Project-S Chapter #7 - FLP Blitar

Project-S Chapter #7

Bagikan



Oleh Abi Subekti

 

 

 

#7 – Seorang Gadis Pengamen

13-21 Juli 2019

-Ditulis oleh Dona Mardianto

 

 

 

 

"Assalamu'alaikum."

 

"Wa'alaikumussalam." terdengar jawaban salam kurang serempak dari dalam.

 

Aku melepas sepatu sebelum masuk kosan, menaruhnya di belakang pintu. Pukul tujuh lebih empat puluh, malam. Aku baru kembali dari rumah setelah pagi hari tadi izin pulang. 

 

Begitu masuk, di dalam, Cokro, Haris, dan Masha, asik dengan ponselnya masing-masing. Kuletakkan empat bungkus nasi goreng di hadapan mereka. Lalu menuju kamar. Melepas hoodie yang kukenakan, menggantungnya di dalam lemari. Juga kutaruh ransel di samping bawah lemari.

 

Aku kembali menghampiri mereka di ruang tengah. Masha baru kembali dari dapur mengambil empat buah sendok. Ini adalah nasi goreng buatan bibiku. Di rumah tadi banyak nasi sisa dari selamatan tetangga plus sisa nasi sendiri. Jadinya, Bibi menggorengnya dan menyuruhku membawanya ke kosan. Tentunya setelah disisakan buat adikku dan buat Bibi makan sendiri.

 

"Terima kasih, Don. Beli di mana nih?" tanya Masha.

 

"Buatan Bibi. Banyak nasi sisa di rumah jadi digoreng aja."

 

"Enak, makasih, Don," kata Haris.

 

"Terima kasih, Dona," ucap Cokro setelah membuka bungkusan nasi goreng, lantas menyendoknya lalu melahapnya.

 

Aku ikut makan bersama mereka. Karena makan bersama selalu terasa lebih nikmat daripada makan sendirian.

 

Setelah acara makan malam selesai. Semua bungkus telah dibereskan. Sendok juga sudah dicuci Masha. Aku menyalakan televisi, melihat-lihat kali aja ada acara menarik, dan ketiga temanku kembali tenggelam dalam dunia masing-masing. Aku beranjak mengambil ponsel yang masih tersimpan di ransel di kamar. Meski televisi kunyalakan, kini aku juga turut tenggelam dalam dunia maya. Tv di sini sebenarnya sebatas pendamping aja biar gak sepi.

 

"Don." 

 

Kulirik Masha meletakkan ponselnya di tikar. "Ya," jawabku kemudian.

 

"Tadi ada orang datang minta bantuan nyari adiknya." lanjut Masha.

 

"Adiknya ilang?" tanyaku.

 

"Kabur dari rumah." Kini Haris yang menjawab.

 

Kali ini kuputuskan mendongak. Ketiga temanku itu ternyata telah meletakkan ponsel masing-masing. Mereka kini memandang ke arahku. Kayanya ada sesuatu, aku bisa merasakan ada yang gak beres.

 

"Katanya, ia ngamen di jalanan." Cokro melanjutkan penjelasan.

 

“Bagaimana kakaknya tahu ia mengamen?” tanyaku.

 

“Katanya, kakaknya pernah memergokinya beberapa hari kemarin.” Kini Haris yang menjelaskan. Mereka bertiga bergantian menjelaskan seolah telah memperisapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku yang sudah pasti kebingungan.

 

“Tapi ia kehilangan jejak ketika berusaha mengejarnya. Adiknya yang ilang ini juga disinyalir berpura-pura tidak bisa berbicara untuk menghindari pertanyaan orang. Kalau ini, kakaknya tahu dari seorang temannya yang mengatakan ia bertemu pengamen bisu yang mirip adiknya di alun-alun.”

 

Aneh sekali. Aku belum bisa mengatakan apapun. Terus kita disuruh cari anak kabur dari rumah yang jadi pengamen?

 

"Kita akan menyamar untuk mencari perempuan itu." Ganti Masha lagi yang bicara.

 

"Nyamar jadi jadi pengamen?" sergahku. Alisku bertaut heran.

 

"Pokonya jadi anak jalanan lah," sambung Masha.

 

"Kamu dulu pernah bilang masih nyimpen anting kan, Don?" Haris tiba-tiba mendekatkan mukanya padaku. 

 

Benar kan. Ada yang gak beres nih. Aku memang masih menyimpannya dengan baik di dalam dompet. Tapi tidak untuk kupakai kembali.

 

"Pakai lagi, Don, buat nyamar," perintah Cokro dengan entengnya.

 

"Mana bisa. Aku udah berjanji gak bakal makek anting itu lagi. Iya memang masih kusimpan. Tapi sekedar di simpan bukan untuk dipakai kembali."

 

"Please, Don. Pakai lagi dong." pinta Masha.

 

"Gak. Kenapa sih?"

 

"Anak yang kabur itu perempuan, seumuran kita. Cantik lho dari fotonya," jelas Cokro berusaha meyakinkanku. 

