Project-S Chapter #4 - FLP Blitar

Project-S Chapter #4

Bagikan





Oleh Abi Subekti

 

 

#4 – Tim

29 Juni – 6 Juli 2019

-Ditulis oleh Cokro Andi

 

 


 

 


 





***

"Gimana Kro, udah nelpon?" tanya Dona begitu aku keluar dari kamar. Si Dona berdiri di depan televisi. Tangan kirinya menopang pinggul sementara tangan lainnya menggantung di samping badan memegang remot.

 

"Belum," kujawab sekenanya. Dari tadi tangan kiriku sibuk menggaruk rambut pendek ikalku yang terasa begitu gatal. Setiap jemari bahkan kupastikan menyusuri jengkal demi jengkal kulit kepala yang entah kenapa gatal-gatal dari kemarin. Padahal sudah kukeramasi sampai bersih. 

 

Dih, heran aku. Kenapa gatalnya tidak mau hilang. Padahal tadi sewaktu mandi, aku keramas lagi dengan tiga saset sampo sekaligus. Sampai-sampai tidak hanya rambutku yang penuh busa. Seluruh kepala dan wajahku pun berbusa-busa. Aku tidak pernah kutuan, ketombe pun jarang. Namun, semenjak kemarin mulai rambutku terasa gatal sekali.

 

"Eh Don, rambutmu gatal gak?" 

 

Dona menoleh kikuk setengah kurang fokus. Tangan kirinya kemudian meraba-raba rambut, lalu menggaruknya perlahan. "Lah lu ingetin, gatel lagi. Rambutku gak pernah kutuan, cuma penuh ketombe aja kadang. Tapi dari kemarin kok gatel, kenapa ya?"

 

“Hmmm.” Aku mendengus, penuh ketombe pantes aja, batinku. “Airnya kali ya Don.”

 

Dona mengangkat kedua bahu tanda tidak tahu. Kemudian tatapannya fokus lagi ke televisi.

 

Masalah hp teman Dona aja belum kelar. Eh kakakku nawarin masalah temannya lagi. Yah, syukur aja sebenarnya, ada kerjaan lagi tapi jika banyak permintaan yang masuk kami juga kewalahan sendiri nantinya.

 

Tadi selepas Isya' Haris memutuskan untuk pulang. Besok siang kami harus menemani Ai menemui orang yang ngaku-ngaku nemuin hpnya. Sungguh kasus yang aneh. Masalah hp aja ribet amat. Lagian hp aja pake dipisah-pisah fungsinya.

 

Aku lalu melangkah ke dapur, membuka tudung saji, segera  kuaangkat sepiring lauk terdiri dari ikan asin dan beberapa gorengan serta nasi yang masih dalam panci rice cooker. Membawanya menuju ruang tengah tempat biasa kami bersantai dan makan.

 

"Makan dulu gih Don."

 

"Oh, ya." Dona kemudian ganti menuju dapur mengambil dua buah piring plus sendok untuk kami berdua.

 

Untuk urusan makan, kami lebih suka masak nasi sendiri lantas membeli lauk dari warung. Selain lebih hemat uang, gas di dapur juga akan awet lebih lama karena hanya digunakan sesekali jika perlu. 

 

Baru saja tiga sendokan bergantian masuk mulut, hpku berdering. Nomor baru, kemungkinan teman kakakku yang menelepon.

 

"Halo," ucapku begitu tombol hijau kupencet.

 

"Halo," balasanya dari seberang telepon. Suara laki-laki terdengar.

 

"Halo, assalamu'alaikum," jawabku kemudian.

 

"Assalamu'alaikum, halo."

 

"Wa'alaikumussalam. Halo."

 

"Halo, halo," balasnya lagi.

 

Dih gimana sih. Aku menjauhkan hp dari telinga. "Hola halo, hola halo thok."

 

"Coba lu matiin Kro, biar dia telepon lagi. Kalau enggak kita yang nelpon balik. Sinyalnya kali." Dona memberi saran selagi ia mengunyah.

 

Aku mengikuti saran Dona. Kumatikan telepon. Tapi sampai kami selesai makan ia belum menelepon lagi. Barulah setelah beres-beres acara makan malam. Aku berinisiatif meneleponnya balik.

