MEJA TERAS TENGAH - SANG SAKSI BISU PERJUANGAN PETA - FLP Blitar

MEJA TERAS TENGAH - SANG SAKSI BISU PERJUANGAN PETA

Bagikan
MEJA TERAS TENGAH - SANG SAKSI BISU PERJUANGAN PETA

Ndalem Gebang atau juga disebut istana Gebang adalah rumah besar tempat kediaman keluarga Raden Soekemi Sosrodiharjo, orangtua mendiang Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. 

Berada di jalan Sultan Agung no. 59, daerah Gebang, Kelurahan Sananwetan, kota Blitar, Jawa Timur, lokasi ini berjarak sekitar 2 kilometer arah selatan dari makam mendiang Bung Karno. 


Salah satu agenda tahunan, di tiap tanggal, 6 Juni di rumah ini diselenggarakan acara memperingati hari kelahiran Putra Sang Fajar.

Di belakang rumah besar yang menghadap ke arah Selatan ini, terdapat ruang terbuka dengan pot-pot besar tanaman hias. Ruang terbuka ini memisahkannya dengan rumah belakang. 

Ada pun rumah belakang berupa bangunan memanjang, arah 90 derajat dari bangunan utama di depan. Pada bangunan yang membujur dari arah barat ke timur ini terdapat dapur, ruang makan, ruang tempat lemari-lemari penyimpan masakan setelah usai dimasak dan ruang logistik.

Selain itu masih ada ruang khusus penyimpanan peralatan dapur dan rumah tangga, kamar mandi, ruang pakaian, kamar para asisten rumah tangga, hingga garasi kendaraan. 

Dari 'Ndalem Ageng' atau rumah utama dihubungkan dengan sebuah selasar lebar menuju teras yang ada di depan rumah belakang. Teras inilah yang dinamai 'teras tengah'. Teras tengah yang sejuk ini juga disebut sebagai ruang santai. 

SANG SAKSI BISU

Teras dengan meja kayu panjang, dikelilingi lebih dari selusin kursi kayu beralas duduk rotan ini, adalah tempat pilihan mendiang Bung Karno untuk duduk-duduk santai bersama keluarga dan handai taulan, baik semasa masih remaja hingga setelah menjadi presiden saat berkunjung ke Blitar. 

Hari-hari selanjutnya tempat yang menghadirkan keheningan ini adalah tempat yang sering dipakai kumpul-kumpulnya para karib dan pecinta Bung Karno.

Di tempat ini pula telah berlangsung peristiwa bersejarah yang perlu diketahui oleh semua generasi muda, terutama para anggota TNI, bahwa pernah terjadi pertemuan Bung Karno dengan para pahlawan PETA - Pembela Tanah Air, yang merupakan tentara sukarelawan yang dibentuk oleh Pemerintah Jepang saat mengusai bangsa Indonesia periode 1942 hingga 1945. *1)

Kedatangan para pejuang PETA yang diwakili Shodancho Supriyadi, Shodancho Muradi dan dr. Ismangil menghadap Bung Karno yang sedang berkunjung ke orang tuanya di rumah ageng Gebang ini adalah untuk menyampaikan rencana, bahwa prajurit PETA DAIDAN *2) Blitar akan melakukan pemberontakan terhadap tentara Jepang, yang kemudian hari dikenal dengan pemberontakan PETA. 

***

Seperti diketahui ''Shodancho'' Soeprijadi, lelaki kelahiran di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 ini, merasa prihatin pada nasib rakyat Indonesia, khususnya di Blitar, Jawa Timur yang hidup sengsara dibawah kekuasaan Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. 

Penderitaan yang dialami oleh rakyat pribumi dikarenakan Kekaisaran Jepang menerapkan kebijakan yang sangat kejam dan tak berperikemanusiaan, seperti kerja paksa sebagai rĊmusha. Romusha yang berarti buruh, pekerja adalah "sebuah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. 

Kebanyakan romusa adalah petani, dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani untuk menjadi romusa. Mereka dikirim untuk bekerja di berbagai tempat di Indonesia serta Asia Tenggara. Jumlah romusa tidak diketahui secara pasti—perkiraan berkisar antara 4 dan 10 juta." *3), lalu banyak terjadi perampasan hasil pertanian, dan perlakuan diskriminasi rasial yang tidak manusiawi. 

Perlakuan diskriminasi tersebut juga dialami oleh tentara PETA yang hakekatnya adalah bentukan Jepang sendiri. Berdasarkan hal tersebut, Soeprijadi segera mengkonsolidasikan pasukannya untuk melakukan pemberontakan melawan Tentara Kekaisaran Jepang.

 ***

Meskipun Bung Karno saat itu telah menasehati untuk memperhitungkan dengan cermat serta mempertimbangkan akibatnya, karena perimbangan kekuatan yang tidak memungkinkan pemberontakan tersebut akan berhasil, namun tekad semangat berapi-api para anggota tentara PETA telah bulat, tidak dapat dihalang-halangi lagi dan Soeprijadi yakin pemberontakan akan berhasil.

Pagi setelah pertemuan itu,  pada pukul 03.00 dini hari, tanggal 14 Pebruari 1945 meletuslah pemberontakan tersebut.
***

Pemberontakan yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 itu, merupakan perlawanan yang paling dahsyat atas kependudukan Jepang di Indonesia. Gerakan itu berhasil membunuh sejumlah tentara Jepang dan pasukan PETA pimpinan Soeprijadi berhasil melarikan diri dengan membawa banyak perlengkapan dan logistik Jepang, seperti senjata Arisaka dan senapan mesin Type 99. 

Namun, struktur komando Jepang yang tidak menempatkan PETA memiliki pusat komando tersendiri, melainkan tetap terpusat pada komando tentara Jepang, telah membuat tentara pendudukan berhasil mencegah pemberontakan itu menyebar ke ''daidan'' lainnya. Kemudian Jepang memutuskan untuk mengirim tentara PETA yang masih setia untuk memburu Soeprijadi dan pengikutnya.

Tentara PETA yang tertangkap kemudian diadili di Jakarta, di pusat komando pemerintahan pendudukan Kekaisaran Jepang di Indonesia. Sebanyak 68 orang anggota PETA yang memberontak berhasil ditangkap - 8 orang dihukum mati, 2 orang dibebaskan dan sisanya dipenjara antara tiga tahun hingga seumur hidup - sementara Soeprijadi sendiri tidak ditemukan sampai hari ini. 

Banyak dugaan beredar tentang keberadaannya, ada yang mengatakan ia ditangkap dan dibunuh di tempat, ada yang mengatakan melarikan diri ke Trenggalek, daerah kelahirannya yang kondisi geografisnya bergunung-gunung memungkinkan untuk mengasingkan diri dan bersembunyi, atau sebenarnya Soeprijadi telah tewas dalam pertempuran 14 Februari 1945 itu, bahkan ada cerita dari para tetua, konon untuk menghilangkan jejak jenazahnya dibuang ke kawah gunung Kelud, namun untuk kebenarannya sampai sekarang tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti.

***
 
Pemberontakan PETA di Blitar terhadap kekuasaan Jepang mengalami kegagalan, namun bukan berarti semua itu sia-sia karena dalam pemberontakan tersebut para pejuang PETA berhasil mengibarkan bendera merah putih untuk pertama kalinya di bumi pertiwi ini, yang mengobarkan semangat gigih perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. 

Blitar,  28 April 2021

Keterangan :
*1) PETA : Pembela Tanah Air - www-kompas-com
*2) Daidan : Batalion (KBBI).
*3) Romusha : buruh, pekerja - by Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Sumber Gambar : 
Koleksi Pribadi, dan Dokumen Ndalem Ageng Gebang, Blitar, Jum'at, 12.03.2021

jalan-jalan-yuuk.com

No comments:

Pages