 

Cantik gak cantik mana peduli aku. "Emang kalau cantik ya kenapa?”

 

Tangan Haris tiba-tiba memegang kedua pundakku. Membuat badanku tersentak. Ia menatapku tajam seperti seorang interogator dengan tersangka kejahatan. "Don, pakek."

 

"Gak mau!" 

 

Kenapa semua tiba-tiba ngatur-ngatur. Lagian banyak juga kali opsi penyamaran. Kalau gak mau ribet kenapa tadi diiyain.

 

"Coba pakai dulu aja, Don. Kita mau liat pantes gak buat penyamaran. Kalau enggak ya ganti gaya lain aja,” timpal Masha masih berusaha membujukku.

 

Aku jadi bimbang. Sebenarnya ada janji yang mengikat, yang membuatku tidak mau memakai anting itu kembali. Selain itu aku juga malu dengan masa laluku dulu jika kembali memakainya.

 

Namun, sepertinya kalaupun menolak permintaan mereka, mereka bertiga bisa saja memaksa memakaikan anting itu ke telingaku. Yang ada justru malah sobek cuping telingaku nanti. 

 

Ketiga orang iitu masih menatapku lekat-lekat. Aku menarik napas, lalu menghembuskannya kasar. 

 

“Maaf, aku gak bisa.”

 

“Gue pegang tangannya, nih.” Sekonyong-sekonyong Cokro mencengkeram lenganku.

 

“Oke-oke,” teriakku sambil menghardik tangan Cokro.

 

Baik-baik, aku akhirnya mengalah daripada telingaku robek beneran. Aku melangkah ke kamar mengambil dompet yang juga ada di dalam ransel. Mengeluarkan bungkusan plastik, yang di dalamnya tersemat sebuah anting bermata kunai (salah satu jenis senjata genggam) berwarna hitam. 

 

Tiba-tiba kurasakan getaran aneh menyeruak dalam dada. Ada desiran adrenalin tidak biasa merayapi tubuhku. Seketika aku merinding, kemudian menelan ludah. Tanganku sedikit gemetar memegangnya. Ragu, setiap kali akan kubawa keluar. Masih kutatap lekat-lekat anting itu.

 

Maafkkan aku, teman-teman. Aku mengingkari janji kita.

 

Terpaksa lah aku memperlihatkan anting itu kepada mereka. Baru kali ini aku memperlihatkan anting ini. Karena sebelumnya aku hanya mengatakan masih menyimpannya tapi tidak menunjukkan bendanya. Menurutku ini menyangkut privasi, dan sekarang justru kuperlihatkan secara terang-terangan.

 

"Wah, bagus," komentar Masha setelah melihat bentuk antingku.

 

"Aku tidak tahu apa lubang tindik ini masih bisa dipakai." Kugerayangi telinga kananku. "Dulu rambutku juga tidak sepanjang ini."

 

"Udah cepet coba aja dulu," desak Cokro.

 

"Iya, iya. Bawel amat."

 

Kukeluarkan anting itu dari plastiknya. Kira-kira sudah hampir tiga tahun aku menyimpannya sejak dari SMK dulu. Keraguan kembali menyeruak, aku hanya memandangi antingnya yang kini tergeletak di telapak tangan.

 

"Mau aku pasangin?" tawar Masha.

 

"Enggak usah." 

 

Kubulatkan tekad. Setengah menahan buncahan desiran adrenalin. Aku memasang kembali anting itu ke lubang tindik di telinga. Lubang tindiknya masih pas meski bertahun-tahun kubiarkan begitu saja. Dan ... anting dengan mata kunai kembali tersemat di sana. Perlahan kubuka jari-jariku yang menutupinya. Aku  merasa malu ....


Kusingkap rambut. Mereka bertiga belum berkata apapun ketika melihatku memakai anting. Yang ada hanya mata setengah melotot tidak percaya.

 

"Wow. Keren banget kamu, Don." ucap Masha. Ia menutup mulut dengan tangan kanan.

 

"Ntar kamu naksir, lagi." kataku tak acuh sembari menundukkan pandangan, ingin kucopot lagi anting ini. Aku jadi salah tingkah.

 

"Gila-gila. Besok gue mau pasang juga ah."

 

"Jangan, nyesel nanti, Kro." balasku.

 

"Fix, kita jadi nyamar jadi pengamen. Dona pantes banget. Dona akan kita andalkan untuk mencari anak itu. Sementara kita juga ikut mencari informasi," jelas Haris. Sejelas penjelasannya seperti biasa.

 

"Mana bisa? Aku tahu kasus jelasnya aja belum."

 

"Udah, malam ini kami jelaskan lagi, Don. Sekaligus susun rencana plus ini ada beberapa foto yang diberikan pada kita." Haris merogoh saku celananya mengambil bungkusan plastik berisi foto. 

 

"Lha, Masha?"

 

"Aku nginep hari ini."

 

Tenan, Alamat gak beres iki.