 

Dua kali telepon tidak ada respon. Baru yang ketiga kali teleponnya diangkat. Aku langsung uluk salam kemudian jawaban perempuan terdengar dari seberang sambungan. Syukur-syukur sinyalnya bagus. Eh, tadi suara laki-laki.

 

"Benar ini Mas Cokro?" Suara telepon aku keraskan agar kami berdua bisa mendengar lebih  jelas.

 

"Iya Mbak. Dengan Mbak siapa kalau boleh tahu?"

 

"Mbak Eli. Ini Mas, kata Mbak Naya, sampeyan dan teman-temannya bisa membantu ya?"

 

"Membantu apa dulu Mbak?"

 

"Membantu persiapan lomba Mas. Di SD Insan Permata, tempat saya mengajar kan akan ikut festival, dan guru pendamping untuk masing-masing tim hanya stau karena kurang orang. Maklum sekolah swasta yang masih berkembang. Mohon bantuannya ya Mas."

 

Aku dan Dona bersitatap. Kami masih harus menyelesaikan masalah Ai besok. Dona mengatakan untuk menawarkan hari Senin sekalian. Mbak Eli menyetujui. Ia mengatakan akan menjelaskan bagaimana detailnya pada kamu di SD tempat dia mengajar supaya lebih gamblang. 

 

Sekolah Dasar Insan Permata tersebut berlokasi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Blitar. Mbak Eli tadi menjelaskan lombanya masih sepuluh harian lagi, jadi Mbak Eli tidak mau terburu-buru mempersiapkan kontingen sekolahnya. 

 

Percakapan ditelepon kami akhiri. Aku dan Dona kembali bersantai sembari menonton televisi. Ia duduk bersila, sementara aku setengah berbaring menyender tembok.

 

"Wah, sibuk terus iki," kataku.

 

"Haha, asik tho. Berarti project iki berhasil," timpal Dona tanpa mengalihkan tatapannya.

***

 

Senin pagi, 1 Juli 2019. Kami berempat akhirnya menemui Mbak Eli di SD tempatnya mengajar. Sebuah SD dari sekian banyak SD swasta lain di Blitar. Lokasi SD ini terbilang cukup jauh dari kosan kami. Karena terletak hampir di pinggiran kota bagain barat, hampir perbatasan dengan wilayah kabupaten.

 

Kami menunggu hampir setengah jam di parkiran motor dalam SD. Hari ini cuaca terasa panas meski di bawah pohon, ditambah tidak ada hembusan angin. Aku merasakan keringat turun dari balik kaos yang kukenakan, gerah sekali rasanya, sampai-sampai helmku kukipas-kipaskan supaya ada udara sejuk.

 

Dua puluh menit berlalu akhirnya Mbak Eli mengahmpiri kami setelah selesai mengajar. Mbak Eli berjalan santai dengan setelan seragam khas PGRI dengan rok panjang hitam, berjilbab, serta berkacamata bulat. Sekilas aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Wajah cerahnya yang lonjong.

 

Begitu sampai, Mbak Eli lantas mengajak kami masuk ke kantor. Di sana Mbak Eli menjelaskan bahwa di sekolah ini masih minim tenaga pendidik. Sebagian guru untuk keterampilan tertentu pun masih harus dirangkap. Kebetulan guru mapel olahraga pindah beberapa hari yang lalu. Makanya ia meminta tolong pada teman-temannya yang bisa dan berkenan untuk ikut mendampingi pelatihan siswa yang akan mengikuti lomba minggu depan. 

 

Benar, kakakku langsung menyarankan kami yang belum pernah membimbing bocil-bocil untuk membantu persiapan kontingen lomba. Meski kata Mbak Eli tidak terburu-buru, sepuluh hari persiapan sangat mepet sebenarnya. Etdah, budaya dalam negeri tetep aja. 

 

Begitu sampai di mejanya, Mbak Eli melepas kacamata bulatnya, kemudian meletakkannya di atas meja. Kini wajahnya yang putih benar-benar tampak jelas bagiku. Cantik banget. 

 

“Jadi ada tujuh tim. Dua tim untuk lomba ketangkasan, dua tim untuk bidang kreatif, satu bidang musik, satu bidang religi, dan satu lagi cerdas cermat. Nah kalian saya minta membantu membimbing dua tim ketangkasan dan bidang kreatif ya?”

 

“Siap Mbak,” jawabku sumringah dengan hati riang gembira. Bahkan tatapan mataku tidak bergeser sedikitpun dari Mbak Eli. 

