Project-S Chapter #6 - FLP Blitar

Project-S Chapter #6

Bagikan


Oleh Abi Subekti



#6 - Siomay pun kini telah dingin, sementara batagor hanya termenung di atas penyaringan

11 Juli 2019
-Ditulis oleh Cokro Andi



Aku menguap keras meluapkan rasa kantuk. Kebiasaan, setelah makan bukannya tambah energi malah tambah lemes. Keringatku terasa menetes merambati dahi, lalu turun ke pipi. Segera kuseka cepat dengan tangan kanan. 

Sedari tadi aku sibuk berselancar di instagram mengamati akun yang me-review jajanan di kota Blitar. Sarapanku sama Haris pagi ini sederhana, hanya mi goreng dengan lauk telur ceplok. Bukan karena kami hidup kekurangan ya, bukan. Emang males aja mau masak atau beli lauk macam-macam. Makanya sebagai pelengkap setelah sarapan, kami berdua rencananya mau cari jajanan sebagai hidangan penutup.

Dua hari ini, Dona izin pulang. Jadi dari kemarin aku nunggu kos ditemani Haris. Masha juga tidak ke kosan hari ini karena di rumahnya sedang ada acara katanya. 

"Takoyaki gimana, Ris?" tawarku.

Haris rebahan di tikar ruang tengah. Di mulutnya tersemat lolipop pemberianku-kembalian beli pulsa di konter depan. Dengkul sama sikunya masih tertutup kapas berbalut plester luka. Kayanya sih masih belum kering. Lagian, sok-sokan banget cari gara-gara. Emm, kalau dipikir bukan Haris yang cari gara-gara sih. Justru apa yang dilakuin Haris benar. Dia memegang teguh harga diri kami, tapi seharusnya emang jangan sampai membahayakan diri sendiri juga. 
"Enak gak, Kro? Belum pernah makan soalnya." 

"Ya, sama."

Kulanjut lagi scroll-scroll instagram. Sekarang pindah akun yang lain, tapi tetap seputar hal yang sama. Apa ya, yang enak di kota.

Tak berselang lama mataku menangkap postingan yang menurutku menarik, karena gambar thumbnail-nya menunjukkan seporsi siomay serta batagor di atas piring putih Sebenarnya tadi udah banyak postingan tentang siomay yang lain. Entah yang ini kayanya lebih menarik aja. Di caption tertulis pedagang siomay ini asli dari Bandung. Kayaknya, setahuku rata-rata pedagang siomay di sini selalu pakai embel-embel pedagangnya asli bandung. 

Lebih lanjut, di sana juga tertulis mengenai rasa siomay dan bumbu kacangnya yang enak serta terasa tambahan rempah-rempah gurih. Rasa daging ikan siomaynya segar nan harum, empuk, berpadu dengan lembutnya kulit pangsit pembungkus plus pelengkap lain seperti telur, kol gulung, kentang rebus, tahu bakso, juga tak ketinggalan pare. Di paling bawah tertera lokasinya, di depan MI Perwanida. Sepertinya patut dicoba ini.

"Siomay gimana Ris? Deket, depan MI Perwanida."

"Dimana tuh?"

"Timurnya Gebang." Aku menutup instagram lalu mematikan hp lewat tombol power.

"Boleh-boleh." Haris lekas bangun. "Bawa sepeda aja ya?" pintanya.

Aku mengangguk. Lalu mengambil sepeda di belakang. 

"Gue bonceng Kro."

"E ... E ... E. Dengkulmu mluwek eneh wi nko."

"Ngenyek we!

Dalam hati aku ngakak mendengar celetukannya. Sok kuat si Haris. Sekenalku dari dulu sampai sekarang, Haris hampir selalu tidak terima dengan rasa kawatir orang lain terhadap dirinya. Aku lantas hanya tersenyum, terus naik keboncengan. Kami berdua segera meluncur ke lokasi.


Baik Istana Gebang maupun MI Perwanida, lokasinya memang dekat dengan kosan dan kampus. Dari kosan, kami tinggal meluncur ke barat. Bisa lewat utara maupun selatan. Namun, kami pilih lewat selatan, berhenti sebentar di setopan pertigaan Polsek Sananwetan, begitu lampu menyala hijau, kami belok kanan lurus melewati Jl. Ahmad Yani, kemudian menyeberangi rel. Melewati Kementrian Agama Kabupaten, kemudian belok kanan masuk gang di sebelah barat masjid Kemenag, yang langsung tembus ke MI Perwanida.

