Rambutku* - FLP Blitar

Oleh : Rozak Malta

Rambut adalah mahkota bagi manusia, dan memiliki gaya yang sangat beragam. Rambut juga syarat akan estetika filosofi. Banyak yang menilai seseorang dari gaya rambutnya. Rambut mohawk ala-ala anak Punk misalnya, selalu identik dengan nilai-nilai yang buruk seperti sulit diatur, suka minum miras, anarki, dan sebagainya. Apa iya? Pemilik rambut pasti memiliki nilai sendiri.

Dari gaya rambut yang beragam dan beribu-ribu macamnya itu, kali ini saya akan membahas mengenai gaya rambut mohawk. Kenapa mohawk yang akan saya bahas? ini bukan semata karena saya salah satunya, namun lebih keindahannya yang menurut saya sangat istimewa.
#

Mohawk sendiri adalah potongan rambut yang memotong hampir habis di sisi kanan dan kiri rambut, yang menyisakan bagian tengah tetap dalam keadaan panjang, dan sekilas hampir mirip seperti helem tentara Sparta pada abad ke 4 SM. Mohawk juga selalu identik dengan anak-anak Punk, meski mohawk tak harus Punk.

Memang, komunitas Punk-lah yang mengenalkan gaya rambut ini. Dengan perkembangannya, gaya mohawk tak lagi hanya dipakai oleh anak Punk dengan ideologi perlawanannya yang disimbolkan dengan rambut mohawk ini, namun banyak para artis dan juga masyarakat yang memakai gaya ini, seperti saya, heheheee....

Mohawk sering dikaitkan juga dengan gaya rambut penduduk di lembah Mohawk di bagian utara kota New York, Amerika Utara. Sebelumnya pernah juga ditemukan gaya rambut berjenis mohawk di Yunani yang menggambarkan Scythian (seorang pejuang olahraga) pada masa 600 SM. Meski demikian gaya rambut mohawk yang sekarang popular cenderung disebutkan berasal dari Amerika dan dibawa oleh komunitas Punk.

#

Saya adalah salah satu pencinta rambut gaya mohawk. Dari dua tahun yang lalu, saya sudah menjadi pemakainya. Walau pernah tobat dengan mencukurnya menjadi normal. Tapi sekarang kembali ke mohawk lagi.

Dengan berambut mohawk saya merasa lebih damai dan semangat. Ketika melihat foto-foto pasukan tentara Sparta yang sangat gagah dengan helm mohawknya, membuat semangat perang yang membara melawan segala bentuk lawan. Tanpa lawan berarti tak ada perjuangan.

Bagi saya, rambut tak hanya sekedar fashion, yang bahkan para kaum hawa rela menghabiskan uang banyak demi keindahan rambutnya. Rambut menjadi salah satu penilaian awal ketika mengenal seseorang. Gimbal selalu Reggae, plontos seperti TNI, dan seterusnya.

Selain itu, menurut pengalaman saya, rambut juga membawa magic yang dapat mempengaruhi pikiran bawah sadar. Bayangkan ketika anda selesai potong rambut, pasti anda merasakan perubahan, selain perubahan fisik. Orang yang memotong rambutnya mengikuti artis misalnya, pasti dia akan sedikit berpandangan bahwa dirinya mirip dengan artis tersebut. Begitu juga akan mempengaruhi sedikit pikiran bawah sadarnya.

#

Maka dari situ, saya berfikiran bahwa, masyarakat janganlah terlalu menilai rambut dengan pandangan-pandangan klasiknya itu. Mohawk tak selalu Punk, botak tak selalu profesor, dan sebagainya. Apalagi di zaman sekarang penampilan banyak yang menipu. Pengemis belum tentu miskin, berdasi belum tentu kaya, berpeci belum tentu Muslim dan seterusnya.

Saya teringat kata Alm. Nenek saya, "Ciptaane gusti Allah iku gaenek seng gak berguna. Elek'e telek sapi seng koyok ngunu yo dadi rabuk wit-witan. Elek bentuke gung mesti elek manfaate.”[]

Blitar, 27 Pebruari 2017

*ditulis untuk Writing Challenge FLP Blitar, dalam rangka menyambut Milad FLP ke-20.

No comments:

Pages