Project-S Chapter #3 - FLP Blitar

Project-S Chapter #3

Bagikan




Oleh Abi Subekti

 

 

 

 

#3 – Bertukar HP

27-30 Juni 2019

-Ditulis oleh Pradito Haris Ahmad

 

 

Pagi itu cuaca sedang cerah dengan hembusan angin sepoi-sepoi menjamah tubuhku penuh kelembutan. Kemarin kuputuskan menginap lagi di kosan. Cokro masih mandi di dalam dan Dona merapikan rambut dengan tangan sembari bersiul. Sementara aku berdiri di jalanan gang yang sepi sambil meregangkan badanku yang terasa kaku. Udara terasa segar memasuki lubang hidung. Masha bilang akan ke kosan agak siang karena ada urusan. Katanya ia bosan karena hanya nganggur di kos.

 

Tiga hari ini kami belum mendapatkan permintaan bantuan satu pun. Jadi banyak waktu hanya kami habiskan dengan membaca, bermain game, berdiskusi ngalor-ngidul sampai lewat tengah malam, dan sesekali main bulu tangkis di halaman depan kampus yang sepi.

 

"Jadi Ris?" Pertanyaan Dona membuatku menoleh ke arahnya dengan tiba-tiba.

 

"Naik sepeda atau motor?" Aku ganti melempar tanya. 

 

Dona telah rapi dengan celana joger hitam berpadu hodie abu-abu. Sekarang pukul delapan, dan kami rencanaya mau membeli beberapa lauk di kota untuk sarapan.

  

"Sepeda aja kayak biasa," sahut Dona berbinar. Tak lama kemudian, ia berbalik ke dalam mengambil sepeda kesayangan kami.

 

Aku lekas melangkah menuju teras sebelum seseorang melempar salam yang kemudian refleks aku jawab. Pak Kan. Pegawai UIB bagian sarpras. Ia berjalan menuju ke arahku dengan senyum terkembang menghiasi wajah paruh bayanya.

 

"Wah, wah, aku dengar kalian buka jasa bantu-bantu ya?"

 

"Hehe iya Pak. Monggo pinarak," jawabku canggung. Aku segera menuntunnya untuk masuk ke kosan. Bersamaan sebelum kami masuk Dona keluar menuntun sepeda. Setelah kuberitahu bahwa Pak Kan ada perlu, ia kemudian menyandarkan sepedanya di dinding teras lalu mengikuti kami masuk ke dalam.

 

Pak Kan bercerita bahwa ia sedang membutuhkan pekerja untuk membantunya mengecat tembok luar ruang kuliah, di lantai dua. Sebelumnya kami bertanya mengapa ia tidak mencari tukang saja. Pak Kan menjelaskan bahwa dinding yang dicat tidak terlalu banyak. Hanya deret ruang kuliah lantai dua sebelah selatan. Ada enam ruang, apalagi pengecataannya hanya di tembok bagian luar saja, karena warnanya sudah mulai pudar dibanding yang lain. 

 

Perkiraan Pak Kan, kemungkinan dua hari sudah selesai. Pekerjaannya juga tergolong ringan. Kalau menyewa tukang akan lebih mahal. Jadi Pak Kan mencoba menawarkan kami pekerjaan ini. Yah, kupikir cukup menarik, tetapi jika membayar tukang profesional mahal lantas kami akan dibayar berapa. 

 

"Delapan puluh ribu per hari. Kerja dua hari gimana? Langsung cair kok. Kalau tukang bisa sampai sembilan limaan. Kan kalian juga bisa sambil belajar, cuma ngecat tipis-tipis. Tempatnya juga teduh, kerjanya gak panas." Pak Kan menawarkan dengan sumringah. Aku tahu ia mencoba merayu kami. Menurutku bukannya anggaran dari kampus pasti cukup ya untuk bayar tukang profesional.