Mendekat ke lokasi, ternyata gerobak abangnya berjualan sedikit ke timur dari pertigaan, dekat mushola, tapi masih terlihat ketika kami baru masuk gang. Beberapa orang mengepung di sisi kanan kiri gerobak. Tak kusangka pembelinya seramai ini, berarti pasti rekomended banget siomaynya sesuai caption di IG.

Aku dan Haris terpaksa mengantri. Masih tetap duduk di atas boncengan sepeda, kaki kananku menapak tanah, Haris juga masih duduk didepan dengan kaki kiri menumpu tanah agar sepeda tetap berdiri seimbang. Masing-masing kami rencananya mau beli seporsi siomay, dibungkus, buat dimakan di kosan.

Satu, dua, tiga konsumen yang antri berangsur pergi setelah pesanan mereka jadi. Kami mendekat, lantas memesan dua porsi siomay. 

Jl. Sultan Agung, nama jalan di depan MI Perwanida sepi, hanya beberapa motor serta mobil silih berganti menapaki jalanan Meski mepet salah satu destinasi wisata ikonik di Kota Blitar, Istana Gebang, di hari-hari biasa kawasan sini ya gini-gini aja relatif sepi dari pengunjung maupun kendaraan yang lewat. Kecuali kalau saat-saat weekend baru biasanya ramai. 

Tapi yang lebih ramai setahuku, di sekitar kawasan sini sih Kebon Rojo, mau hari biasa maupun weekend biasanya tetep ramai pengunjung.

Mas-mas penjual siomay bergerak mengambil baskom di laci bawah gerobak. Mengeluarkan dua buah baskom berisi potongan-potongan siomay, tahu bakso, serta kentang, lalu menatanya di dalam pengukus.

Uap air terhambur keluar begitu tutup pengukus diangkat. Hem, baunya sungguh menggoda sekali, aku memegangi perut. Meskipun baru sarapan, asli mendadak lapar lagi begitu aroma gurih menyerobot masuk hidung. Ternyata ramainya antrian pembeli tadi membuat beberapa ragam siomay habis, jadi masnya, yang meminta kami memanggilnya a', karena udah kebiasaan katanya, mengatakan pada kami untuk menunggu sebentar.

"Mas ...." Terdengar suara perempuan seolah masuk merayapi gendang telingaku.

Tidak begitu nyaring. Tapi terdengar jelas. Kulihat baik Haris maupun aa' penjual siomay diam saja. Apa mereka berdua tidak dengar? Aku menelan ludah. Berbagai dugaan langsung berkelebat dalam kepala. Ah, gak mungkin suara itu.

"Mas ... Mas." Lagi.

Suara apa itu? Aku sekarang diam mematung setelah suara panggilan kedua terdengar. Kok dua orang ini diam aja. Masak cuma gue doang yang denger.

"Kro?" Haris memanggil dengan sedikit berbisik.

"Ya."

"Denger?"

Wah, untung aja bukan gue doang yang denger. Aku menghembuskan napas lega. Gak peduli mau hantu atau apapun, meski muncul di siang bolong. Asal gak sendiri aja, pokok ada teman yang sama-sama ditakut-takuti, aku berani-beraniin.

"Jelas, Ris."

Aa' penjual siomay seperti mendengar pembicaraan kami meski lirih. Ia menatap kami sebentar. 

"Ada yang manggil di sana, Mas." Aksen bicaranya lagi-lagi terdengar sangat khas dialek Sunda. Bener berarti Aa'-nya asli Bandung.

Aku dan Haris memutar kepala bersamaan. Ke arah barat, menatap jalan yang sepi. Tidak ada siapapun. 

"Bukan di sana ...," Kami berdua memutar kembali kepala menatap Aa' penjual siomay, "tapi di selatan," terangnya tetap dengan aksen Sunda.

Kami memutar lagi kepala mengarah selatan. Tepat arah pertigaan. Terlihat seorang Mbak-mbak melambai ke arah kami. 

"Mas ...," teriaknya lagi seraya melambai-lambai.