 

Siku Masha menyenggol lengan atasku. “Apaan sih lu.”

 

Aku menoleh ke arahnya. Di seberang Masha, tatapan jijik Haris dan Dona sudah terpampang nyata kepadaku.

 

“Santai. Mulai besok timnya sudah bisa kalian ajak latihan. Setelah ini saya panggilkan anak-anak ya. Gak banyak kok, dua tim ketangkasan cuma enam anak. Tim bidang kreatif cuma empat anak.” Mbak Eli tersenyum simpul. Ia beranjak dari kursi lalu meminnta kami menunggu di depan kantor sementara ia memanggil bocil-bocil yang dimaksud.

***

 

Keesokan harinya, 2 Juli 2019.  Hari pertama kami untuk memulai latihan. Namun, masih siang harinya. Yap, biarpun kami amatiran dan tidak terlau tahu lebih jauh tentang olahraga. Aku dan Dona yang ditunjuk sesuai kesepakatan kami berempat tadi malam, akan berjuang sekuat tenaga mendidik bocil-bocil ini menjadi tim ketangkasan yang benar-benar tangkas serta tangguh. 

 

Yah, meski harus beradaptasi dulu dengan budaya umum sekolah di tanah air, yang selalu mepet antara persiapan dengan acara lombanya. Pun dengan anak yang diikutsertakan.

 

Pagi sampai siang harinya kami berempat menghabiskan waktu dengan learning by googling beberapa hal dibutuhkan nanti. Mulai dari teknik sampai gambaran hasil seperti apa yang harus di capai para bocil-bocil sebelum pertandingan sesungguhnya dimulai. 

 

"Oke yuk Kro." Dona beranjak dari duduknya di ruang tengah lantas masuk kamar mengambil hoodie. Kali ini warna hitam. Entah berapa banyak hoodie yang dimiliki Dona, yang pasti ia suka memakainya. Setahuku yang paling sering hitam dan abu-abu. Seingatku lagi masih ada tiga lagi hoodienya. Krem, navy, dan merah.

 

Aku memangguk kecil. Outfitku cukup longsleeves abu-abu dipadukan dengan celana pendek krem. 

 

Masha turut beranjak diikuti Haris. "Kami juga akan meluncur. Semangat semuanya!" Seru Masha sumringah. Ia kemudian segera berangkat berboncengan dengan Haris menuju rumah salah satu bocil timnya. Mereka akan belajar di sana katanya.

 

Tumben-tumbenan atau entah aku yang baru lihat, si Masha nampak gembira banget. Jarang sih emang dia dan Haris terlihat sangat akrab. Karenna biasanya biasa aja. Biasanya .... 

 

Aku dan Dona kemudian lekas meluncur. Berboncengan juga. Tapi kami menuju SD. Kami akan berkenalan dan sarasehan dulu dengan bocil-bocil tim kami. Begitu sampai, sekolah sangat sepi. Kami menunggu sekitar dua puluh menit. Baru terlihat satu bocil masuk halaman celingak-celinguk. Aku melambaikan tangan. Bodo amat itu bocil yang dimaksud atau bukan. Nanti kan bisa nanya. Ternyata benar, ia hanya masuk untuk melihat kami. Setelah melihat lambaian tanganku ia kemudian memanggil temannya yang ternyata masih beli es dan jajan di warung depan SD.

 

"Baik anak-anak. Perkenalkan nama kakak Cokro. Salam kenal ya." Aku menebar senyum termanis. Memasang wajah seceria mungkin.

 

"Kakak namanya Dona."

 

"Dih kaya cewek," celetuk salah satu bocil. Jari telunjuknya terarah pada Dona yang disusul gelak tawa teman-temannya.

 

Dona tidak membalas apapun. Dia dan aku ikut tertawa. "Sujokno cah cilik," bisiknya padaku. Aku hanya bisa tersenyum.

 

"Udah gantian yuk kenalannya,” ucapku menenangkan suasana. Ada dua anak perempuan dan empat laki-laki yang hadir. Jumlahnya genap enam seperti kata Mbak Eli. "Dari adek paling ujung hayo."

 

Bocil laki-laki yang kutunjuk kemudian berdiri sambil senyam-senyum. Salut sih, biasanya bocil kan malu-malu, ini meski sambil senyum-senyum gak jelas dia langsung berani begitu diminta memperkenalkan diri.