 

"Delapan puluh lima pripun Pak?" Terdengar suara Cokro dari ruang tengah. sedetik kemudian dia muncul dari balik kelambu. Rambut ikalnya masih basah. Aroma wangi sabun memenuhi ruang tamu. "Tenang, nanti bapak suruh beli cat kami siap, jadi Bapak hemat tenaga gak usah keluar. Bapak suruh beli kuasnya sekalian kami siap, Bapak bisa hemat bensin buat wira-wiri." Cokro menjelaskan sembari kedua tangannya bergerak kekanan kiri.

 

Pak Kan hanya tersenyum melihat ini bocah tiba-tiba nimbrung pembicaraan. "Kuas, cat, tiner, bak, koran bekas semua sudah tak belikan. Tinggal kerja tok."

 

Cokro tiba-tiba menyalami Pak Kan. "Oke deal, delapan puluh plus sarapan dan makan siang. Nasi pecel gak masalah yang penting porsi besar kerja lancar." 

 

"Eh eh eh. Mbok kiro mblantik dal deal dal deal," tukas Dona keheranan.

 

"Tahu si Cokro ...." Aku juga sedikit kesal dengan kesepakatannya yang sepihak.

 

Pak Kan sedikit tertawa melihat tingkah kami. "Kerjanya mulai hari ini bisa. Kalau ternyata dua hari belum kelar boleh maksimal tiga hari. Bayaran tetap konsumsi juga tetap."

 

Dona berteriak sambil beranjak dari kursi. "Gas!" 

 

Aku tolah toleh mentap Cokro dan Dona bergantian dengan senyum kecut. Lumayanlah ada cuan.

 

 

***

 

 

Hari itu juga kami segera mengerjakan apa yang diminta Pak Kan. Mengecat tembok ruang kuliah. Kampus kami tidak terlalu besar. Gedung utamanya berbentuk tapal kuda tiga lantai. Gedung utama ini menghadap utara, pas menghadap jalan Majapahit. 

 

Sementara di sisi barat terdapat empat deretan ruang kuliah. Satu deret menghadap selatan dengan halaman parkir berpaving. Sementara tiga deret lainnya berada di seberangnya saling berhadapan, memanjang dari utara ke selatan. Di areal paling selatan ada dua buah greenhouse milik Fakultas Pertanian, dimana kontur lokasinya berada agak di bawah. Di depan dan belakangnya, sampai di sisi timur kampus terdapat persawahan warga.

 

Bagian yang kami cat adalah deret ruang kuliah di lantai dua yang menghadap utara, yang merupakan bagian dari gedung utama tadi. Jadi menurutku waktu dua hari untuk mengecat ruangan ini lebih dari cukup. Namun, Pak Kan mengatakan ruangannya harus di cat tiga kali lapisan. Dasar-warna-warna. Jadi kemungkinan bisa saja sampai tiga hari. 

 

Awalnya kami bertiga membagi bagian sama rata. Mengecat bagain depan terlebih dulu dengan roll yang disambungkan tongkat besi. Setelah cat dasar rata menutupi setiap jengkal tembok, aku pindah mengecat bagian belakang. Dona mengecat sisi kiri. Sisi kiri dari arah kami yang menghadap selatan. Lalu Cokro mengecat sisi kanan. Sisi kanan ini cukup dekat dengan atap ruang kuliah bagian barat. Dimana di belakangnya, atau di bawah lantai dua ini terdapat selokan kecil. 

 

Pekerjaan kedua hampir selesai sebelum teriakan Cokro menghentikan kami. Aku dan Dona bergegas mengahmpiri asal suara. Cokro menunjuk bawah tepat di gap antara gedung utama dan ruang kuliah barat, di samping selokan, sebuah hp tergeletak di sana. Entah masih berfungsi atau tidak. Cokro memutuskan untuk turun mengambil itu hp. Ia kemudian cepat-cepat naik lagi. ternyata masih berfungsi, tapi tidak ada kejelasan siapa si empunya ponsel karena wallpaper layar kuncinya bawaan ponsel. 

 

Seperti umumnya hp saat ini, hp-nya terkunci dengan kode angka. Tampilan control centernya tidak bisa dibuka ketika layar terkunci. Terlihat dari indikasi samping sinyal, data selular maupun sambungan wifi di ponselnya tidak aktif.

