Menulis diantara Keruwetan dan Kebisingan - FLP Blitar

Menulis diantara Keruwetan dan Kebisingan

Bagikan




| Oleh Ahmad Fahrizal Aziz

Menulis harus dalam kondisi tenang dan kondusif. Tidak bising dan berisik. Pikiran tertata, fokus, tidak sedang diruwetkan oleh problematika hidup, atau sedang tidak terbebani persoalan lainnya.

Bila perlu, menulis sembari menyesap secangkir teh atau kopi, plus camilan. Kadang kala perlu pergi ke kafe, sambil mendengarkan lagu kesukaan. Ada lagi yang menepi ke gunung, pantai, dan alam terbuka lainnya.

Namun bagaimana jika kenyataan tidak demikian? Saat hendak mengetikkan sesuatu di depan laptop atau gawai, ada saja beban pikiran yang melintas. Ada saja keramaian dan kebisingan yang memecah konsentrasi dan membuyarkan semuanya.

Tubuh capek, jiwa lelah, butuh istirahat. Sebab nyatanya, suasana "ideal" untuk menulis di atas tidak selalu kita dapati. Nyatanya, setiap hari kita sulit melepaskan diri dari kebisingan kendaraan dan keramaian manusia. Setiap hari, selalu saja ada masalah hidup yang mendera, memusingkan dan melelahkan.

Keinginan untuk menyelesaikan tulisan, meski hanya satu atau dua halaman saja, sekadar menjadi angan-angan, yang akhirnya menguap bersama waktu, tertiup angin, hilang bersama lelap tidur kita semalaman.

Oleh karena itu, cara pikir perlu dirubah. Menulis adalah refreshing, rekreasi bagi jiwa, disamping membaca. Menulis adalah cara menetralisir suasana, di antara pengap, sesak, bising, dan ruwetnya hari-hari kita. Menulis adalah hiburan.

Saat kita sedih melihat keadaan, mungkin beberapa baris puisi bisa sedikit melipurnya. Saat kita marah, gundah, menyesal, mungkin tiga atau empat paragraf di buku diary bisa sedikit melegakan.

Tidak perlu terpaku pada keadaan sekitar. Tidak perlu terganggu dengan kebisingan orang-orang yang memang sedang menunaikan hajat kehidupannya. Tidak perlu tergantung dengan teh, kopi, atau camilan. Tidak perlu terpaku pada suasana batin.

Menulislah dengan kejernihan, dengan ketenangan yang kita ciptakan sendiri dalam alam pikiran kita. Memulainya dengan memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.

Masuklah ke dunia kita sendiri, dunia persepsi dan imajinasi, yang mana tak ada seorangpun menggugat. Masuklah secara mendalam, tanpa terpengaruh hal-hal dari luar, yang membuat kita khawartir akan memecahkan dan membuyarkannya.

Masuklah lebih dalam, ciptakan sendiri sunyi dan ketenangan itu. Menulislah apa yang ingin ditulis. Tak ada yang bisa menghentikan, selain diri kita sendiri. Keruwetan, kebisingan, suasana hati justru menjadi energi tambahan. Bahan berharga untuk membuatnya lebih kaya.

Menulislah, serap energi dari diri sendiri, lingkungan sekitar, alam dan kehidupan. Lalu tuangkan dalam kalimat ke kalimat. Setelah itu berbahagialah dengan itu semua. []

No comments:

Pages