Cul de Sac - FLP Blitar


Oleh: Titiek St


“Apapun alasanmu, kamu harus pulang sekarang juga Ndhuk,” suara ibu seakan menghunjam tepat di ulu hatiku.

“Tapi Bu…,” belum lagi aku menyelesaikan kata-kataku ibu memotong dengan tegas sambil memandangku tajam.

“Ibu tidak pernah melarangmu bahkan ibu mengharap kunjunganmu setiap saat, namun tidak seperti ini.” tangan ibu bergetar, secangkir teh yang hendak beliau sugguhkan untukku turut terguncang. Menimbulkan percikan isi cangkir dan  menggenang di lepek alas cangkir porselin berbunga sakura kesukaanku.

“Minumlah, dan Pak Badrun akan mengantarkanmu ke bandara sekarang juga.” Ibu melangkah meninggalkanku. Sayup-sayup aku masih mendengar instruksi beliau pada Pak Badrun sopir keluarga kami.

Aku tertegun. Kupandangi kopor yang teronggok di sudut ruang makan di mana aku duduk sekarang. Tanganku memutar-mutar gagang cangkir porselin di hadapanku. Asap tipis mengepul, aroma teh tubruk kental manis mengerakkan naluriku untuk segera menyeruputnya.
“Panas,” gumamku lirih, bibirku terbakar. Suara langkah kaki ibu memasuki ruang makan terdengar nyata.

“Pak Badrun akan mengantarkanmu ke bandara sekarang juga. Masih ada penerbangan terakhir yang akan mengantarkanmu malam ini.

“Tapi Bu…,” lagi-lagi ucapanku mengantung terpotong dawuh ibu.

“ Kita bicarakan nanti, setelah engkau kembali ke pangkuan Bram suamimu. Ibu akan ke Pabrik segeralah kau berkemas.

Palembang – Jogjakarta, aku harus terbang bolak-balik hari ini. Anganku hancur lebur oleh keputusan ibu. Harusnya ibu membelaku, menahanku bukan sebaliknya seperti ini. Dadaku semakin sesak, kemarahanku memuncak. Ibu benar-benar lebih membela menantunya Bram suamiku.

Ada rasa marah meluap tak terkendali. Aku menyusul ke kamar ibu. Aku ingin beragumentasi. Aku tidak mau harus selalu mengalah. Aku tak mau lagi harus selalu menurut.

“Masuk Lin,” belum lagi aku mengetuk pintu Ibu memeprsilahkan aku masuk ke peraduannya.  Aku membuka pintu perlahan. Ibu duduk di belakang meja kerjanya. Kaca mat abaca bertengger di atas hidung ibu yang mancung. Ibu tetap cantik. Ibu selalu berpinjung dan berkebaya. Rambut dikonde rapi. Aku selalu iri dengan kecantikan ibuku. Bukan hanya kecantikannya namun juga kepiawaiannya dalam meniti kehidupan. Sejak kecil aku tidak mengenal ayahku. Aku putri terakhir dari kelima saudara perempuanku. Ayah telah kembali ke hadirat Allah ketika aku masih dalam kandungan ibu.

Ibu berjuang sendiri menjalankan pabrik batik peninggalan ayah. Ibu bukan hanya berperan sebagai ibu namun juga sebagai ayah bagi kami. Ibu menghantarkan kami kelima srikandinya menjadi sarjana dalam berbagai ilmu. Ibu pula yang mendampingi kami dalam meniti biduk perkawinan.

"Perempuan itu bukan hanya harus pinter masak; dandan dan beranak Ndhuk, tetapi harus mumpuni menjadi ratu keluarga, perempuan harus mampu menghanggatkan keluarganya; perempuan harus bisa menakhlukan selera meja makan setiap penghuni rumahnya; perempuan harus piawai menghidupkan dan membakar peraduan suaminya. Perempuan bisa jadi apa saja; juru masak; sekretaris; pembantu; guru bahkan pengacara keluarganya," nasehat Ibu begitu aku masuk dan duduk di hadapan Ibu. Ibu sibuk dengan catatan pepbukuannya. Menulis, menekan papan kalkulator, membetulkan letak kaca matanya dan menulis lagi.

" Pelacur juga, Bu?" Cletukku.

 Ibu mengalihkan pandangannya dari pembukuaannya menatapku tajam sejenak, kemudian senyumnya mengembang." Kenapa tidak Ndhuk? Kalau hanya menjadi pelacur lakimu, atau kamu mau membiarkan suamimu kelak mencari-cati pepesan diluaran karena engkau tak pernah menyajikannya?" Ibuku bangkit dari duduknya melangkah ke arahku. Beiau membimbingku bangkit dan kami duduk berdampingan di tepi tempat tidur beliau. Ibu memelukku erat, mencium keningku dengan penuh kasih sayang.

Aku meleleh seperti gunung es yang mencair. Aku menangis dalam pelukan ibu. Aku terisak, dan aku keluarkan semua beban dalam hatiku. “Aku tidak mau mengalah lagi ibu. Aku tidak mau diinjak lagi. Hanya kesalahan kecil aku harus menerima keluhan Mas Bram. Tidak adil dan sungguh tidak hadil. Aku juga bekerja. Aku juga menyumbang keuangan untuk keluarga. Aku juga smengurus semua kebutuhan Mas Bram. Rangga dan Bisma dengan baik. Salah apa lagi aku ibu? Tega benar Mas Bram memilih tidur dengan Bisma kemarin malam. Buat apa lagi aku di sana. Bukankah lebih baik aku menemaniibu di sini.”

Ibu memelukku semakin erat, beliau mengelus bahu dan lengaku perlahan. Ada rasa hangat mengalir di setiap nadiku. Hangat dan menenangkan. Aku rebahkan diriku di pangkuan ibuku. Aku Lina Saraswati seorang Dosen sekaligus Ketua Prodi Sastra Inggris Universitas Sriwijaya, tumbang dalam pangkuan ibuku.

“apa salahnya jika engkau menyusul ke kamar Bisma dan mengajaknya kembali dalam peraduanmu? Mengapa engkau malah tidak bersyukur kedekatan Bram dan Bisma?” ibu memang paling hebat mengolah kata dan menyelipkan nasehat-nasehat dalam setiap langkah-langkah kehidupan kami. 
“Apakah kau tahu benar alasan Bram tidur dengan Bisma buah hati kalian?”

 “Berapa banyak waktu yang kau habiskan bersama putra-putramu. Bagaimana bisa kedua putramu tumbuh kembang tanpa permasalahan? Berapa banyak perananmu? Siapa yang banyak meluangkan waktu untuk mendidik amanah Gusti? Ridho seorang istri adalah di bawah suami. Apa salahnya jika Lina mengalah sedikit untuk bertanya pada suamimu?” Ibu memberondong aku dengan pertanyaan-pertanyaan.

Aku terkesiap sesaat, “Di mana harga diriku Bu?”

“Harga diri? Lina masih menanyakan harga diri di hadapan suami Lina sendiri?” ibu mengelus rambutku dan membangkitkanku dari pelukan. Aku bangun dan memandang wajah ibu secara reflek. Ada keteduhan di balik manik-manik kedua mata ibu. Keteduhan yang sama di mata Bram suamiku. 
“Bagaimana Lina masih menanyakan harga diri, sedangkan Lina telah berkali bertelanjang di hadapan suamimu?” Jleb…belati nasehat ibu seakan menusuk kesaradan dan keegoanku. Terbayang bagaimana Mas Bram mempersiapkan segala kebutuhan anak-anak semenjak kecil. Terlintas Mas Bram mempersiapkan bekal anak kami. Aku hanya bisa memasak tapi tidak pernah aku mempersiapkan bekal anak-anak. Teringat berapa kali aku mengantarkan anak-anak ke sekolah mereka. Sekali ya sekali dalam seumur hidupku. Itupun karena Mas Bram sakit. Satu persatu bayang keluargaku menari di pelupuk mataku yang buram karena air mata. Mas Bram, Rangga, Bisma yang selalu menunggu kedatanganku di teras depan dengan berbagai kegiatan mereka. Bermusik, berkebun, bermain catur atau kegiatan lainnya. Air mataku semakin deras, hatiku semakin tersayat. Aku telah banyak meninggalkan keluargaku. Aku tak sehebat dan sekokoh ibu yang selalu ada dan hadir dalam setiap langkahku.

” Ibu maafkan Lina, mana Pak Badron. Lina tak boleh terlambat. Lina rindu Mas Bram, Lina rindu Rangga dan Bisma.” Ku peluk ibuku erat-erat airmataku meleleh tak terhenti. Airmata kerinduan kepada keluarga kecilku. Airmata syukur ibu telah membuka jalan buntu pemikiranku selama ini. Ibu tersenyum, memelukku dan membimbingku ke ruang depan.

           Blitar diujung pagi, 25 Agustus 2019





No comments:

Pages