Pak Malik Fadjar dan Rumah Baca - FLP Blitar

Pak Malik Fadjar dan Rumah Baca

Bagikan



Oleh Fahrizal A.

Bulan puasa tahun 2005, tepat tanggal 17 Ramadan, Prof. A. Malik Fadjar meresmikan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute di Malang. Rumah baca itu mengusung semangat Iqra', spirit membaca yang merupakan perintah pertama dalam Al Quran.

Rumah baca yang kemudian lebih familiar disebut RBC Malang itu kemudian menjadi tempat pengembangan intelektual. Apalagi lokasinya sangat "subur", di sebuah kota yang menjadi pusat pendidikan.

2010

Di lantai II, di antara rak-rak buku, para peserta diskusi menjalankan shalat magrib. Pak Malik Fadjar, narasumber diskusi dan sekaligus pendiri rumah baca itu, menjadi Imamnya. Saya masuk di barisan shaf kedua.

Nama Abdul Malik Fadjar sangat terkenal di kampus UIN Malang, tempat saya menimba ilmu. Bisa disebut big fathernya. Bahkan rektor kala itu, Prof. Imam Suprayogo, sangat menjunjung sosoknya.

Lokasi rumah baca itu berada di Perumahan Permata Jingga, lewat jalur Soekarno-Hatta. RBC Diketuai oleh Dr. Nazarudin Malik, yang adalah putra dari Prof. A. Malik Fadjar.

Meskipun namanya Rumah Baca, sebenarnya itu sebuah kafe dengan konsep perpustakaan. Ada menu yang dihidangkan, ada membershipnya. Tidak gratis. Bahkan dilarang membawa makanan dari luar.

Lokasi itu mungkin menjadi tempat nongkrong favorit mahasiswa, khususnya mahasiswa UB dan UMM, sebab saat diskusi digelar, rata-rata pesertanya dari UB dan UMM.

Menurut informasi, jumlah koleksi buku di RBC tak kurang dari 7.000 eksemplar. Mereka yang hendak meminjam cukup menjadi membernya, ada biaya untuk menjadi member.

Jika melihat tahun peresmiannya, itu setahun setelah beliau meletakkan jabatan sebagai Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), merangkap Menko Kesra.

Energi dan kepeduliannya pada pendidikan, salah satunya dicurahkan lewat Rumah Baca tersebut, sebagai lembaga non formal. Namun beliau masih punya kesibukan dan peran cukup besar dalam mengembangkan lembaga pendidikan, utamanya di Muhammadiyah.

Ya, saking melegendanya, beliau disebut juga gurunya para guru. Sebab, dua rektor kampus di Malang (UIN dan UMM) adalah yuniornya, yang saat itu sedang mejabat. Nasihin Masha, wartawan senior Republika bahkan menulis sebuah esai berjudul dua pendekar dari Malang, menceritakan sepak terjang dari "dua murid" Prof. Malik Fadjar tersebut.

Kunjungan saya ke RBC kala itu sungguh membekas, itu awal saya menjadi mahasiswa baru. Belum terlalu suka membaca buku-buku pemikiran, belum terbiasa dengan dunia aktivisme yang kritis.

Kesan pertama berjumpa Pak Malik Fadjar adalah, beliau seorang pegiat rumah baca, pegiat literasi, baru kemudian saya tahu jika beliau pernah menjadi rektor hingga menteri. []

No comments:

Pages