 

Kami bertiga berdiskusi cukup lama di tengah pekerjaan mengecat yang belum selesai mengenai ini. Apakah ponsel temuan ini akan kami serahkan ke pihak kampus atau akan kami lacak sendiri. Hingga akhirnya kami memutuskan menuntaskan dulu pekerjaan, lalu menyimpan ponselnya di kosan.

 

 

*** 

 

 

Keesokan harinya. 

 

“Ada info mahasiswi akuntansi kehilangan ponsel di kampus. Barangkali ponselnya punya dia. Kebetulan aku kenal, jadi coba kuhubungi temannya saja,” ucap Dona sembari kami berjalan di aula terbuka kampus, matanya menatap layar hp di genggaman.

 

Aku dan Cokro mengangguk ringan. “Eh, katanya kamu kenal Don, kok yang dihubungi temennya?” sahutku. Kedua tanganku menenteng dua buah ember cat. Cokro membawa tiga buah tongkat roll kami di pundak kanan, dengan tangan kiri menenteng ember berisi kuas-kuas beragam ukuran. Sementara Dona, aku baru sadar dia tidak membawa apa-apa. 

 

“Ya sama aja kan─”

 

“Dona!” Terdengar teriakan perempuan dari belakang kami. 

 

Kami bertiga menoleh, Masha bersama seorang perempuan seumuran kami. Kemungkinan mereka dari kosan. Karena Masha selalu datang siang akhir-akhir ini, jadi keduanya pasti menyusul kami ke kampus.

 

Kuwi sing tak maksud bocahe.” Dona memelankan suaranya.

 

Lumayan tibake Don,” balas Cokro. 

 

Perempuan yang berteriak tadi berjilbab hitam, berpadu dengan atasan rajut putih dengan rok span yang senada dengan jilbabnya. Bahu kirinya tersampir tote bag hijau lumut. Dari wajahnya yang oriental, ia seperti tidak berasal dari kota ini.  

 

Kami memutuskan kembali ke kosan terlebih dulu, menangguhkan pekerjaan yang mungkin akan kami kerjakan sampai lembur demi target selesai dalam tiga hari. Setelah kami tunjukkan hp temuan kemarin, ternyata itu bukan miliknya. Diluar dugaanku, perempuan yang mengenalkan dirinya bernama Aika itu ternyata fasih berbahasa Jawa.

 

Tenan Ai diinginane terakhir kok gowo ndek kampus?” tanya Dona pada kenalannya itu.

 

Ai mengangguk. “Tenan, wes tak lebokno tas sak elengku. Aku baru aja kumpul sama temen-temen sekelas buat bahas tugas kelompok. Lalu kami memutuskan ketemuan di kampus aja lebih kondusif. Ponselnya baru aja aku pakai buka data tugas. Soalnya ponsel  itu aku khususkan buat menyimpan data aja. Data penting-penting lagi.” Raut muka Ai cemas. “Aku yakin udah aku masukin tas, dan kami kumpul ya di situ lokasinya. Depan kelas barat lantai dua.

 

“Aku coba tanya-tanya temen prodi lain gak ada tuh yang kehilangan ponsel.” sahut Masha yang kemudian mengedarkan pandangannya pada kami berempat yang masing-masing duduk di kursi ruang tamu.

 

“Jangan-jangan kasusnya sama, si pemilik hp ini,” Cokro menunjuk hp temuan kami yang tergeletak di atas meja, “juga punya beberapa ponsel sama kaya Ai, terus belum sadar kalo hp-nya jatuh.” 

 

Kami semua terdiam. Ada benarnya apa yang dikatakan Cokro. Aku menawarkan opsi. “Kita bawa ke konter saja ponselnya. Kita buka kuncinya biar tahu siapa pemilik hp ini.” 

 

Masha menatapku. “Bukannya melanggar privasi orang?”     