 

"Perkanalkan saya Aldo, kelas empat." Ia kemudian langsung duduk di tempat seperti sebelumnya.

 

Gantian bocil perempuan di samping kirinya berdiri. "Perkenalkan nama saya Sifa, kelas empat."

 

Aku mendekatkan mulut ke telinga Dona, kemudian berbisik. "Waduh Shiva Don. Anti kalah ini."

 

Belum juga Dona menimpali, bocil itu berteriak. "Jangan panggil aku anak kecil om!"

 

"Paman dong." Dona langsung nyeletuk.

 

"Terserah." Begitu menjawab ia duduk kembali dengan jutek sementara teman-temannya hanya tertawa. Bocil-bocil.

 

Sesi perkenalan terus berlanjut hingga selesai. Di antara enam bocil ini ada dua dari kelas lima, keduanya masuk tim estafet. Selebihnya kelas empat semua. Kami tidak langsung meminta mereka untuk berlatih. Dari dua tim bidang ketangkasan nantinya, satu terdiri dari tim sprint, yang terdiri satu perempuan dan satu laki-laki. Lalu satu lagi tim estafet dengan tiga laki-laki dan satu perempuan.

 

Sayangnya para bocil ini adalah peserta dadakan yang baru pertama ini akan ikut lomba. Belum pernah latihan sama sekali lagi. Wah, PR berat nih. Akhirnya di pertemuan pedana ini, bocil-bocil kami arahkan untuk melakukan pemanasan, kemudian lanjut lari dua kali putaran mengelilingi lapangan sekolah. Menurutku karena mereka menjadi atlit dadakan mengenali sejauh mana kekuatan fisik mereka akan membantu pada latihan berikutnya.

***

 

Keesokan harinya. Pagi harinya kami harus menyelesaikan dulu perihal hp curian yang dibuang di selokan kampus beberapa hari yang lalu. Pemilik asli hp itu dan pembelinya, teman Ai yang kadung tertipu akhirnya mencapai jalan tengah setelah negosiasi cukup lama. Bagi pemilik asli, pnsel ini masih penting. Sedangkan bagi pembelinya, ia juga terlanjur kehilangan uang. Oleh karena itu, si pemilik asli dengan legowo bersedia membantu teman Ai dengan memberinya “hadiah” uang separuh dari harga yang ia beli. Ya, gimana ya. Dilematis banget emang. Hp yang menurutku gak seberapa akhirnya harus ditebus dengan harga yang seharusnya bisa ditabung untuk beli hp baru. Barangkali, ada kengan tersendiri si pemilik dengan hp itu.

 

Oke, lanjut, pada waktu yang sama seperti kemarin. Aku dan Dona kembali berangkat ke SD seperti biasa. Hari ini, tim Haris-Masha di ajak belajar di pos kamling selatan kosan. Pos kamling yang tepat di ujung belokan selatan. Posnya jarang dipakai nongkrong sih. Ditambah gang sini sepi jadi pastinya lebih kondusif kalaupun dipakai belajar. 

 

"Berangakat dulu aku!" Aku setengah berteriak ke arah mereka di pos. Haris-Masha terlihat ceria, bocil-bocil timnya juga nampak asik di sana. 

 

"Ya, hati-hati" sahut Haris. 

 

Pada latihan kali ini aku dan Dona sepakat membagi tim. Ia pegang tim estafet dan aku sprint. Begitu sampai dan beres pemanasan kami berpisah mencari tempat ternyaman masing-masing. Dona memilih halaman depan sekolah, dan aku di lapangan belakang. 

 

Langkahku terhenti, aku berbalik badan. Sifa dan Aldo yang berjalan di belakangku juga turut berhenti. "Baik, Sifa dan Aldo kira-kira lari muterin lapangan kuat berapa kali?"

 

Aldo berpikir sejenak. "Tiga."

 

Sifa hanya mengangguk.

 

"Tiga ya. Oke gimana kalau lari secepat yang kalian bisa, tiga kali dalam dua menit?"

 

"Cepet banget,” timpal Sifa, wajahnya berubah jutek.

 

"Kan dicoba dulu Sifa. Kalau gak kuat langsung berhenti aja." 

