengenali keadaan sekitarnya.

Tangannya dengan terampil membuka pintu. Dihampirinya gerobak dorong yang tadi dipakai untuk mencari barang bekas dan mengambil beberapa kardus.

Tanpa membuang waktu dibawanya kardus-kardus itu ke dalam dan menghampiri ibunya. Hati Indra terasa teriris kala menyelimuti ibunya dengan beberapa lembar kardus bekas. Tak apa, pikirnya, asal ibu tidak kedinginan malam ini.

Lalu, tubuh Indra kembali rebah di samping ibunya. Dipeluk tubuh renta itu, tubuh yang sudah beberapa tahun tak bisa bergerak leluasa karena kelumpuhan yang dideritanya.
****
Hari demi hari Indra lalui dengan penuh semangat. Keinginannya membelikan selimut untuk ibunya begitu kuat. Malam dingin yang dilalui ibunya cukup membuatnya lebih semangat lagi mengais sampah-sampah yang teronggok.

Jika menurut orang lain menjijikkan, maka menurut Indra, ini adalah ladang uang. Meski peluh membasahi tubuhnya, tak menghentikan pemuda berusia 17 tahun itu untuk terus mencari barang bekas.

***

Rumah itu nyaman ditempati. Perabotannya juga lengkap mengisi. Namun penghuninya merasa kekosongan menghampiri.

Di atas ranjang empuknya, laki-laki itu memandangi langit-langit kamar. Pikirannya melayang jauh menuju satu sosok penting dalam hidupnya.

"Bu, ternyata hangat dan mewahnya selimut ini, tak mampu menggantikan hangatnya pelukanmu," lirih Indra.

Malam ini Indra kembali mengenang. Perempuan yang harusnya merasakan buah manis usahanya sudah dipanggil oleh Tuhan. Kini, laki-laki itu hanya mampu membayangkan, tangan keriput ibunya memeluk erat dan membelainya hingga mimpi menjemput.

Biodata Penulis
Pemilik nama pena Widya K ini lahir dan besar di Kota Patria, Blitar. Ia adalah seorang yang senang bermimpi dan sedang berusaha mewujudkannya. Menjadi penulis adalah salah satunya. ‘If you believe in yourself anything is possible’, motto tersebut dipegangnya setiap waktu dengan keyakinan penuh. Sapa di Instagram @widyak_r

No comments:

Pages