Tanpamu Aku Hanyalah Seperti Kertas Sobek - FLP Blitar

Tanpamu Aku Hanyalah Seperti Kertas Sobek

Bagikan

 


 

 

Oleh Anisa Dewi

 

 

 

Pagi itu Ifun sangat merasa malas untuk masuk sekolah, tapi jika dia  tidak pergi ke sekolah dia tidak mendapatkan uang saku tambahan untuk jajan. Baginya sekolah bukan hanya menuntut ilmu, tapi sebagai wadah agar bisa mendapatkan uang dengan memalak adik-adik kelasnya. Saat ini Ifun duduk dibangku kelas sembilan sekolah menengah pertama. 

 

Ifun terkenal sebagai anak yang sangat nakal karena dalam satu tahun, bisa berkali-kali masuk ke ruang bimbingan konseling dengan kasus kenakalan yang berbeda–beda. Sayangnya, orang tuanya kurang mempedulikan kenakalan anaknya ini, karena mereka disibukkan oleh bisnisnya masing-masing.

 

Ifun segera mandi dan berangkat ke sekolah. Diumurnya yang masih terlalu muda, Ifun sudah diperbolehkan naik motor ketika berangkat ke sekolah oleh kedua orang tuanya karena mereka sibuk dengan bisnis yang sedang dijalankannya hingga tidak sempat mengantarnya ke sekolah.

 

Ifun sampai diparkiran tempat menitipkan motor yang lumayan jauh dari sekolahnya, karena anak SMP tidak diperbolehkan membawa sepeda motor ke sekolah. Di sana dia bertemu dengan teman–temannya yang lumayan nakal juga yang sering mengajaknya untuk membolos sekolah.

 

“Hoee broo!” ucap Zaki temannya.

 

“Hoee, dah siang nih buruan  ke sekolah yuk, ntar keburu ditutup gerbangnya.”

 

“Haha tumben lo mau rajin masuk sekolah kesambet apa lo?”

 

“Haha kagak begitu bro, ntar waktu istirahat kita bisa malakin adik kelas.”

 

“Woo gitu, iya deh gue setuju. Yok berangkat.”

 

“Siap, Broo.”

 

Zaki dan Ifun segera masuk ke dalam kelasnya, hampir saja telat saat pintu gerbang sekolah akan ditutup. Beruntungnya mereka berdua segera lari untuk masuk ke dalam kelas. Suasana kelas seketika heing begitu Zaki dan Ifun datang, karena beberapa teman sedikit takut jika adu mulut dengan mereka berdua, kecuali Rahma perempuan yang selalu berani menantang ketika mereka berbuat salah.

 

“Jeng, gue nyontek PR lo matematika dong! Kalau lo gak nyontekin awas aja nanti!” ucap Zaki.

 

Ajeng adalah perempuan paling cupu dikelas tetapi dia pintar, ketika Zaki dan Ifun meminta Ajeng selalu memberi contekan PR ataupun sedikit uang sakunya untuk mereka. Karena Ajeng tak berani menolak Zaki dan Ifun, pernah sekali Ajeng menolak lalu sepulang sekolahnya Ajeng dikerjai oleh mereka berdua.

 

“Ini Zak,” jawab Ajeng sambil  memberikan buku matematikanya.

 

Rahma yang melihat itu langsung menghampiri bangku Ajeng,

 

“Jeng, ngapain sih kamu ngasih contekan sama mereka berdua? Gak guna tau Jeng!”

 

“Apaan sih lo Ma, ikut campur aja,” ucap Ifun, dengan kesal.

 

“Maaf ya gue bukan ikut campur, seharusnya lo sadar dong jadi orang, kalau ada tugas tuh dikerjain sendiri kalau gak bisa baru tanya temen bukannya malah nyontek kayak gitu!”

 

“Ngapain lo nyolot ha?” jawab Zaki.

 

Belum sempat menyelesaikan perdebatan mereka, Bu Yayuk selaku guru Bahasa Indonesia di sekolah yang masih baru pindahan dari sekolah menengah pertama lain dan baru masuk kurang lebih satu bulan ini datang menghampiri mereka.