Aku menunjuk diri sendiri tepat di dada. Mbak itu mengangguk dari kejauhan. Sempat aku dan Haris bertatapan sebentar sebelum akhirnya nangkring kembali ke sepeda dan bersiap meluncur. 

Haris mengatakan pada Aa' penjual siomay untuk membungkus pesanan kami dengan bumbu di pisah. Sebelum kami meluncur ke selatan, seorang pengendara motor melambat kemudian berhenti di depan gerobak dan lekas memesan batagor.

Haris mengayuh sepeda, menuju tempat Mbak-mbak tadi yang masih berdiri di pinggir jalan.  

"Kami Mbak?" tanyaku memastikan begitu laju sepeda berhenti di depannya.

"Iya, Mas."jawab Mbaknya lembut. 

Ia memakai kaos putih begambar bunga krisan. Kaos itu dilipat, dimasukkan dalam celana denim lebar. Kacamata bulat bening tersemat di atas rambut yang tergerai. Sementara sandal gunung hitam menopong kedua kaki putihnya. 

Gila, stylish banget, mana cantik lagi. Kontras sekali dengan suasana di belakangnya. Sebuah rumah berarsitektur jadul yang lusuh.

Di belakang Mbak itu bediri, terhampar tiga, empat buah kardus besar. Dua diantaranya terbuka, berisi beragam benda-benda kuno, ada mesin tik, radio, kamera-kamera antik, piringan hitam, serta sejumlah pernak-pernik kuno nan antik lainya. Selain itu, rumah di belakangnya tak kalah antik. Sebuah rumah jadul yang pekarangannya mepet dengan tembok bangunan samping kanan kiri. Arsitektur rumah ini semi model rumah-rumah jaman kolonial.

Sepasang pintu persegi panjang berwarna biru, berdiri di depan ruang tamu. Di sampingnya terpasang jendela beruas putih, masing-masing satu di kiri dan kanan. Atapnya yang rendah seolah menegaskan bahwa rumah ini memang tidak dibangun di masa sekarang. Emm, aesthetic

Sepasang pintu biru itu terbuka, di dalam ruang tamu nampak beberapa perabot ditaruh sembarangan. Tebakanku sih, ini bakalan jadi kafe bergaya retro gitu. Maklumlah, di kota kecil ini, sekarang banyak bermunculan kafe-kafe dengan desain unik. Menyesuaikan pasar kawula muda yang ingin semuanya serba instagramable.

"Ada apa ya Mbak?" selidik Haris. Kami berdua masih nangkring di atas sepeda. Sedetik kemudian aku sadar kayanya kami tidak sopan bertanya sambil duduk. Aku kasih kode Haris untuk turun.

"Ini, Mas, mau minta tolong bantuin geser lemari."

"Wah, kebetulan, tepat sekali Mbaknya minta tolong kepada kami. Jangankan geser lemari. Geser-geser ning ledhokan pating kelewer. Kami juga bisa." kataku sumringah.

"Ahahahaha." Mbaknya tertawa sampai merunduk dengan satu tangan menutupi mulut. "Jagan gitu ah, Mas, takut saya."

"Emang apaan Kro?" 

Emm, sepertinya hanya Haris yang gak paham jokes-ku, atau dia sedang berpura-pura saja.

"Enggak. Di mana lemarinya Mbak?" Aku lekas melangkah masuk pekarangan, diikuti Haris. Ia lalu menyenderkan sepeda di sisi dalam tembok pagar depan.

Mbaknya melangkah masuk duluan. Kami mengikuti. "Di dalam sini, Mas?" Ia menunjuk sebuah lemari tinggi ramping, tapi nampak kokoh, berpintu kaca. Bentukannya khas lemari jaman kakek-nenek dulu kala. 

"Mau digeser ke mana ini, Mbak?" 

Mbaknya menatap Haris sebentar. "Agak sini aja Mas, tepat di pojokan aja. Soalnya bagian sini mau saya isi aksesoris." 

"Oke, siap." jawabku.

"Sampeyan berdua angkat bagian sini." Mbaknya menunjuk bagian bawah kanan kiri lemari. "Aku tak dorong dari sini saja. Eh tapi Mas yang satunya ini sedang terluka ya?"

"Enggak, enggak, Mbak. Biasa gimmick," jawab Haris tergagap. Tangannya memegangi siku yang masih terbungkus kapas dan plester tadi.

Mbaknya hanya tersenyum, lalu segera mengambil tempat. Aku dan Haris juga segera menata posisi. Kalau lemari ramping gini sih enteng aja. 

Mbaknya mulai menghtiung sampai tiga agar kami menggesernya bersamaan, dan ....

"Heg!" Aku mendengus. Buset! Berat amat. Lemarinya bahkan tidak tergeser satu senti pun dari tempatnya semula. Lemari apa ini.

"Lemarinya berat banget Mas. Maklum, bahannya aja Kayu jati dan balau tua." Mbaknya tersenyum kecil melihat usaha kami tidak membuahkan hasil. Tepatnya sih belum membuahkan hasil.

"Waduh." Haris bergidik. "Oh, ya sampeyan namanya siapa Mbak? Kita bahkan belum kenalan, lho."

Aku membatin. Oh, iya. Iya juga ya. Dari tadi mboknya-mbaknya aja, gak tahu siapa namanya. 

"Hehe, kenalkan saya Arlin." 

Ia mengulurkan tangan, yang langsung kusambut terlebih dulu. Genggaman tangan Mbak Arlin terasa lembut.

"Saya, Cokro."

Haris menyodok lenganku dengan sikunya. Wajahnya setengah ditekuk, nampak kesal padaku karena menyerobot mendahului bersalaman tadi. 

"Saya, Haris." 

"Yaudah, lanjut. Sedikit-sedikit aja pasti nanti bisa." tawarku dengan lagak yang kukeren-kerenkan. 

Meski Mbak Arlin sepertinya lebih tua dari kami berdua, kalau agaknya cocok pepet aja lah.

Sepuluh menit berselang. Setelah kami bertiga sama-sama mengeluarkan tenaga terkuat kami, hanya untuk menggeser lemari kuno sejauh satu meter saja, dan akhirnya berhasil. Kurasakan peluh bercucuran memenuhi wajah yang kemudian aku seka dengan tisu pemberian Mbak Arlin. Berpacu dengan napasku yang masih ngos-ngosan.

"Rencana ... buat rumah Mbak?" tanyaku. 

Kami sama-sama masih berdiri, karena kursi di dalam rumah ini penuh debu yang belum dibersihkan. Haris menatapku, menganggukkan kepala, lalu ganti menatap Mbak Arlin. 

Mbak Arlin tidak langsung menjawab, ia memutar pandangan ke sekitar. "Kafe, Mas."

Tepat sekali.

"Oh, berarti rumah ini beli?" sahut Haris.

"Enggak." Lagi-lagi Mbak Arlin mengedarkan senyum. Senyum teduh yang membuat wajahnya kini terlihat sungguh manis. 
"Ini rumah Nenek saya. Udah gak dihuni setelah Beliau meninggal. Sementara saya dan keluarga sekarang domisili di Batu."

"Malang?" tanyaku memastikan.

"Iya. Aku ambil S2 di Malang. Terus jadi kepikiran untuk coba-coba bisnis di Blitar sini. Kelihatannya pasarnya rame."

Aku serta Haris mengangguk-angguk paham. 

"S2 apa Mbak kalau boleh tahu?" tanya Haris seperti penasaran.

"Sebenernya gak boleh tahu." jawab Mbak Arliin sok serius. 

Aku nyengir ngece menatap Mbak Arlin. "Rausah guyon ...." 

"Ahahaha. S2 Manajemen, di UB Mas."

Kami terdiam sejenak selepas aku dan Haris meng-oh bersama mendengar jawaban Mbak Arlin.

Udara di dalam rumah terasa pengap meski seluruh jendela yang menempel dinding dibuka. Gak heran sih, belum semua sudut ruangan ini dibersihkan. Maklum, rumah tua, bahkan kupikir bukan cuma kami yang pengap, hantu penunggu sini pasti juga kepengapan. 

Eh, iya ya, bukannya rumah tua tak berpenghuni pasti ada hantunya. Mana mau dijadiin kafe lagi.

"Eh, Mas, boleh minta tolong lagi?" Suara Mbak Arlin membuyarkan lamunanku.

"Apa Mbak? sahut Haris sigap.

"Ini buat ambilin pesanan kamera jadul di toko pasar Makam Bung Karno. Saya mau lanjutin nata barang sama bersih-bersih di dalem sini." 

Mbak Arlin keluar sebentar, memeriksa ransel yang tergeletak di atas kardus yang masih tertutup selotip, mengambil secarik kertas, lantas masuk kembali dan memberikannya pada kami. Sebuah kertas kuitansi.

"Di pasar ada nama tokonya kok, Mas. Tinggal kasih kuitansi ini."

Di atas kuitansi tertulis nama toko, Cahaya Lama. Hem, sepertinya aku familiar dengan nama yang mengandung kata cahaya. Kayanya slogan kuno.

"Eh, sebelum ke sana. Sampeyan pergi dulu ke toko bunga, barat perempatan situ, ya?" Mbak Arlin menunjuk arah selatan. "Soalnya yang punya toko suka kalau dikasih bunga hias. Ini juga tinggal ngambil." Ia mengangsurkan secarik kuitansi yang lain.

Wah, kemungkinan pemiliknya juga orang jadul ini. Suka dengan hadiah-hadiah yang menunjukkan perasaan secara tersirat.

"Baik Mbak." Aku menjawab paham. 

Kami berdua segera pamit, mengahmpiri sepeda kami yang terasa panas jika tersentuh setelah berapa lamanya terguyur sinar matahari siang. Kini ganti aku yang membonceng. 

***



Langit sedikit meredup. Sinar matahari siang tertutup awan kelabu. Aku memarkirkan sepeda di sisi selatan perpus. Tepat di depan plang dilarang masuk, berjejer dengan beberapa motor. 

Di pelataran depan antara perpustakaan dan museum. Patung Bung Karno duduk sendirian, hanya ada beberapa orang lalu lalang, maupun yang berhenti untuk sekedar berfoto atau mengobrol. 

Aku dan Haris meneruskan langkah, mendaki tangga hingga sampai di depan gapura gerbang makam. Kami main nyelonong masuk begitu saja, meski biasanya tamu harus mendaftar terlebih dulu. Lagian juga gak ada satu pun petugas menghentikan kami. Dengan pakaian kasual apa adanya yang kami kenakan saat ini, barangkali mereka pikir kami hanyalah bocah iseng.

Pasar makam Bung Karno sebenarnya bisa dicapai lewat pintu keluarnya di utara, tanpa harus masuk areal makam tentunya. Tapi, kurasa lebih cepat lewat depan. Tinggal masuk areal makam, terus lurus mengikuti pintu keluarnya, sampailah di pasar.

Pasar makam terlihat ramai hari ini. Makam tidak selalu dikunjungi para peziarah meski di hari libur. Terkadang juga, hari biasa akan penuh oleh mereka yang ingin mendoakan salah satu Bapak Proklamator bangsa ini. Biasanya lagi, untuk rombongan peziarah, banyak yang datang dari luar Blitar.

Kami menyusuri lorong pasar makam yang di kanan kirinya terhambur berbagai barang jualan. Mulai dari baju, batik, topi, pernak-pernik kayu, bambu, beragam kerajinan, gerabah, serta masih banyak lainnya. Setelah beberapa kali berbelok mengikuti jalanan pasar, kami tiba di depan sebuah toko yang etalase di dalamnya memamerkan beragam barang antik. Bahkan aura toko ini juga tak kalah antik. Penuh aroma-aroma wewangian yang entah bunga apa, tapi baunya lembut, serta menguarkan kesan kuno tokonya. Aku tidak sabar ketemu pemiliknya pasti orangnya antik juga, nih.

"Permisi, silakan di pilih." 

Lah benar kan. Pemiliknya tak kalah antik. Seorang pria tambun, mungkin kisaran lima puluhan tahun tersenyum ramah begtiu Aku dan Haris berhenti di depan tokonya. Jambang tipis keabuan melingkari pipi, lantas tersambung menjadi satu dengan kumis lebat di bawah hidungnya. Emm, nampak aesthetic seperti kelokan suangai amazon. Bapak ini mengenakan kacamata bulat dengan tali tersampir di leher. Rambut lebatnya bercampur antara yang hitam dan putih. Ia hanya mengenakan stelan kaos hitam bergambar delman dengan celana warog lengkap beserta ikat pinggang lebarnya.

"Iya, Pak. Mohon maaf, kami disuruh mengambil pesanan kamera." Haris menyerahkan kuitansi
pemberian Mbak Arlin tadi.

Bapak itu membacanya dengan seksama. Lalu menatap kami bergantian. Haris menoelku dengan sikunya. Oh, ya tadi disuruh beri bunga.

Aku membuka kantong kertas yang kutenteng, menunjukkan sebuah bunga kaktus merah lebar. 
"Oh, ya ini, Pak. Ada titipan bunga pemberian Mbak Arlin. Kaktus Gurun Gobi."

"Asli gurun Gobi?" tanyanya terlihat serius.

"Asli, Pak. Asli kata penjualnya begitu. Mungkin itu nama bunganya." Aku kemudian nyengir sungkan.

"Oh, bagus-bagus. Terima kasih, ya." Tiba-tiba ia tersenyum ramah. Diletakkannya bunga tadi di atas meja sampingnya. Tepat sebelah jejeran radio antik, yang barangkali umurnya jauh lebih tua dariku dan Haris.

"Tapi, ini janjiannya bukan sama saya, Nak. Sama anak saya. Dia juga hobi barang antik. Langsung saja ke rumah ya, Nak. Anaknya ada di rumah kok."

"Mohon maaf, jauh Pak?" 

"Enggak, cuma sini. Jalanan ini ke utara, lalu pertigaan ngiri seratus meter, kanan jalan," jelas bapak yang entah siapa namanya ini, karena kami juga belum kenalan.

Ia segera melangkah cepat ke belakang, menuliskan sesuatu di kertas. Lalu kembali, dan menyerahkannya pada kami. Di sana tertulis alamat serta nomor hp anaknya. 

Tak buang waktu kami segera keluar pasar makam. Dengan berbalik melewati makam lagi. Mengambil sepeda, kami yang terparkir di selatan perpustakaan.

***


Angin hangat berembus pelan. Menerpaku yang mulai terengah mengayuh sepeda. Kebiasaan orang Indonesia, kebiasaan. Katanya dekat, nyatanya pasti jauh. Sudah hampir satu kilometer aku mengayuh sepeda dari perpus. Panas ... haus ... lelah, letih jadi satu.

"Ini masih jauh Ris?" Aku melirik Haris di boncengan.

Haris memandangi lekat-lekat google maps di hp-nya. "Deket, di depan ada pertigaan, belok kiri. Rumahnya gak jauh dari jalan masuk pertigaan."

Semoga saja benar. Begitu terlihat pertigaan, aku melambat. Kemudian berbelok ke kiri. Sekitar seratusan meter dari pertigaan Haris menyuruhku berhenti tepat di depan rumah yang dimasksud.

Berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari hobi orang tua dan anak itu tentang hal-hal berbau kuno. Rumah ini justru dibangun dengan gaya arsitektur modern yang minimalis. Cat rumah ini didominasi putih, dengan aksen krem. Pagar depan dibuat setinggi dada orang dewasa berwana hitam. Ada taman kecil disudut depan rumah, plus kolam ikan dengan air mancur. Pinggirannya ditata pot-pot bunga indah. Terlihat sungguh menyegarkan di siang yang panas ini.

"Di samping rumah ini ada, gang kecil. Masuk situ mentok, Kro."

Aku menoleh ke belakang. "Bukan ini?"

"Bukan."

Kami akhirnya masuk melalui sela-sela jalan kecil yang mungkin hanya muat pres satu badan mobil. Menyusurinya mentok, ada sebuah rumah sederhana bergaya kuno. Bayangin aja sendiri ya, rumah lawas lah pokoknya. Malas menulis deskripsi lagi aku.

Rumahnya tidak tepat lurus dengan jalanan ini. Namun, sedikit ke kanan. Di sekitarnya banyak pohon-pohon. Pohon rambutan, pisang, dan juga mangga.

Rumah itu nampak sepi, tidak terlihat ada orang. Tapi pintu depannya terbuka. Begitu sampai, kami langsung uluk salam. Seseroang menjawab dari belakang. Seorang bocah laki-laki keluar. 

"Ada yang bisa dibantu?" tanyanya.

"Mas Soni, ada?" tanyaku.

"Mas Soni keluar dari pagi, Mas."

Lah. Jadi tadi shareloc lama yang dikirim lagi.

Suara motor terdengar dari arah belakang. Seseorang bapak-bapak berhenti, lalu mengahmpiri kami. Ia sempat tersenyum ramah ke arahku dan Haris.

"Disuruh Soni ngambil kotak merahnya, Fer."

Bocah tadi namanya Fer. Entah Fer apa terusannya gak tahu, kami gak kenalan. Ia masuk kembali, lantas keluar menenteng sebuah kotak peralatan kecil warna merah.

"Ini ada yang cari Mas Soni, Pak. Dia di rumah Bapak?" Fer bertanya seraya mengulurkan kotaknya.

"Iya, lagi benerin kulkas. Monggo derek mawon lekne wonten perlu." tawarnya ramah tamah, pakai Krama lagi.

"Tebih?" tanya Haris.

"Celak, mriku."

"Kulo rantos mawon, Pak. Mushola terdekat kira-kira mana ya," tukasku cepat. Dekat-dekat ... jauh kali maksudnya.

Haris ku kode untuk memeriksa jam di hp. Sebenarnya aku juga bawa hp, cuma males ngeluarin dari kantong. Sekalian aja nyuruh dia yang hp-nya ditenteng buat lihat gmaps. Udah hampir jam dua ternyata, perasaan cepet banget. Mending cari mushola saja, sholat Dhuhur kemudian ditinggal santai.

"Kalau mushola sini agak jauh. Mending ke masjid aja. Pertigaan, ke utara seratus meter, kanan jalan." Fer memberikan arahan dengan gerakan tangan.

Bapak-bapak tadi kembali meluncur ke rumahnya, dan kami juga ikut meluncur, ke masjid.

"Gantian kubonceng, Kro."

"Oke."

"Tapi lu yang ngayuh, ya."

"Dituntun wae, Ris."

***



Setelah selesai menunaikan kewajiban. Aku dan Haris membeli segelas es tebu, yang kebetulan pedagangnya mangkal di depan masjid. Pelataran masjid ini memang luas, lantainya berpaving kotak yang disusun miring dan sepertinya memang digunakan berjualan, karena selain gerobak es tebu, ada dua gerobak lain yang dibiarkan begitu saja dan hanya ditutup terpal. Palingan pedagangnya gak jualan hari ini.

"Bukanya sore, Mas." jawab Mbak-mbak penjual es tebu, setelah sebelumnya Haris bertanya kenapa dua gerobak itu tidak dibuka.

Aku hanya fokus menyedot es ku melalui sedotan sambil memandangi sisanya di dalam gelas. Fuh, seger banget. Siapa sangka ngambil satu kamera aja segini ribetnya.

Setengah jam berlalu, setelah Haris mengirim chat yang mengatakan kami menunggu di masjid, dan jika Mas Soni sudah sampai di rumah silakan dibalas, belum kunjung dibalas. Aku sudah kehabisan topik obrolan dengan Mbak-mbak penjual es tebu. Haris mengatakan ia baru chat ulang Mas Soni. Maka kuputuskan untuk rembahan dulu di srambi masjid yang adem. 

Ah, tidak ada ubin yang lebih menyejukkan ketimbang ubin masjid emang. Adem bener.

"Udah di rumah, Kro." Haris setengah berteriak memberitahu.

Bih, belum ada lima detik punggungku menyentuh lantai. Aku langsung bangun kembali.

***



"Apa?" 

Aku tercengang ketika Mas Soni mengatakan kayanya kamera jadul di genggaman tangannya sembari diamati nomor serinya itu bukan kamera pesanan Mbak Arlin. Sudah nunggu sampai sore harus nunggu lagi memastikan itu kamera yang dipesan atau bukan.

Haris memiringkan badan, berbisik. "Lu tenang, Kro. Nyambung dari chapter kemarin, harusnya sisi tempramen gue keluar lagi di chapter ini."

Aku mengiyakan. Kami sama-sama duduk di kursi sederhana ruang tamu.

"Gimana, Mas? Masak kita harus nunggu lagi. Udah sampai sore lho ini?" Tanpa disadari nada suara Haris meninggi.

Aku melipir mendekatinya kemudian berbisik. "Ketinggian dikit, Ris."

Haris hanya melirik, tetap mempertahankan ekspresinya. Namun, gerakan matanya seolah berkata paham.

Mas Soni meletakkan kameranya di atas meja. "Saya ambil sebentar ke rumah temen saya kalo gitu. dekat kok."

"Di mana?" selidik Haris.

"Nglegok. Dekatnya Candi Penataran."

"Jauh dong! Mau sampai malem kita harus nungguin? Mas anter sendiri deh, saya kasih alamat Mbak Arlin."

Kutahan tubuh Haris yang hendak berdiri. Dari sini ke Candi Penataran sebenarnya dekat. Tapi kalau ngambil kamera trus di sana njagong ya lama. Sepertinya opsi Haris ada benarnya. Biar kamera jadul pesanan Mbak Arlin diantar sendiri oleh Mas Soni jika memang dia sendiri yang melakukan kesalahan, bukan kami.

"Gak. cuma dua puluh menit. Saya ambil sekarang juga. Mas-mas nunggu di sini aja gak apa-apa." 

Kami belum sempat menjawab sepatah kata pun. Mas Soni sudah bergegas masuk, mengambil helm, dan melengos keluar menyalakan motornya. Tampaknya dia seorang yang sangat bertanggung jawab. Kami bahkan belum sampai beranjak dari kursi, Mas Soni sudah memacu motornya pergi.

Aku merasa tak enak hati menunggu di dalam rumah orang. Kami akhirnya memilih menunggu lagi di masjid. Sekarang pukul tiga lebih sepuluh, sudah masuk waktu Ashar. Jadi kami memutuskan sholat sekalian.

Setelah selesai sholat. Seorang pengurus masjid mendatangi kami yang tengah duduk di tangga serambi. Mengatakan bahwa ia baru saja mengisi kotak yang biasa dipakai untuk bersedekah makanan. Ia mempersilahkan kami untuk mengambil jika berkenan.

Kebetulan, perut udah keroncongan dari siang sebenarnya, dan mumpung ditawarin, aku dan Haris segera mengambil masing-masing satu nasi kotak serta air mineral gelasan. Beberapa pedagang gerobaknya tutup tadi lekas menyiapkan dagangannya. Dua gerobak itu ternyata penjual tahu kres dan sempol ayam. Sementara Mbak-mbak penjual es tebu tadi belum menunjukkan tanda-tanda akan tutup.

Tak terasa sudah jam empat lebih. Sudah lewat dari dua puluh menit yang dijanjikan oleh Mas Soni. 

"Yuk, Kro. Mas Soni, baru chat udah di rumah."

Tuman! Baru aja ngomong udah chat aja.


"Nah, ini nih sesuai dengan pesanan Mbak Arlin. Terima kasih, ya. Maaf udah buat Mas-masnya menunggu lama."

"Gak apa, Mas. Kami langsung saja. Udah kesorean juga." Aku langsung saja pamit begitu menerima kamera yang terbungkus kotak kardus dari Mas Soni. Lalu kuoper kotaknya ke Haris.

"Lain kali cek dulu, Mas!" celetuk Haris sebelum kami melangkah pergi. Sementara Mas Soni hanya tersenyum tanggung.

***



"Wah, terima kasih ya, Mas Haris, Mas Cokro. Kamera ini masih berfungsi," Mbak Arlin berkata sumringah. Ia memutar kamera itu, mengamati setiap seluk beluk bagiannya, "jadi selain nanti buat pajangan, juga akan saya belikan roll film buat berburu foto. Kayanya di Blitar banyak spot foto aesthetic."

"Kota Blitar emang banyak spot menarik, Mbak. kalau mau minta ditunjukin, hubungi saya aja." tawarku dengan riang gembira. Ya, barangkali cocok.

"Bisa aja lu, Kro. Temennya di kasih ruang juga dong."

Aku setengah berbisik ke Haris. "Inget Masha, Ris."

"Hus!"

Mbak Arlin menahan tawa memandangi kami. 

"Yaudah, kami mohon pamit Mbak. Udah sore," kataku.

"Eh, sebentar. Ini, terima kasih, Ya."

Ia mengangsurkan sebuah amplop ketika kami berjabat tangan. Aku menolkanya. "Eh, apa ini Mbak? