Mendung (Bagian 9) - FLP Blitar

Mendung (Bagian 9)

Bagikan


Akhirnya aku tahu semua, dari Pak Andro dan dari Ibunya, tentang kenapa Clara tidak mau lagi bermain musik.

Clara mewarisi kemampuan bermusik dari Ayahnya, yang seorang musisi. Ayahnya sangat menyukai lagu-lagu dari band Queen. Lagu pertama yang dikenalkan Ayahnya adalah "Love of my Love".

Clara memiliki adik lelaki yang hanya berjarak dua tahun, adiknya tak terlalu suka bermain musik, lebih suka olahraga.

Karenanya, Clara sering diajak ayahnya ketika ada undangan manggung, nonton konser musik, dan pergi ke studio. Musikalitas Clara sangat baik. Ayahnya pun kagum.

Namun Clara sering melihat ayah dan ibunya bertengkar. Seiring waktu akhirnya Clara tahu jika ayahnya dekat dengan banyak perempuan, bahkan sejak sebelum kenal ibunya. Hingga menikah, ayahnya masih suka main perempuan.

Akhirnya kedua orang tuanya bercerai. Sidang di pengadilan pun berjalan, dan putusan ditetapkan. Sudah setahun ini status Clara berubah menjadi anak keluarga broken home.

Clara benci ayahnya, yang sudah mengecewakan ibunya. Clara membakar gitar pemberian ayahnya, dia frustasi, hingga dibawa ke psikiater.

Atas saran psikiater, ibunya membawa pada kehidupan baru. Suasana baru. Lingkungan baru. Sekolah baru. Teman baru.

Clara perlahan pulih. Dia tidak punya kebiasaan berdiam diri lagi, dia mulai mau berinteraksi dengan orang lain, mulai tersenyum lagi.

Ibunya mengajak ke Blitar. Di rumah neneknya. Ibunya memulai usaha membuka kios kue. Clara dan ibunya memulai hidup baru.

Rumah di Jakarta sudah dijual, dibagi dua. Adik Clara ikut ayahnya. Mereka terpisah, sudah enam bulan lebih tak bertemu, sejak Clara pindah ke Blitar.

###

Clara terdiam mendengar apa yang baru aku sampaikan.

"Ra.. sorry, tapi ibu kamu minta ...,"

"Cukup," Clara memotong ucapanku. "Emang elu siapa? Lu tau apa soal perasaan gue?" Lanjutnya.

Plaaak!!! Clara tiba-tiba menamparku, dan itu jadi perhatian siswa lain. Meski kami duduk di kursi melingkar yang agak jauh dari keramaian.

"Jangan coba-coba campurin hidup gue," Ancam Clara.

Lalu dia beranjak pergi meninggalkanku. Peristiwa itu menjadi perbincangan. Mereka mengira aku ada hubungan khusus dengan Clara.

###

Ra.. aku minta maaf.

Berulang kali aku mengirimkan sms permintaan maaf. Namun tak satupun yang dibalas Clara.

Setelah kepanitiaan acara dibubarkan, hubunganku dan Clara pun seolah kembali seperti biasa ; seperti tak saling kenal. Seperti sebelumnya.

"Emang kalian ada hubungan apa sih?" Tanya Zanuba.

Aku tak mungkin menceritakan soal itu pada orang lain, termasuk pada Zanuba. Cukup hanya aku dan Pak Andro yang tahu. Biarlah orang lain menafsir hubungan kami, termasuk menafsir peristiwa ketika Clara menamparku.

Terlepas dari keinginanku membantu Clara agar kembali menyukai musik, agar dia menemukan kebanggaan hidupnya lagi, ternyata aku baru sadar sesuatu.

Clara tak sedang butuh bantuan. Clara sudah bahagia dengan pilihannya. Clara tak lagi mengikatkan rasa bahagianya dengan bermusik.

Justru akulah yang sedang butuh bantuan. Perasaan pada Clara dari hari ke hari kian membuncah. Rasa bersalah karena hal tersebut, selalu membayangi dan menyiksa batinku.

Dalam keadaan demikian, rumus-rumus fisika, tabel-tabel senyawa kimia, gambar diorama rangka tubuh manusia yang terpasang di dinding kamarku, seperti tak menjawab apapun.

Aku sedang menghadapi persoalan yang lebih kompleks dari polinominal dengan variable yang tak dapat dihitung dan diprediksi.

Aku tak bisa melihat pola dari apa yang aku rasakan sendiri. Semua terasa berat. Gelap. Aku ringkih. Aku rapuh. Aku sedang jatuh cinta. Jatuh. Jatuh.

Bersambung

~~~~
Cerbung by Ahmad Fahrizal Aziz

No comments:

Pages