Yang Tertinggal dari Clara - FLP Blitar

Yang Tertinggal dari Clara

Bagikan


Tidak hanya Zaldy yang berucap demikian. Ungkapan sayang seperti itu bagiku hanya basa-basi. Aku tak peduli lagi. Lagipula dia tak begitu menarik, selain dari wajahnya yang polos dan sedikit manis.

Mama sangat senang dengannya, mungkin karena memiliki kesamaan budaya. Jangan bandingkan dengan teman bandku dulu, yang keluar masuk rumah seenaknya.

"Apa tidak diajari sopan santun?" Komentar Mama waktu itu.

Itulah kenapa pada akhirnya Mama tak bisa lagi sejalan dengan Papa. Mereka berpisah, dan sebagai anak perempuan, aku lebih bisa mengerti perasaan Mama.

###

Saat Zaldy datang ke rumah sore itu, Mama selalu menanyakannya, aku pun agak terganggu. Kenapa selalu tanya soal Zaldy?

Sampai pada akhirnya Zaldy mengungkapkan rasa sayangnya padaku, Mama justru yang paling antusias mendengarnya.

"Dia berani ungkapkan langsung?" Tanya Mama.

Aku hanya mengangguk.

"Tapi kamu tak suka ya?"

Aku terdiam. Tak menjawab, pada akhirnya. Bagiku topik itu belum saatnya dibahas. Aku sedang memulihkan diriku sendiri, dari rasa sedihku.

"Aku juga sedang memulihkan diri Ra."

Itu juga isi pesan dari Zaldy, yang tak pernah kubalas.

"Sakitnya didiamkan."

Zaldy terus mengirimkan pesan, dan tak juga aku balas.

Sejak pertemuan terakhir saat pengambilan ijazah di sekolah, nomor Zaldy tak bisa lagi dihubungi. Aku telepon dengan privat number keterangannya sedang tidak aktif.

Padahal aku butuh waktu, dan itu sangat lama, mungkin bagi Zaldy. Seperti yang tertulis dalam akun facebooknya.

1 hari ibarat 1 windu, ketika menanti yang tak pasti. Apalagi 1 tahun?

Sejak peristiwa pada jam istirahat itu, aku memang membatasi hubungan dengan Zaldy. Smsnya tak pernah kubalas, hingga naik ke kelas XII.

Zaldy tidak salah. Dia mencoba menolongku, tetapi aku saja yang tak mengerti. Dia cukup sabar, bahkan sangat sabar.

Aku membaca tulisan-tulisannya di majalah sekolah, di mading, dan di blog jurnalistik. Zaldy belajar menyembuhkan diri dari perasaannya sendiri.

Begitu pun aku. Aku harus bisa, sayang aku tak begitu punya nyali. Aku hanya bisa mempersembahkan lagu itu, untukku sendiri. Bahwa aku berhasil melawan trauma itu. Karena siapa?

Mungkin Zaldy telah menolongku, dengan caranya sendiri. Saat berulang kali smsnya aku acuhkan, Zaldy masih mau menyapaku. Seperti tak semestinya.

Ia tidak ingin mengikat, tapi juga tidak benar-benar melepas.

###

Sejak lulus SMA, aku membantu Mama di rumah, dan kuliah di kampus terdekat, mengambil jurusan bahasa Inggris. Tiap kali melewati rumah Zaldy, selalu terlihat sepi.

Tahun pertama kuliah, aku mendapatkan kabar bahwa Papa sedang sakit keras. Papa minta bertemu denganku.

Apakah rasa sakitku sendiri sudah pulih? Aku menangis saat melihat Papa kurus kering karena penyakitnya. Papa telah berada di titik akhir hidupnya.

"Maafkan papa, sayang," Ucap Papa dengan suara parau.

Tiba-tiba aku juga ingin meminta maaf pada Zaldy. Entah kenapa, airmataku tak tertahankan. Meski maaf tak mengembalikan yang lalu. Bukan karena maaf dari Papa aku akhirnya bisa bermain musik. Bukan. Sungguh, semua ini membingungkan.

Jauh sebelum itu, Zaldy bilang bahwa memaafkan diri sendiri adalah cara memulihkan keadaan.

Pada akhirnya aku berhasil mengatasi kerumitan hidupku sendiri. Hening, tafakur di pusara Papa, yang sempat sangat aku benci.

###

Zaldy mengunggah foto bersama teman-teman kuliahnya di facebook, dia melanjutkan ke Malang, mengambil jurusan Psikologi. Aku mengintip aktivitasnya melalui akun facebook dengan nama yang berbeda.

Ayahnya mengajukan pensiun dini sebagai PNS dan pindah ke Kota Batu. Zaldy juga baru berduka karena kepergian kakeknya. Rumah Zaldy di Blitar sekarang berganti penghuni.

Rumah yang asri dan sederhana itu, yang beberapa kali kukunjungi, yang di depannya banyak tumbuhan obat dan tabulampot. Teringat suguhan teh hitam asli wonosari, yang dibawa ayahnya dari Malang.

Perasaanku pun mendadak sunyi. Kota ini menjadi begitu sepi. Sepi sekali. Senyum polos Zaldy dan sapaan hangatnya tak pernah kutemukan lagi disini.

Terngiang saat dia memanggilku : Ra'

Maaf. Maaf untuk semuanya.

(Cerita pengiring dari cerbung "Mendung" dengan sudut pandang berbeda)

No comments:

Pages