 

***

 

 

"Njir-njir. Malu banget rasanya. Mana ada pengamen pakaiannya masih bagus gini." Kutatap kaos putih polos serta celana kargo pendek warna krem yang kukenakan. Sudah pasti dikira pengangguran madesu aku. Belum lagi pakai anting kaya gini.

 

Sedari kami memisahkan diri. Diriku hanya duduk diam di gang antara lapas timur alun-alun dan Blitar Town Square. Di mulut gang ini ada gerobak biru penjual minuman dan rokok. Khas gerobak jaman dulu. Aku duduk di sebelah utaranya, agak jauh.

 

Sesekali kulirik ibu-ibu pedagang yang kira-kira usianya sudah setengah abad, yang kerap kali memandang ke arahku. Mungkin penasaran ngapain ada bocah disitu, mau ngemis tapi kok di gang sepi. 

 

Ada kecrekan dari berbagai tutup botol kugelatakkan di samping kaki. Topi bucket hitam juga hanya aku taruh di atas paha. Sesuai kesepakatan tadi malam. Sebenarnya kami berpencar, berkeliling lalu berpura-pura sebagai pengamen. Sambil memerhatikan siapa tahu perempuan yang dimaksud itu muncul. Katanya dia ngamen di sekitar alun-alun kan. 

 

Aku tahu di sini ada pengamen wanita tunawicara, tapi kayanya udah dewasa sekali. Kalau perempuan itu seumuranku pasti masih terlihat muda. Dia juga baru lima harian ini kabur dari rumah, seharusnya penampilannya belum sedekil anak jalanan asli.

 

Aku mendongak, menatap pagar tinggi di depanku yang ujungnya berhias kawat berduri. Pagar lembaga pemasyarakatan. Kukeluarkan foto dari saku celana. Foto yang kami bagi tadi malam. Sebuah foto selfie seorang perempuan. Berkulit kuning langsat, rambutnya hitam panjang, wajahnya bulat dengan mata lebar yang nampak sayu. Sepertinya itu pembawaan, bukan akibat apapun. Berdasar foto-foto yang lain, perawakan perempuan ini kecil. Kuingat lagi rencana yang telah kami susun tadi malam.

 

 

Sedetik suasana hening. 

 

Haris menggaruk bagian atas alisnya lalu kembali menjelaskan. "Jadi, perempuan ini pura-pura bisu sambil mengamen. Katanya dia punya kenalan di kota, tapi kata kakaknya juga di sisi lain dia ini anak rumahan yang jarang keluar. Mestinya perempuan ini tidak akan nekat pergi ke luar kota atau daerah yang jauh. Mungkin kenalannya itu juga yang mengajaknya mengamen untuk menhindari pencarian keluarganya. Kakaknya tidak tahu persisnya kenalannya ini cewek atau cowok. Tapi mestinya banyak kemungkinan tak terduga lain, makanya kita berpencar di kawasan kota dan sekitarnya. Siapa tahu perempuan itu terlihat lagi."

 

"Kalau belum ketemu juga?" tanya Cokro.

 

"Kita rolling tempat. Pasti ketemu kok. Masalahnya ini mungkin akan lama."

 

Jemariku memilin dagu, memikirkan kemungkinn lain. Menurutku ini akan sulit sekali. “Kalau perempuan itu merubah penampilan? Belum lagi kalau ternyata kenalannya cowok anak jalanan yang bandel? Kayanya ini sulit banget deh, Ris. Terus Masha ikut turun ke jalan?”

 

“Masha sama aku, Don. Coba dulu aja, kita coba dalam seminggu.”

 

Hening. Aku menghela napas berat. Kami berempat terdiam. 

 

Tetes-tetes air meraba kulit, menyadarkanku. Gerimis ukur-ukur

 

Kuputuskan segera bangkit. Masa bodo lah. Kubulatkan tekad, menahan rasa malu. Gak ngurus. Ngamen tipis-tipis aja barangkali nanti ketemu. Nama perempuan itu adalah Irma. Dia bisa saja bohong akan namanya, jadi kupastikan untuk fokus pada ciri-cirinya saja. 

 

Kalau dia merubah penampilan secara dratis, itu yang sulit. Ah, peduli amat, yang penting beraksi dulu.

 

Aku berjalan menuju keramaian orang di trotoar alun-alun. Kupakai topi hingga hampir menutup mata. Begitu orang di depanku mengeluarkan recehan lalu memberikannya padaku. Seketika tanganku gemetaran, kurasakan sesuatu yang tak biasa menjalari seluruh tubuh. Sepertinya ini perasaan tidak enak akan sesuatu atu hanya canggung saja karena mentalku belum terbiasa.

 

Setelah dua, tiga orang, akhirnya kuputuskan berjalan-jalan saja di sekitaran alun-alun. Ke arah barat sampai Pasar Legi. Kembali ke timur areal stasiun. Ke timurnya lagi sampai perempatan. Tidak kutemukan tanda-tanda adanya pengamen perempuan seumuranku. Aku milih kembali ke kosan saja. Selain capek, aku tidak kuat mental!