 

“Ada sebuah hp hilang dengan dugaan lokasi yang sama dengan penemuan ini hp. Namun hp yang dimaksud tidak ditemukan, malah ada hp lain tergeletak di situ. Ada pemilik hp yang melapor kehilangan, ada juga yang kemungkinan belum sadar jika ia kehilangan. Cara tercepat adalah kita sadarkan paksa pemiliknya ini dengan membuka pengamannya. Satu tempat dua kejadian, jika ia lewat atau berdiri di lantai atas juga seperti Mbak Ai─”

 

“Ai saja.” Perempuan itu tersenyum canggung.

 

“Ya, ya ... Ai. Jika pemilik ini lewat di bawah atau berdiri di lantai atas juga ada kemungkinan ia seharusnya melihat adanya hp lain. Jika hp jatuh dari atas seharusnnya ada suara, dan layarnya kemungkinan besar pecah karena posisinya di pinggiran selokan yang berlantai semen. Jadi ini perbedaan kenapa Ai tidak mendengar suara hp jatuh, karena kemungkinan jatuhnya tepat di tengah selokan yang terisi rumput dan tanah. Pemilik hp ini kemungkinan bisa memberi petunjuk dimana keberadaan ponsel Ai. Atau kemungkinan lain adalah di lokasi dia tidak melihat adanya hp yang lain karena sudah diambil orang lantas dirinya sendiri tidak sadar kalau hp miliknya jatuh.”

 

“Gila, gila kesurupan apa lu Ris,” Cokro beranjak dari duduknya di depanku, mendekat lalu menepuk-nepuk pipiku dengan kedua tangannya, “kesurupan Shareloc Homes lu.”

 

“Sherlock Holmes kali,” timpal Masha dan Ai bersamaan.

 

“Oke, kamu tunggu kabar selanjutnya aja Ai. Kami urus ini dulu. Kamu tanya-tanya ke teman di prodi lain juga, kalau gak salah ruangan itu kan kelas peternakan. Barangkali ada yang nemu.” Dona mengakhiri penjelasannya dengan menyerahkan hp temuan kami di atas meja tadi kepadaku.

 

Ai tersnyum. “Makasih ya Dona, terima kasih juga semuanya.” 

 

Wajah oriental Ai yang terbalut jilbab sederhananya sempat menyihir pandanganku. Kata Dona, Ai memang keturuan Jepang dari jalur ayahnya, yang diturunkan dari kakeknya. Meski begitu ia dan ayahnya tidak pernah tahu seperti apa tanah leluhur mereka di sana. Karena sedari kecil mereka tumbuh besar bersama budaya setempat di kota ini. 

 

 

***

 

           

Keesokan harinya, saing hari, 29 Juni.

 

“Kita sudah bayar mahal untuk ini, kalau sampai zonk berabe nih.” 

 

Aku, Dona, dan Masha menatap ke arah Cokro sebentar, lalu mengarahkan pandangan kembali ke ponsel temuan kami di atas tikar lantai. 

 

“Sesuai kesepakatan, jangan buka yang lain selain aplikasi komunikasi, seperti whatsapp, SMS, dan telepon.” Masha mengingatkan kami untuk tidak mengusik privasi orang.

 

Dona menekan angka kode yang telah kami ubah. Hp-nya terbuka, ada banyak aplikasi terpampanng di halaman depan, ini bukanlah hp dengan spesifikasi tinggi. Melihat banyaknya aplikasi terpasang pasti memori internalnya penuh dan kinerjanya lambat. Kami kemudian membuka aplikasi whatsapp, tidak ada apapun. Whatsapp-nya kosong, belum didaftarkan ke nomor manapun, bagian SMS panggilan serta daftar nomor telepon juga kosong. Namun, nomor yang terpasang di ponsel ini masih aktif. 

 

Wah tenan!” teriak Cokro. Sementara aku dan Masha sudah kehilangan semangat.

 

“Bentar-bentar, ada chat dari Ai. Ia ngirim foto bahwa teman sekelasnya membuang ponsel Samsun Galakji M-XII bekas, di selokan belakang ruang kelas barat, yang baru dibelinya karena ada teror masuk ke nomornya bahwa ponsel itu ternyata hasil curian. Sementara orang yang menjualnya udah gak bisa dihubungi atau dicari batang hidungnya, ia beli dari penjual di facebook. Katanya, temannya tidak membuangnya dari atas, tapi digeletakkan begitu saja, dan dia tidak melihat adanya ponsel lain di situ.” 

 

“Terus gimana nih, hp-nya yang kita temu lagi.” Cokro terkesiap mendengarnya, hp yang kami temukan malah hp curian, tidak jelas lagi asal-usulnya. 

 

“Kita ... kita serahin ke polsek aja.” Masha sedikit panik.

 

“Enggak, kita broadcast besar-besaran di facebook sama medsos lain. Karena kita yang nemu, pemilik asli boleh ngambil di sini. Dan kita pertemukan dengan teman Ai yang membelinya. Ia telah kehilangan uang untuk membeli barang yang tidak ia ketahui ternyata hasil curian. Aku yakin pemilik aslinya akan bersikap bijaksana.” kataku menawarkan opsi lain.

 

“Tapi Ris ...” sahut Dona ragu.

 

“Kita coba Don.”

 

Semunya jadi bingung. Kami terdaim sejenak. 

 

“Tunggu-tunggu,” ucapan Dona menyita perhatian kami. Kami menoleh ke arahnya, “Ai chat lagi, katanya ada seseorang yang menemukan ponsel miliknya. Ia mengajak Ai untuk ketemuan di kampus, di lantai dua tempat ia kira-kira menjatuhkan ponsel. Ai lalu meminta kita mengawasi pertemuan itu,” pungkas Dona kemudian. 

 

“Kapan?” tanyaku.

 

“Besok, pukul sebelas siang.”

 

Mendadak sekali. 



*** 

 

 

Keesokan harinya tiba. 30 Juni. Kami telah berkoordinasi dengan Ai dimana tempat kami akan bersembunyi mengawasi mereka. Aku dan Dona akan bersembunyi di balkon belakang ruang kuliah. Hanya lima langkah dari tempat mereka bertemu nantinya. 

 

Sementara Cokro dan Masha mengawasi dari tangga di balik tembok. Sebelumnya mereka akan berpura-pura mengerjakan sesuatu, duduk di kursi panjang depan ruangan lantai dua yang menghadap timur. Ketika liburan, hanya beberapa mahasiswa tertentu saja yang berada di kampus. Mahasiswa yang aktif di UKM, Himaprodi, ataupun yang berkepentingan biasanya akan sering datang ke kampus. Karena beberapa staf dan pegawai tetap masuk meski masa liburan. 

 

Pukul sebelas lebih sepuluh. Ai justru datang terlebih dulu. Ia menunggu sambil memainkan ponselnya di pagar tembok lanti dua ini. Lima menit kemudian orang yang dimaksud menampakkan dirinya. Laki-laki, seorang diri. Bercelana jeans briu dipadu dengan jaket denim keabu-abuan. Rambutnya pendek dan parasanya lumayan untuk standar laki-laki pada umumnya. Kelihatannya ia seumuran kami, pastinya juga sama-sama mahasiswa UIB.

 

Setelah puas mengintip-ngintip dari balik tembok aku bertukar posisi dengan Dona. Kini ganti dia yang mengintip pertemuan itu. Kami sebisa mungkin tak bersuara jika tidak perlu.

 

“Maaf ya Ai. Kamu pasti curiga mengapa aku tidak segera memberitahu perihal smartphone-mu ini.”

 

Aku hanya mendengarkan perkataannya. Dilihat dari gaya bicara laki-laki tersebut, sepertinya mereka sudah kenal satu sama lain.

 

“Aku tidak membukanya sama sekali, lagian ini juga dikunci. Jadi waktu itu aku merokok di bawah sana, di samping gedung barat. Kebetulan aku mendengar sesuatu bertumbuk di tanah, ada smartphone jatuh dan kulihat dirimu kemudian berlalu dari atas bersama teman-temanmu. Ketika kuperiksa ternyata benar, ada fotomu sebagai wallpaper, lalu aku simpan. Mungkin kamu tidak sengaja menjatuhkannya saat hendak kamu masukkan tas. 

 

Dona berbisik laki-laki tersebut segera menyerahkan hp milik Ai katanya. Aku segera berjongkok, karena penasaran diriku ikut mengintip dari bawah.

 

“Oh, Maaf-maaf, aku memang ceroboh. Terima kasih banyak ya Mal. Hmmm oh ya, ini bentuk rasa terima kasihku─” Ai menyodorkan amplop dari dalam tas slempangnya, namun oleh laki-laki yang dipanggil Mal itu ditepis. Aku menjamin dugaanku benar, mereka sudah saling mengenal. Mungkin teman semasa sekolah dulu, atau mungkin teman beda prodi.

 

“Tidak, tidak perlu Ai. Maaf bukan apa-apa. Aku ...,” ia membuanng pandangan ke segala arah. Membuat aku dan Dona buru-buru menarik kepala. Jantungku berdegub kencang semoga ia tak melihat kami, “aku sebenarnya suka padamu Ai.”

 

Senyap. Angin berembus dari selatan menebar udara sejuk yang mengguyur tubuh kami. Menggoyangkan batang pohon jagung serta rimbunan pohon belimbing di sawah timur kampus. Aku hanya menatap barisan pegunungan di ujung selatan cakrawala. Bahkan dirku dan Dona turut terdiam. Dengan hati-hati kami kembali mengintip dari balik tembok.

 

“Maaf,” Ai setengah membungkukkan badan, “aku sudah punya pacar. Bahkan rencananya kami akan bertunangan semester depan.”

 

DUARR!

 

Aku melongo. Kulirik Dona juga demikian. Laki-laki itu terkesiap bukan main. Aku yakin pasti hatinya sakit, jatungnya pasti juga berdegup kencang seolah berusaha menembus dada,  mentalnya hancur, harga dirinya jatuh, rasa malunya menggunung. Tidaaak!

 

“Ah, maaf. Maafkan kelancanganku Ai. Sekali lagi aku  minta maaf. Haha, selamat ya. Semoga semunya lancar dan kalian selalu berbahagia. Aku pamit dulu. Tidak perlu bingkisan terima kasihnya. Bertemu dan menyatakan rasa yang kupendam selama ini sudah membuatku senang. Setidaknya perasaanku kini lega.” Laki-laki itu tersenyum getir. Ia kemudian cepat berbalik badan lantas berlalu pergi dengan kelukaan ini.

 

“Terima kasih sekali lagi Mal.” Ai kembali membungkukkan badan. Dia sopan sekali.

 

Aku melirik Dona yang masih mengintip dari atasku. “Hei Don, apa dirimu punya pacar?”

 

Dona melirik ke bawah, menatapku. “Kalau kujawab iya, apa dirimu akan percaya, Ris?” Dona tersenyum geli. Aku tertawa kecil.

 

 

***

 

 

Sore harinya. Masalah ponsel Ai telah selesai. Sekembalinya laki-laki itu, Ai menjelaskan bahwa namanya Akmal, dia pernah bergabung dengan menwa kampus tapi kemudian tidak melanjutkannya. Jadi Ai mengenalnya dari sana.

 

Sekarang, fokus kami tertuju tertuju pada hp curian yang baru akan diambil pemiliknya besok lusa. Ai baru saja pergi dari kosan setelah mengucapkan terima kasih telah membantunya, lantas memberi kami sebuah amplop. 

 

Dona beranjak ke dapur untuk menyeduh teh dan kopi. Cokro pergi ke konter depan mengisi pulsa. Sementara Masha pergi ke infomaret dekat jalan raya untuk membeli susu uht kesukaannya. 

 

Aku membuka amplop pemberian Ai tadi. Ada secarik kertas tambahan di dalamnya. Dilipatan terluarnya tertulis “Untuk Dona.”

No comments:

Pages