Pengamen Jalanan dan Etika - FLP Blitar

Pengamen Jalanan dan Etika

Bagikan

Oleh : Nabila Ananda

Bagi kita yang pernah melakukan perjalanan menggunakan bus lalu bertemu dengan pengamen, atau ketika berkendara dan berhenti di perempatan jalan lampu merah dan bertemu dengan mereka, apa yang kita pikirkan? Jujur saja bagi sebagian kita ketika naik bus lalu ada pengamen masuk pasti merasa terganggu. Apapun penyebabnya.

Salah satunya yaitu sikap mereka yang kadang tidak sopan dan secara tidak langsung memaksa. Selain itu ada juga penampilan yang kadang awut-awutan sehingga membuat mereka semakin terkesan “liar”. Tak hanya itu, suara yang kadang pas-pasan atau bahkan menyanyi yang terkesan asal juga menjadi alasan lainnya.

***

Beberapa saat lalu, ketika saya berada dalam bus untuk perjalanan rutinan FLP, ada sepasang pengamen yang berbeda dari biasanya. Pengamen itu terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan yang menyanyi lagu jawa. Sebenarnya suaranya biasa saja, tapi tidak sumbang dan cukup enak didengar. Selain itu baju mereka pun tidak asal-asalan, dalam artian tidak memakai celana yang sobek-sobek dan baju yang bersih. Yang perempuan juga memakai bedak dan lipstik serta rambutnya dikuncir ke belakang, sehingga membuatnya lebih rapi. Dandanannya tidak menor, tapi cukup untuk menghilangkan kesan pengamen jalanan yang sering seenaknya sendiri. Daya tarik lainnya yaitu keramahan.

Tidak seperti pengamen lainnya yang terkesan memaksa dan tidak peduli dengan kepentingan penumpang, pengamen yang satu ini malah terlihat begitu akrab dengan penumpang dan supir serta kondektur. Ia juga selalu tersenyum dan berbicara dengan suara yang bersahabat. Bahkan ketika turun ia juga mengantarkan seorang penumpang yang tidak tahu tempat yang akan dituju.

***

Ketika melihat pengamen ini, secara jujur saya menyukainya, artinya saya memberikan respect. Sebenarnya yang kita inginkan dari para pengamen itu memang etika dari mereka. Penampilan mereka yang awut-awutan, menyanyi yang asal, juga kadang sedikit memaksa membuat kita merasa tidak nyaman dan akhirnya lahir stigma negatif untuk mereka.

Selain itu, di daerah pertigaan kota Malang saya juga sering melihat pengamen yang gaya dan suaranya mirip sekali dengan Charly van Houten. Ia bersama teman-temannya biasanya mengamen di sebuah bus yang sedang ngetem menunggu penumpang. Meskipun penampilannya terkesan awut-awutan sebagaimana pengamen jalanan, tapi mereka tidak terkesan memaksa, selain itu kami para penumpang juga disuguhi dengan suaranya yang bagus.

***

Dari segi kreativitas, adakalanya para pengamen itu tidak menyanyikan lagu kepunyaan musisi terkenal. Biasanya mereka juga menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri. Lagu-lagu yang mereka ciptaan bercerita tentang cinta, permasalahan ekonomi dan cerita yang berhubungan dekat dengan kehidupan mereka. Adakalanya lagu tersebut mempunyai lirik menyindir-yang paling menyebalkan jika menyindir penumpang-, tak jarang pula yang jenaka.

Pengamen-pengamen ini mengingatkan saya dengan pengamen yang ada di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Kadang saya juga membayangkan jika pengamen Indonesia suatu hari nanti bisa bertransformasi seperti mereka. Tidak perlu masuk ke angkutan umum, silahkan cari saja tempat dimana banyak orang yang berlalu lalang, menggunakan pakaian yang rapi-tidak perlu seperti akan ke kantor, karena mereka adalah seniman-lalu menyanyi dengan baik. Kalau mereka menjual aksi mereka dengan baik dan juga dibungkus etika yang baik pula, saya pikir penonton akan datang sendiri. Penonton juga akan memberikan uang dengan senang hati sebagai bentuk penghargaan, bukan karena terpaksa.

***

Fenomena pengamen jalanan ini juga merupakan permasalahan sosial, yang  mau tidak mau harus diperhatikan oleh pemerintah. Entah dari kementerian sosial atau kementerian perhubungan, karena pengamen jalanan yang juga lekat dengan angkutan umum. Keberadaan pengamen jalanan yang satu sisi tidak diharapkan kedatangannya oleh penumpang, tetapi di sisi lain bagi mereka yang mengaku tak hanya pengamen tapi musisi jalanan, juga harus diberikan tempat untuk berkreasi. Baik tempat dalam arti fisik atau dukungan moral lainnya.

Tetapi meski begitu, saya tidak yakin apakah ketika nanti pemerintah memberikan tempat khusus bagi pengamen jalanan untuk tampil-seperti yang ada di luar negeri-mereka akan menggunakannya atau tidak. Alasannya bisa saja karena mereka sudah terbiasa mengamen di dalam angkutan umum atau bisa saja karena tempat yang diberikan sepi dari lalu-lalang orang.

***

Meski begitu, sebagai orang yang sering melakukan perjalanan dengan bus, saya berharap suatu hari nanti di dalam bus tidak ada orang mengamen sebagaimana di dalam kereta api. Meskipun agak sulit karena jika kereta api ada lembaga struktural yang mengurusnya secara langsung, tetapi untuk bus tidak.

Teruntuk kita yang bukan pengamen jalanan, kita memang tidak bisa menilai mereka hanya dari satu sudut pandang saja. Berbagai kelakuan mereka yang condong ke arah negatif tersebut pastilah ada alasanya. Faktor ekonomi memang menjadi yang utama.

Apalagi jika berbicara tentang pengamen jalanan anak-anak yang biasanya ada di perempatan lampu merah. Untuk ukuran anak-anak, saya pikir rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk pulang, tetapi kenapa mereka lebih memilih mengamen dan hidup di jalanan yang keras?[]

2017

No comments:

Pages