 

Berangkatnya dari kosan tadi aku jalan kaki, pun sepulangku dari alun-alun ini juga kuputuskan jalan kaki lagi. Itung-itung olahraga meski capek lantaran tidak pernah jalan kaki jauh.

 

***

 

 

Hari kedua, kami berpencar lagi. Sekarang rolling tempat. Enggak sih, justru kami cari tempat baru tepatnya aku pindah ke perempatan kawi. Cokro di perempatan veteran sampai bundaran utara SMKN 1 Blitar, dan Haris-Masha pergi ke terminal. Kami mencoba menyisir beberapa tempat yang biasa di pakai ngamen. Namun, sampai hampir sore, tidak satu pun dari kami yang melihat tanda-tanda adanya seorang perempuan pengamen dengan ciri-ciri yang kami cari. 

 

Sebelum kembali ke kosan, aku sempat bertemu dengan dua anak punk yang baru datang mengamen. Aku tawarkan mereka rokok. Tidak, aku tidak merokok. Sebuah anugerah bagiku adalah kedua temanku juga tidak merokok. Hanya saja aku beli rokok untuk berjaga-jaga jika bertemu dengan pengamen atau anak jalanan lain. 

 

Kedua anak punk itu mengatakan baru kembali dari luar kota. Aku juga diajak nongkrong sebentar bersama teman mereka yang lain. Ada satu orang perempuan. Sayangnya, tak kutemukan perempuan dengan ciri-ciri itu, bahkan yang mirip-mirip pun tidak.  

 

Selain kami, datang lagi dua orang pengamen lain yang ikut nimbrung. Ini pengalaman berharga sih, seumur-umur aku belum pernah seberani ini dekat dengan anak-anak jalanan. Meski awalnya takut, ternyata tidak semua dari mereka “sejahat” yang kupikirkan.

 

Hari ketiga, kami menyebar lebih jauh di beberapa perempatan batas kota dan kabupaten. Hasilnya sama saja. 

 

Pagi hari, hari keempat Pak Kan datang ke kosan kami, meminta kami untuk membantunya menanam bunga dan beberapa pohon baru di pelataran kampus sisi utara yang panas. Kami mengatakan padanya bahwa kami baru bisa bantu selepas Dhuhur. Pak Kan mengiyakan, dan kami melanjutkan pencarian. Lagi-lagi tidak ada perkembangan yang baik. 

 

Aku mulai menduga jangan-jangan perempuan yang kami cari sudah pergi ke luar kota. Atau kalaupun ia masih tetap di kota ini, perempuan itu memutuskan berhenti mengamen karena takut ketahuan dan bersembunyi entah di mana. 

 

“Kurasa ini memang di luar kemampuan kita, deh.” Masha memutar pandangan pada kami bertiga. Ini kata-kata pesimis pertama Masha setelah empat hari lalu semangat memaksaku memakai anting.

 

Sekarang pukul tujuh lima belas malam. Kami baru saja makan mi goreng yang kami masak sendiri di kosan. Sejak pencarian hari pertama, ini kali kedua Masha menginap di kosan. Karena kalau setiap hari menginap di kosan bisa-bisa di grebek kami.

 

Cokro menghembuskan napas seirus. “Apalagi kita mencari orang yang sama sekali tidak kita kenal. Mungkin butuh waktu berbulan-bulan, dan juga harus melibatkan banyak relasi kenalan agar dapet informasinya secara cepat.”

 

Benar apa yang dikatakan Cokro dan Masha. Benar juga kataku dulu. Aku menatap lagi foto-foto yang kami jejer di atas tikar.

 

“Nyerah aja deh,” kataku tidak semangat.

 

“Kita tunggu sampai besok.” Haris masih bersikeras. “Perempuan itu tidak muncul di alun-alun kan? Juga tidak muncul di banyak tempat di perempatan yang biasa ramai pengamen. Beberapa pengamen lain yang kita temui juga tidak melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti ini atau yang mirip dengannya. Jika besok tetap nihil, kita berhenti.” 

 

Hening. Kami semua sama-sama diam.

 

Keesokan harinya, hari kelima pencarian. Aku dan Cokro sepakat bersaama-sama menuju terminal yang biasanya ramai oleh pengamen. Barangkali masih ada peluang. Aku hanya mondar-mandir di sekitaran terminal. Sementara Cokro memilih naik turun bus yang baru datang dan akan berangkat untuk mengamen. Cokro berpikir barangkali dengan caranya itu bisa ketemu perempuan yang kami cari.

 

Sementara Haris-Masha memilih berputar-putar di alun-alun dan sekitarnya. 

 

Akhirnya kuputuskan mengamen lagi. Kudatangi beberapa orang yang baru turun bus, yang tengah duduk di trotoar depan terminal Beberapa di antara mereka pergi setelah memberiku recehan, hingga menyisakan satu orang yang duduk setengah menghadap selatan sambil memainkan ponselnya. Mungkin ia bermaksud menghindari jika ada pengamen. Tapi tidak semudah itu.

 

"Permisi Kak, numpang─" Aku melotot. Hampir saja terlonjak ketika melihat seseorang di depanku. Njir! kenapa di ada di sini. Lagian kenapa aku gak mengenali perawaknnya yang gak asing itu. Duh, kacau!

 

Kayanya bukan cuma aku yang terkejut. Tia juga hampir melonjak kaget. Ia masih melongo tak percaya, menatapku penasaran.

 

"Dona! Kamu ngapain? Jadi peng─"

 

Buru-buru aku sekap mulutnya dengan tangan kanan. Diriku bergerak duduk menjajarinya. Ia berusaha berontak, tapi masih aku tahan sekuat tenaga. Barulah setelah kusadari kami bisa menjadi pusat perhatian beberapa orang yang menatap ke arah kami. Kulepas sekapan tanganku dari mulutnya.        

 

"Maaf, maaf ..."

 

"Ini pelecehan!" Ia setengah berteriak. Mengibaskan tanganku, lantas buru-buru menyeka mulutnya dengan tisu basah, lantas berkumur dengan air mineral yang ia bawa. 

 

"Pelecehanmu i."

 

"Lagian pegang-pegang mulut orang.” Tia masih mengelap mulutnya, kini dengan tisu kering. 

 

“Kamu kenapa, Na, jadi kayak gini? Terjerat pinjol? putus asa? Frustasi sulit cari kerjaan? Terus kenapa anting terkutuk itu kamu pakai lagi? Bukannya kita udah sepakat menyegelnya?"

 

Tak cuma mencercaku dengan pertanyaan. Tia lekas mengeluarkan ponselnya, yang langsung kurebut sebelum terlambat. Ia pasti berniat memfotoku, lantas mengirimnya di gurp alumni SMK, ataupun yang lain. 

 

"Jangan keras-keras kalau ngomong."

 

"Kembaliin!"

 

"Gak. Denger dulu, Tia. Pertama aku gak kenapa-kenapa sama sekali. Kedua, Maafkan aku, segel antingku lepas, jadi ia terbang sendiri ke telingaku. Ketiga, jangan ngobrol di sini, kita cari tempat sepi dulu."

 

Jadi, dulu sewaktu masuk masa PKL di SMK. Ada sepuluh anak di kelas kami yang membandel dan akhirnya membeli anting yang sama. Sebuah anting yang menandakan kebebasan. Dan Tia juga salah satunya. Aku dulu PKL di salah satu hotel besar di luar kota bersama dengan tiga temanku yang lain, tapi tidak bersama Tia. Sisanya, ya menyebar lokasi PKL-nya, kebanyakan di luar kota. Karena jurusan kami adalah Akomodasi Perhotelan. 

 

"Ngapain? Enggak ah." Tia masih menatapku dengan tatapan aneh.

 

"Yaudah, asalkan jangan yang rame."

 

Kami geser tempat di dalam terminal sisi utara. Aku kemudian menjelaskan semuanya pada Tia mengenai apa yang kulakukan beberapa hari ini. Tia paham, tapi ia masih saja memandangku aneh. Kuberikan lagi ponselnya yang tadi kurebut. 

 

Tia ternyata baru saja pulang dari luar kota menaiki bus. Dia masih menunggu ojek online pesanannya tiba tadi sewaktu aku menghampirinya.

 

Tak berselang lama setelah ponselnya kukembalikan. Tia tiba-tiba mengarahkannya lagi ke arahku. 

 

“Terserah, deh.” Aku berpalig muka. Gak mood.  Kuputuskan untuk berdiri, sepertinya aku pilih kembali ke kosan lagi hari ini. Mencari anak hilang di jalanan, sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Ini masalah serius, aku gak habis pikir kenapa tiga orang temanku itu menerimanya. Kalau sampai perempuan yang kami cari ketemu, aku akan minta bagian lebih banyak.

 

Kulirik Tia menurunkan kembali ponselnya. Barangakali dia merasa kasihan, jadi mengurungkan niatnya untuk memfotoku. Aku tak peduli, kuteruskan saja melangkah.

 

“Dah makan belum?”

 

Langkahku terhenti oleh pertanyaannya. Jujur aku sudah lapar lagi sih. Kami hanya terfokus dengan masalah ini sampai-sampai tidak terlalu memikirkan apa yang kami makan setiap sarapan beberapa hari ini. Aku berbalik.

 

Tia tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangku. “Nih, ada roti. Tinggal setengahnya aja tapi. Mau?” 

 

Aku ambil sebungkus roti cokelat pisang itu. Lumayanlah meski cuma setengah. “Makasih, Ya.”

 

Sedetik kemudian telingaku menangkap teriakan Cokro. Aku mencari sumber suara. Cokro ada di selatan, melambai ke arahku. Aku pamit ke Tia, dan dia juga mau pergi karena ojek online-nya ternyata sudah datang.

 

"Siapa?" tanya Cokro menatap arah belakangku begitu aku menghampirinya.

 

"Temen." 

 

Tanganku masih menggenggam roti pemberian Tia. Kusadari mata Cokro melihat ke arah roti yang kugenggam. Segera saja kukeluarkan setengah roti tadi, lalu langsung melahapnya hingga memenuhi rongga mulut.

 

"Kusumpahin kenyang, Don! Kebangetan."

 

Aku masih susah payah mengunyah, lalu dengan cepat segera kutelan. 

 

"Lah, bener, Kro."

 

Cokro membuang tatapan ngambek. 

 

"Lihat deh, Don," telunjuk Cokro terarah ke trotoar di selatan, aku mengikuti arahnya, "ada dua orang perempuan baru turun dari bus, bawa ukulele ama kecrekan. Pakaiannya lusuh, mereka pasti pengamen. Kita samperin yuk."

 

Kupicingkan mata, mengamati dua perempuan yang ditunjuk Cokro. Hmm, kayanya salah satu dari mereka terlihat lebih dewasa dari kami. Kukode Cokro untuk beli beberapa bungkus roti dan air mineral gelasan dulu sebelum ke sana.

 

Kami lalu langsung menghampiri mereka yang terkejut dan hendak melangkah pergi, sebelum keduluan kami yang langsung nimbrung begitu saja. SKSD.

 

Aku dan Cokro lalu memperkenalkan diri, mengatakan bahwa kami juga pengamen. Satu yang membuatku dan Cokro tak kalah terkejut adalah, kedua perempuan pengamen di depan kami ini ternyata tunawicara. Mereka juga memperkenalkan diri secara tidak jelas dengan gerakan tangan yang tidak kupahami. 

 

Salah satu dari mereka yang rambutnya diikat kuncir, yang menurutku lebih dewasa dari kami, mengambil kerikil lalu menulis namanya dan nama temannya yang mengenakan topi hitam terbalik yang nampak masih bocah, di atas trotoar. Tulisannya tidak terlihat jelas, apalagi bentuknya juga kurang mendukung untuk disebut huruf. Kupicingkan mata. Hmm, Ziya dan Nika.

 

Aku menggerakkan tangan menunjuk telinga, lalu melambaikan tangan di depan wajah. Bermaksud apakah mereka berdua tuli. Ternyata hanya Nika yang tuli, sementara Ziya masih bisa mendengar, meski sepertinya ia mengakatan bahwa pendengarannya tidak terlalu baik.

 

Kutatap mereka sebentar-sebentar sembari mengobrol meski aku tetap kurang paham dengan apa yang mereka jelaskan. Setidaknya aku mengerti beberapa maksud mereka. Katanya mereka baru kembali dari Malang. Beberapa hari sekali mereka selalu pergi mengamen ke luar kota. Diantara kedua perempuan ini menurutku tidak ada yang mempunyai ciri-ciri seperti Irma.

 

Kami kemudian menawarkan roti dan air yang kami beli. Ada keraguan di wajah Ziya dan Nika. Ya, gimana gak ragu jika tiba-tiba ada orang asing SKSD nawarin makan. Aku dan Cokro meyakinkannya dengan mendahului makan roti yang kami beli. Barulah mereka mau ikut makan. 

 

Ketika kami tengah menikmati makanan, Ziya melambai ke arah belakang. Aku dan Cokro serempak menoleh. Ternyata ada satu lagi teman mereka. Memakai topi putih dengan potongan rambut setelinga yang mirip seperti laki-laki. Dia juga membawa ukulele. 

 

Perempuan berperawakan kecil itu sempat ragu ketika melihat kami, tapi Ziya tetap meyakinkannya untuk nimbrung. Begitu dekat, terlihat sebuah plaster luka menempel di pipi kanannya. Perempuan ini menyalami kami sambil diam. Ia kemudian duduk di samping temannya, lantas menggerak-gerakkan tangan sembari berbicara tidak jelas. Apa? Perempuan ini juga tunawicara?

 

Sama seperti kedua temannya, dia memperkenalkan diri dengan menggores kerikil di lantai trotoar. Ini lagi hurufnya juga tidak terlalu jelas. Sepertinya Cleo, ya namanya Cleo. Nama yang bagus. 

 

Penampilan mereka bertiga begitu sederhana serta nampak lusuh. Menggambarkan anak jalanan sekali. Aku menanyakan hal yang sama pada Cleo, apakah ia tuli. Tapi Cleo juga menjawab tidak. 

 

Cleo berusaha menjelaskan bahwa pendengarannya normal, tapi ia memang kesulitan berbicara dari kecil. Ya, memang tidak semua orang tunawicara pasti tuli sih. Bisa saja ada faktor lain yang menyebabkan mereka sulit berbicara. Tetanggaku ada yang kasusnya serupa dengan Cleo. Kesulitan berbiara meski semuanya normal.

 

Kami bercengkrama beberapa saat, sebelum kulihat Cokro menepuk-nepuk kantong celananya. Aku tidak mengerti apa maksud anak ini.

 

Eh ... masing-masing dari kami menyimpan foto perempuan yang kami cari di saku celana. Kucuri-curi pandang pada Cleo. Memerhatikan apa ia memiliki ciri-ciri perempuan yang kami cari. Wajahnya terlihat lebih kusam dengan beberapa jerawat. Kucoba memperhatikannya lamat-lamat. Sedikit mirip. Sayangnya tidak ada ciri khusus di wajah si Irma ini. Jadi bisa saja orang lain akan terlihat mirip dengannya.

 

Jika benar, aku harus menandai tempat-tempat di mana mereka bertiga biasa mengamen. Saat kutanya apa mereka akan berangkat mengamen ke Malang atau luar kota lagi, Nika menjelaskan mereka akan di Blitar saja beberapa hari. Mereka bertiga memang asli Blitar.

 

Sudah hampir sore, aku dan Cokro memutuskan kembali ke kosan. Malamnya kami menceritakan pada Haris dan Masha bahwa ada seorang perempuan yang kami duga itu adalah Irma. 

 

Keesokannya lagi, kami kembali menuju ke terminal. Mengamen sebentar, yang tanpa kusadari seolah aku sudah bisa menikmatinya. Njir, gini amat rasanya totalitas. 

 

Ternyata ketiga perempuan itu masih di sekitar sini, dan juga masih mengamen di sekitar terminal. Tak kusangka ketika kami beristirahat mereka ganti membawakan sebungkus roti dan air. 

 

Hingga selama tiga hari setelahnya, aku dan Cokro kerap nimbrung bersama mereka di terminal. Hari kedelapan pencarian ini, kami jadi cukup akrab satu sama lain. 

 

Ini mengejutkan. Sesutau yang menurutku bisa menuntungkan kami.

 

Di antara mereka bertiga, Ziya sesuai dugaanku, memang lebih tua, bahkan dibanding kami juga. Selisih tiga tahun di atas kami. Nika masih delapan belas tahun, dan Cleo yang satu-satunya seumuran dengan kami. 

 

Dugaanku ke Cleo semakin menguat. Dengan beberapa ciri yang terlihat sesuai. Namun, aku dan Cokro masih menduga-duga karena kadang aku merasa ia mirip dengan Irma dan kadang sepertinya tidak. Penampilannya yang berbeda drastis membuat kami kadang ragu. 

 

Setelah kemarin ia menempelkan plaster luka di pipi kanan. Hari ini ada satu plester luka lagi di pipi kiri. Kedua plester itu baru. Aku bertanya padanya kenapa ada plester luka, ia mengatakan pipinya memang terluka. Cleo tidak mau menjelaskan lebih lanjut.

 

Apa mereka punya bos? Mengalami kekerasan? Dianiyaya? Ditambah ia tidak pernah melepas topinya sama sekali setiap kali kami bertemu. Ziya dan Nika juga seolah tak mau tahu kenapa Cleo menempelkan dua plester luka di pipinya. Adanya plester itu semakin membuatku sulit menebak-nebak.

 

Pencarian kami sudah sangat memakan banyak waktu. Sebelum berpisah, aku menawarkan Cleo untuk menemaniku mengamen di alun-alun. Hanya Cleo. Kedua temannya menyikut lengan Cleo─menggodanya. Cleo hanya senyum-senyum salah tingkah. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Cokro padaku. 

 

Sebenarnya aku sangat malu dengan keputusan ini. Masa bodoh, lah. Ini improviasasiku sendiri. Sepertinya harus cepat diselesaikan. Jadi sebelum kujelaskan nanti malam, mungkin Cokro menganggapku baper. 

 

Cleo mengangguk malu-malu menerima tawaranku, dan langsung menarik kedua temannya pergi menjauh. Semudah ini?

 

***.

 

 

"Hai." Aku tersenyum begitu melihat Cleo berjalan ke arahku.

 

Masih pagi. Pukul sembilan lebih sedikit. Untuk hari kesembilan ini, aku mengantoni ponsel everboss seukuran korek milik Cokro. Aku bahkan tidak tahu everboss punya varian ponsel sekecil ini. Jadi dengan memanaatkan bonus telepon sesama operator. Haris, Masha, dan Cokro yang menunggu di dalam alun-alun, akan memantau pembicaraan kami lewat telepon ini.

 

"I ...." Ia menyahut sambil melambaikan tangan, kemudian duduk di sampingku.

 

Kusodorkan roti seribuan padanya. Aku tadi beli dua, satu sudah kumakan, lalu masih sisa satu. Cleo menerimanya dengan senang. Setidaknya itu yang aku tangkap. Ia segera membukanya serta melahapnya seperti ia baru makan roti saat ini seumur hidupnya. Sama seperti kemarin-kemarin saat kami makan roti di terminal.

 

"Cleo ...." Ia menoleh sambil tetap mengunyah. "Tidak, tepatnya, Irma."

 

Raut muka anak ini langsung berubah. Setengah terkejut, ia seperti menahannya sekuat tenaga lalu memasang ekspresi seolah "Apa yang kau katakan."

 

"Bicaralah, roti ini enak atau tidak?"

 

"A ... A- a i a." Cleo menggeleng-geleng. Ia bersikeras seolah tetap tidak  bisa bicara. 

 

Aku menatapnya aneh. Di kedua pipinya masih tertempel plaster luka. “Jangan memaksakan diri, Irma. Kau tidak lelah berpura-pura?”

 

Cleo kini diam, lalu menggeleng lagi. “I a ... ua n.”

 

Ha? Jangan-jangan dia memang bukan si Irma lagi. Aduh gimana ini. Terpaksa lah aku memintanya menunggu sebentar di sini, sementara aku berlari menuju toko buku di timur alun-alun. Kembali dengan sebuah buku dan bolpoin. Agar Cleo bisa lebih mudah menjelaskan daripada aku tidak paham penjelasannya. Masih sambil berlari aku memberitahukan pada tiga temanku untuk tetap mennunggu di dalam alun-alun. 

 

Setelah kembali, masih sambil terengah mengatru napas, kuserahkan buku tulis pada Cleo. Ia lantas segera menulis, lalu menyerahkannya kembali padaku. Njir, dibanding tulisannya di trotoar waktu itu, ternyata tulisan aslinya dalam buku jelek banget, mirip tulisan Thailand yang membuatku sedikit kesulitan membacanya.

 

Aku Cleo, bukan Irma.

 

“Yang bener, ada KTP?” tanyaku memastikan.

 

Cleo menggeleng. Ia memutar ukulelenya, lalu menunjukkan bagian belakangnya. Tertulis sebuh nama, Cleo. 

 

Sial! Kuminta Cleo membuka topi. Setelahnya baru terlihat jelas, dan ternyata benar,Cleo hanya sekedar mirip dengan si Irma ini. 

 

Melihatku kebingungan, Cleo meminta kembali buku tadi, lalu menuliskan sesuatu lagi di dalamnya.

 

Aku tahu Irma, dia temanku, tapi sekarang dia ada di luar kota.

 

Apa? Bagaimana bisa? 

 

“Di kota mana?” tanyaku buru-buru.

 

Cleo menggeleng. Kusodorkan lagi buku itu, dia tidak mau menulis. Sepertinya Cleo memilih tutup mulut untuk ini. Kutawakan sejumlah uang nanti jika ia mau memberi tahu, tapi Cleo tetap pada pendiriannya. 

 

Ia sekarang ganti menatapku aneh dan ... seperti ada raut ketakutan di balik wajahnya. Tiba-tiba Cleo lekas berdiri, melangkah pergi. Segera kutahan tangannya. Namun, Cleo berusaha berontak.

 

“Tunggu, maaf-maaf. Aku tidak bermaksud apapun. Tunggu sebentar aku masih mau bicara sesuatu.”

 

Ia berbalik, matanya nampak berkaca-kaca. 

 

“Aku hanya orang suruhan untuk mencari Irma ini. Jika dirimu bukan Irma, dan Irma ternyata temanmu, baik tidak mengapa. Aku akan mengatakan bahwa Irma sudah pergi dari kota ini.”

 

Cleo menarik paksa tangannya dengan kasar, lalu memeganginya. Ia tidak segera pergi, dan hanya menatapku dalam diam.

 

“Maafkan aku.”

 

Cleo masih menatapku dalam diam. Ia kemudian berbalik dan lekas melangkah pergi.

 

“Tunggu, aku mau bertanya. Kenapa kau mau menemuiku di sini?” tanyaku setengah berteriak, mungkin Cleo tidak akan peduli.

 

Langkah Cleo tiba-tiba terhenti, ia berbalik badan sebentar. Dari kejauhan wajahnya terlihat memerah, ia menatapku sebentar, lantas membuang tatapannya ke tanah. Lalu segera mempercepat langkahnya setengah berlari menenteng ukulelenya.

 

Apa maksud ekspresinya barusan. Aku sempat ingin mengejarnya, tapi, dahlah ....

 

***

 

 

Sesampainya di kosan, sedikit kujaskan lagi pada ketiga temanku bagaimana jelasnya tadi. Karena kurasa pembicaraan kami dari telepon pasti tidak jelas. Mereka bertiga mafhum. 

 

Seorang yang bertengkar dengan keluarganya, kemungkinan terburuk pasti akan pergi menjauh, sejauh mungkin. Kakak Irma yang datang ke kosan setelah kami jelaskan hasil kami sembilan hari ini juga tidak banyak berkomentar, ia hanya mengatakan permintaan maaf karena sudah merepotkan. Permasalahan dengan adiknya ini, akan coba ia selesaikan sendiri. 

 

Setelahnya kami berempat teremenung, saling berpikir bahwa kasus kali ini, memang di luar kemampuan kami. Kedepannya kami akan lebih selektif menerima permintaan bantuan. Aku memejamkan mata, menarik napas. Terputar lagi di kepalaku kata-kata bocah anggota LPM waktu itu. Kurasa bocah itu benar. Kami hanyalah anak gabut yang menjual jasa amatiran.

 

No comments:

Pages