 

Meski awalnya cemberut Sifa mulai mengikuti setiap arahan yang aku berikan. Berbeda dengan Sifa, Aldo cenderung pendiam dan lebih penurut. Ternyata asik juga jadi pelatih dadakan modal konsultasi ke Mbah Google. Hehehe.

 

Keduanya mampu menuntaskan lari tiga kali putaran sesuai kekuatan masing-masing bahkan kurang dari dua menit. Lumayanlah ternyata. Meski begitu istirahat, mereka ngos-ngosan bahkan aku sampai kasihan melihatnya. Namun, pengamatan kasarku, stamina Sifa menurutku lebih baik dibanding Aldo. 

 

Selesai istirahat sebentar sambil minum. Mereka berdua kuberi sedikit materi plus contoh posisi kaki yang benar saat berlari, aku juga memutarkan video pembelajaran lari dari youtube. Meskipun kedua bocil ini kadang memerhatikan, kadang juga asik sendiri. 

 

Setelahnya aku meminta mereka mencoba bertanding sekaligus mempratekkan apa yang telah dipelajari sebelumnya. 

 

Di sini kelemahan Sifa terlihat, ia sering terburu-buru saat start. Belum ada tanda mulai dia sudah berlari. Kadang terlalu fokus hingga telat start. Sisi positifnya seperti dugaanku, stamina Sifa lebih baik dan larinya lebih cepat dari Aldo. 

 

Sementara Aldo lebih tenang, terlihat tidak mudah gugup, ia selalu fokus dan sering mengingatkan Sifa untuk lebih santai. Meski sisi kelemahannya, stamina Aldo dibawah Sifa, yang berarti ini memengaruhi kecepatan larinya. Untuk latihan besok, hari ketiga. Sifa meminta berlatih di belakang rumahnya yang kebetulan ada sunga,  dimana jalanan sungainya sepi. Katanya akan lebih asik.

 

Aldo juga setuju. Ia memberitahu rumahnya juga tak jauh dari rumah Sifa.

***

 

"Jadi ke rumahnya siapa, Sifa?" tanya Dona dari ruang tengah. Pintu kamar terbuka, aku masih berkaca di cermin kamar sembari menata rambut.

 

Dona dan timnya memilih konsisten berlatih di SD. Hari ini Haris-Masha tidak datang ke kosan. Katanya mereka akan belajar lagi di salah satu rumah bocil tim mereka.

 

Aku melangkahkan kaki keluar dengan tangan kanan menenteng helm kemudian menutup pintu kosan lalu menguncinya. Dona telah siap di atas motor matic-nya lengkap dengan helm biru dan style hoodie yang itu-itu aja. Kali ini warna merah. Heran gak punya baju lain apa dia. Semenatara aku kali ini bercelana hitam panjang berpadu jaket denim dengan kaos putih polos.

 

Hari ini kami berangkat masing-masing. Memandu tim masing-masing demi gelar juara nantinya.

 

"Kro."

 

Aku baru saja naik, lalu megang stang motor. "Nyapo Don?"

 

Dona mengangkat tangan kirinya, jemarinya mengepal. Matanya menatapku dalam-dalam. "Semangat, aku yakin kerja keras kita pasti bisa membawa tim kita jadi juara. Anak-anak itu, aku yakin mereka pasti bisa."

 

Aku terbengong sebentar. Mengerutkan dahi. Jangan-jangan ...."We nyapo cuk?" 

 

"Kan ben koyo ndek anime-anime, beh!"

 

Duh. Hari ini Dona kelebon ilmu peranimeannya kayanya. “Oh, itulah kenapa dirimu memakai hoodie merahmu hari ini, kawanku?” tanyaku sebelum berangkat.

 

“Kau benar kawan ...,” jawabnya penuh khidmat sembari tersenyum bahagia.

 

Jijik Doon!

***

 

"Ayo! Ayo! Kakinya Aldo! Tanganmu Fa!"

 

Kami berlatih simulasi pertandingan lagi. Tidak banyak perubahan sebenarnya. Bagaimana mau banyak perubahan kalau waktu latihan maksimal hanya semingguan sampai waktu perlombaan. Yah, setidaknya mereka bisa berkembang daripada sebelumnya. 