 

“Tadi, Ibu dengar kalian bertengkar ada apa?” 

 

“Ini  Bu, Zaki sama Ifun mau nyontek PR matematika Ajeng dengan memaksa pula, dan itu tidak sekali dua kali tapi berkali–kali, Bu.”

 

“Apa benar Zaki … Ifun?”

 

Zaki dan Ifun hanya cengengesan dan mengangguk.

 

“Nanti waktu istirahat kita ngobrol ke kantin yuk? Ibu belikan makanan untuk Zaki dan Ifun.”

 

“Haa? Ibu gak salah? Kenapa yang ditraktir makan Zaki dan Ifun? Mereka salah kan, Bu? Bukannya dihukum malah ditraktir dikantin!” ketus Rahma yang masing kebingungan.

 

“Haha syirik aja lo, Ma,” ucap Zaki.

 

“Sudah–sudah, jangan berdebat lagi. Ayo waktunya jam pertama pelajaran Bahasa Indonesia silahkan duduk dibangkunya masing–masing.”

 

“Iya Bu,” jawab Rahma.

 

Semuanya segera duduk dibangkunya masing–masing, untuk memperhatikan materi yang diberikan Bu Yayuk, setelah dua jam pelajaran dilanjut dengan matematika lalu istirahat. Zaki tidak mau jika bertemu dengan Bu Yayuk dikantin karena menurut dugaannya ini pasti jebakan. Dirinya dan Ifun pasti akan dihukum bukan ditraktir makanan.

 

 Zaki memutuskan kabur, pergi ke kelas adik kelas untuk memalak uang, sedangkan Ifun tetap saja pergi ke kantin karena menurutnya Bu Yayuk akan benar–benar mentraktir dia, jadi uang saku Ifun dapat dia gunakan untuk bermain game di mall.

 

“Loh Ifun, kamu kok sendiri? Di mana Zaki?”

 

“Gak tau Bu, dia ngilang takut dihukum sama Ibu mungkin hehe. Padahal Bu Yayuk bener mau nraktir ‘kan?”

 

“Hehe iya, kamu mau pesan apa, Ifun? Ibu yang bayar beneran kok.”

 

“Serius, Bu? Saya mau ayam geprek sama es jeruk aja ya.”

 

“Oke, kamu pesen sana, nanti Ibu yang bayar.”

 

“Siap Bu, hehe.”

 

Setelah pesan Ifun segera memakannya, tidak menyangka guru Bahasa Indonesia itu menraktir Ifun di kantin padahal dia dan Zaki baru saja melakukan kesalahan, setelah hampir selesai makan. Bu Yayuk mulai bertanya kepada Ifun dengan pelan-pelan.

 

“Ifun, Ibu boleh nanya sesuatu sama kamu?”

 

“Iya boleh Bu, mau bertanya apa?”

 

“Ibu lihat dibuku catatan di ruang bimbingan konseling kamu sering masuk sana dengan berbagai kasus, dan Ibu juga pernah dengar kalau kamu hampir dikeluarkan dari sekolah juga karena kesalahanmu.”

 

“Hehe, iya benar.”

 

“Apa kamu tidak capek menjadi anak nakal Ifun?”

 

“Hehe gimana ya Bu, saya bingung jawabnya.”

 

“Oh iya, Ibu dengar kamu sama Zaki sering memalak uang ke adik kelas juga apakah benar ya, Ifun?”

 

“Hehe iya benar, Bu.” Ifun memalingkan mukanya karena dia malu, Bu Yayuk tau semua kenakalannya.

 

“Memangnya kedua orang tuamu tidak memberimu uang saku?”

 

Mereka selalu memberi saya uang saku Bu, untuk jajan setiap harinya. Tapi ya sebatas uang dan keperluaan buat sekolah. Setelahnya, saya antara ada dan tiada kalau di rumah. Jarang ada obrolan kalau gak penting. Orang tua saya malah sibuk mengurus bisnis terus Bu, saya gini ya hanya pelampiasan buat senang-senang saja, biar chill gak overthinking, hehe.”

 

Sejenak Bu Yayuk diam, hanya memandangi Ifun yang terus mengunyah dengan lahap.

“Lantas apakah Ifun mau berubah?”

 

“Berubah? Maksudnya, Bu?”

 

“Coba deh, Ifun mulai besok belajar berubah jadi anak yang baik. Mulai dari hal yang sederhana, bangun pagi salat Subuh, mandi, lalu bersiap-siap pergi ke sekolah jangan sampai telat. Pakai seragam yang lengkap dan rapi, berhenti membolos jam pelajaran, berhenti memalak uang adik kelas ataupun teman sekelas, berhenti mencontek pekerjaan rumah teman, jika belum bisa baru coba tanya teman untuk meminta bantuan diajari. Semua yang Ibu ucapkan, coba saja deh belajar dilakukan satu persatu, dan coba Ifun rasakan perbedaan ketika Ifun menjadi anak yang baik dan nakal seperti ini, pasti Ifun bisa merasakannya perbedaannya. Lalu Ibu bisa pastikan kedua orang tua Ifun akan mulai melirik Ifun, perhatian sama Ifun.”

 

“Iya kah, Bu? Coba deh besok Ifun terapin apa tadi nasihat ibu, nanti Ifun catat lagi ya nasihat Ibu hehe.”

 

“Iya Fun, oh iya sama kamu coba deh ikut lomba yang sederhana dan kamu sukai. Sering aja ikut lomba sebenernya itu nambah pengalaman dan juara itu bonus Fun, jika Ifun bisa juara pasti kedua orang tua bangga.”

 

“Iya Bu, Ifun baru saja sadar atas semua kesalahan Ifun. Tolong bantu Ifun menuju jalan kebaikan ya, Bu. Karena Ifun bingung mau memulainya dari mana.”

 

“Iya, Fun.”

 

Saat pulang sekolah Ifun merenung dikamarnya, memikirkan nasihat Bu Yayuk yang memang benar. Keesokan harinya Ifun lekas berubah dari segi penampilan dan sikap. Perubahan mendadak ini sontak mengejutkan teman sekelas maupun teman setongkrongan Ifun. Setelah berjalan satu bulan Ifun berhenti dengan kebiasaan buruknya, dan sudah merasa nyaman dengan apa yang pernah dinasihatkan Bu Yayuk. 

 

Ketika keadaan kantor guru cukup sepi, Ifun mengendap sembari terus awas memerhatikan keadaan sekitar, dia menyelinap masuk ke dalam ruangan Bu Yayuk, membawakannya bunga, coklat dan selembar surat yang ia letakkan di mejanya. Saat Bu Yayuk datang, ke mejanya dia sempat terkejut dengan surprise di mejanya, diambilnya sepucuk surat itu, lalu dibacanya.

 

 

Bu Yayuk, sudah satu bulan ini saya menerapkan apa nasihat Ibu waktu itu ketika di kantin, Saya  mulai belajar tentang menjadi baik walaupun masih banyak kurangnya Bu, sedikit demi sedikit saya mulai berubah. Benar kata Ibu ketika saya berubah menjadi baik dan melakukan salat wajib, Tuhan mengabulkan doa saya sekarang kedua orang tua saya menjadi perhatian terhadap saya dan selalu meluangkan waktunya untuk saya tidak seperti dulu, memang benar apa yang pernah Ibu katakan waktu itu sungguh rasanya sangat jauh berbeda ketika menjadi anak nakal dan anak baik.

 

 Ibu Yayuk, saya hanya bisa memberikan bunga dan coklat untuk Ibu sebagai tanda ucapan terima kasih dari saya. Ifun tau betul berucap terima kasihpun rasanya tak akan cukup untuk membalas semua kebaikan Ibu. Ifun akan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi agar bisa menjadi kebanggan kedua orang tua Ifun. Tanpa nasihat Ibu saya hanyalah seperti kertas robek yang tak berarti, jika saya tidak berubah dimasa remaja mungkin saya  akan menyesal dikemudian hari. Sekali lagi terimakasih ya Bu.

 

Ifun :)

 

No comments:

Pages