 

Setelah beberapa sesi, kami rehat sejenak. Sifa kembali ke rumahnya yang tak seberapa jauh dari tempat kami berlatih, sekitar ... sepuluh langkah. Aldo duduk meregangkan kedua kakinya. Di depan kami, sungai mengalir dengan airnya yang dangkal. Ada banyak sampah menyangkut di sana-sini. Batu penahannya pinggiran sungai juga banyak yang bolong-bolong. Rumput tumbuh subur di sepanjang sungai ini.

 

"Do. Menurutmu Sifa gimana anaknya?"

 

Raut muka Aldo berubah mendengar pertanyaanku. Kemudian menggeleng. "Gak ngerti, hehe."

 

"Kok iso i lho." 

 

"Ya gitulah kak." Aldo tersenyum canggung. "Kadang nakal anaknya."

 

Aku belum sempat menimpali, kulihat Sifa mendekat, menenteng satu botol besar air mineral dengan tiga gelas. Begitu kami bertiga selesai minum. Sifa hendak menuju rumahnya lagi mengambil camilan. Aku segera beranjak, melangkah menjajarinya. Sifa menatapku heran.

 

"Sifa, Sifa. Menurutmu Aldo anaknya gimana?"

 

"Aldo e? cemen Om." Tuman. Semenjak perkenalan kemarin lusa, aku sama Dona dipanggil om terus.

 

"Kok cemen?"

 

"Dia pendiam di kelas. Kadang di bully aja gak selalu membalas. Tapi kadang bisa marah sih. Tapi juarang."

 

Begitu rupanya. Aku berbalik kembali ke tempat duduk. Kuminta mereka duduk sejajar di hadapanku. "Jadi, sebelum lanjut latihan lagi kakak mau nanya. Ada yang membuat kalian tidak nyaman setiap kali latihan?"

 

Mereka berdua menggeleng.

 

"Bener?" 

 

"Iya Om."

 

"Ada yang kira-kira membuat kalian tidak nyaman nanti waktu lomba? Keramaian, dilihat orang banyak, suara berisik, atau apa lah."

 

Baik Sifa maupun Aldo tidak langsung menjawab. 

 

"Diliat orang." Aldo menjawab malu-malu.

 

"Ndak nyaman kalau ada musuhnya." Jawaban Sifa membuatku nyengir.

 

"Ya kalau gak ada musuhnya bukan lomba namanya.”

***

 

Latihan hari ketiga ini selesai. Bu Maya, ibu Sifa menemaniku sampai halaman depan sebelum aku pulang ke kosan. Bu Maya sangat ramah. Setiba di rumahnya, aku sudah dijamu makan. Sebelum pulang juga makan. Bahkan ia membawakanku sebungkus sayur dan beberapa lauk lagi untuk makan di kosan. Tahu aja kami anak kosan yang hidup dalam kesederhanaan.

 

"Oh ya, Bu, maaf, Sifa dirumah anaknya gimana ya?" Untung saja aku teringat untuk bertanya.

 

"Baik sih Nak, tapi dari kecil Sifa agak tomboi. Bandel. Sering juga anaknya berantem sama anak cowok."

 

"Sampai sekarang?"

 

"Kadang. Katanya di sekolah punya geng juga. Padahal sama bapaknya sering dinasehatin kalau kaya gitu tidak baik." 

 

"Maaf, Bapak keras orangnya Bu?"

 

"Enggak, bapaknya Sifa kalem kok. Saya justru yang sering ngomel-ngomel." Bu Maya tertawa kecil. 

 

Aku mengangguk paham.

 

Tak berselang lama aku segera pamit, kuputuskan segera kembali ke kosan. Waktu hampir Maghrib. Namun matahari masih terang kekuningan di langit barat. Terpaan cahanya masih terasa hangat menyentuh kulit.

 

Keesokan harinya kami hanya latihan seperti biasa. Aku mulai menambah beberapa variasi latihan seperti latihan tumpuan, membenahi posisi tolakan saat start serta anjuran untuk mulai mengatur makan dan waktu istirahat setidaknya sampai perlombaan nantinya. 

 

Ada sedikit kendala karena betis Sifa katanya sakit. kata Aldo, Sifa hampir berkelahi dengan anak kelas enam sebelum ketahuan salah seorang guru. Huh. Ada-ada aja bocil ini. 

 

Semenjak kami memegang tim masing-masing Haris-Masha jarang sekali ke kosan kecuali hanya mampir. Mereka berdua sibuk menyiapkan proyek kreatif yang akan diperlombakan. 

 

6 Juli 2019, Hari kelima latihan. Tiga hari sebelum perlombaan antar sekolah dasar sekaresidenan dimulai.

 

 Pagi harinya aku dan Dona masih bersantai sambil menyiapkan materi latihan. Aku duduk menyender tembok depan kamar di ruang tengah. Dona rebahan di sampingku. Telapak tangan kirinya digunakan sebagai bantal, sementara tangan kananya memgang hp. Sesekali kami saling tukar pendapat mengenai latihan beberapa hari ini. 

 

DRRTT! DRRTT!

 

Panggilan masuk. Mbak Eli.

 

"Halo, wa'alaikumussalam, ya Mbak?"

 

"Mas Cokro dan Mas Dona nanti siang bisa ke kantor dulu? Ada yang kami mau bicarakan sebentar Mas." Jelasnya di seberang telepon.

 

"Oh, siap Mbak." 

 

Hanya telepon singkat yang diakhiri ucapan terima kasih. Tidak ada penjelasan lebih detail. Aku bersikap profesional dengan tidak bertanya sebelum waktunya. Meski sebetulnya agak panik.

 

"Waduh Don. Mbak Eli minta kita siang ini datang ke kantor dulu. Apa latihan kita salah ya? Jangan-jangan aku salah ngasih metode latihan lagi, apa aku terlalu menekan tim hinggga bocil asuhanku mengadu. Jangan-jangan ini salahmu Don?"

 

Dona buru-buru bangkit dari rebahannya kemudian duduk. Ia meletakkan hpnya di tikar. Merapikan rambut panjangnya yang kemudian ia ikat dengan karet gelang. Dona jarang-jarang mengikat rambut. Kecuali ... saat-saat ... ya kayanya pas gabut aja lah.

 

"Heh, seenaknya lu nyalah-nyalahin. Aku aja gak merasa bersalah. Menurutku metode latihanku sesuai dengan materi dari google dan youtube. Bahkan timku sudah kurekomendasikan buat maraton anime Kaze ga Tsuyoku Fuiteiru biar lebih semangat lari estafetnya─"

 

"Heh heh." Kupotong pembicaran Dona, Aku menatapnya ngece. "Wibu!"

***

 

"Jadi dengan terpaksa tim sprint kami batalkan sebagai kontingen lomba. Karena aturannya harus sepasang sekaligus untuk sprint,” Jelas Mbak Eli di kantor.

 

Aku hanya bisa diam tak terpikirkan untuk berucap apapun. Dadaku terasa penuh. Aku menarik napas panjang, menghembuskannya setenenang mungkin. Dona sesekali menatap kami bergantian dengan tatapan pasrah.

 

"Anaknya berkelahi dimana dan karena apa ya Mbak?"

 

"Di kelas, katanya saling ejek awalnya. Besok kami akan memanggil kedua orang tuanya Mas."

 

"Kalau saya boleh minta jangan Mbak. Biar kami berdua yang mengantar. Boleh kan sesekali melanggar budaya birokrasi sekolah?" 

 

Mbak Eli tersenyum lantas mengangguk. Aku diikuti Dona melangkah lunglai menuju ruang kelas dimana Sifa berada. Melihat kedatangan kami salah seorang guru yang menunggu di dalam kelas segera keluar. Guru itu melangkah keluar dengan sedikit membungkukkan badan lalu tersenyum ke arah kami.

 

Aku kemudian duduk di hadapan Sifa. Mengambil napas lagi, lalu menghembuskannya pelan. "Siapa tadi yang menang?"

 

"Kro!" Dona menepuk pundakku.

 

Sangat diluar dugaanku. Sifa dan Aldo yang pendiam justru baru saja berkelahi. Mereka sudah satu kelas dari kelas kelas 1. Menurut Mbak Eli, Aldo jarang menyinggung fisik meski mendapat rundungan dari teman-temannya. Aldo hanya akan defensif dan membalas dengan kata-kata. 

 

Tapi hari ini, Sifa katanya memprovokasi Aldo dengan mengolok-oloknya bersama murid laki-laki lain. Salah satu olokannya termasuk seringnya Aldo kalah darinya ketika latihan. Meski temannya yang lain sudah diam. Sifa terus mengoloknya. Ia mengejeknya cemen dan tidak pantas jadi laki-laki apalagi ikut lomba lari. Hal yag luput dari perhatian kami adalah bagaimana sistem seleksi peserta dilakukan sebelumnya oleh pihak sekolah. Hingga menyebabkan salah satu dari mereka belum bisa menerima rekan stau timnya. 

 

Kurasakan dadaku masih terasa penuh. Sedari tadi aku menyalahkan diri sendiri. Aku tidak berpikir kalau mereka kan satu kelas, pasti sedikit banyak ada imbasnya.

 

Yah, mungkin sifat Sifa yang bandel juga berpengaruh akan hal ini. Kemungkinan Aldo mencoba menahan emosinya, tapi akhirnya meledak. Setidaknya itulah penjelasan lengkap dari Mbak Eli.

 

Aku sangat merasa bersalah. Aku tidak memperhatikan bagaimana jalinan kedekatan mereka dalam tim, karena mereka sama sekali tidak menunjukkan reaksi menolak satu sama lain. Mungkin simulasi pertandinganku saja yang kurang tepat bagi Sifa maupun Aldo yang baru saja akan mengikuti lomba. Aku belum mengenal jauh latar belakang bocil ini masing-masing.

 

Dua menit berlalu. Tidak ada jawaban, keduanya hanya menunduk. 

 

"Sifa ... minta maaf ke Aldo." 

 

Sifa mengulurkan tangan. Mereka salaman dengan terpaksa. 

 

"Aldo ... minta maaf ke Sifa."

 

Keduanya menatapku heran. Aku mengisyaratkan keduanya untuk bersalaman lagi.

 

"Sifa, kakak tahu kamu kuat. Tidak berarti semua orang harus sekuat kamu. Kamu kuat dalam fisik melebihi Aldo, tapi kamu tidak sekuat Aldo dalam mengendalikan diri. Kakak dengar kamu punya geng di sekolah?” Aku menatap Sifa dalam-dalam. Ia tak langsung menjawab. “Sifa?”

 

“Biarin,” jawabnya singkat. Raut mukanya jutek seperti biasa.

 

“Oke-oke kakak gak bakal ikut campur geng Sifa. Tapi ingat orang yang kuat tidak menunjukkan kekuatannya semata hanya untuk pengakuan orang lain. Jika masih seperti itu, Sifa tidak sekuat yang Sifa kira.”

 

Sifa hanya diam membuang tatapan. 

 

“Aldo,” aku ganti menatap bocah laki-laki ini, “Aldo mungkin tidak lebih kuat dari Sifa dalam hal fisik, tapi Aldo lebih kuat dalam mengendalikan diri. Aldo tidak membalas meski dirundung oleh teman. Kakak percaya dengan terus berlatih Aldo akan berkembang lebih baik. Ya?” 

 

Aldo tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, matanya tidak berani menatapku. “Kalian berdua sama-sama kuat dalam porsi masing-masing. Ingat, kalian juga tidak akan pernah bisa menjadi orang lain ... berjanjilah untuk tidak mengulangi perkelahian. Kalian kan berteman cukup lama, satu tim juga. Yah meski tim kita dibatalkan ikut perlombaan, tapi kakak, Sifa, dan Aldo masih tetap satu tim, tidak berubah. Ini nomor telepon kakak. Kalian pasti punya hp kan. Kalau mau telepon, sms, atau chat hubungi saja. Kalau mau latihan lagi kita latihan bareng. Oke?” Aku melebarkan bibirku, menepuk pundak keduanya. Mereka berdua masih canggung satu sama lain.

 

Setelahnya aku dan Dona mengantar mereka masing-masing pulang. Menjelaskan kepada masing-masing orang tua untuk melakukan pendampingan. Tidak menyalahkan anak mereka atau bahkan saling menyalahkan sesama orang tua.  

 

Yah. Pada akhirnya Dona, Haris, dan Masha melanjutkan tugas mereka masing-masing. Dona sebenarnya mengajakku melatih tim estafet. Tapi kuputuskan untuk rebahan dulu saja di kosan sembari nyemil kuaci. Merenungi apa yang harus kulakukan untuk lebih baik kedepannya.

 

“Fuh! Fuh ....” Aku bangun dari rebahan. Segera kulepeh kuaci beserta kulitnya yang baru saja aku gigit. “Anhay, kok yo pas sing nonolen.”

 

No comments:

Pages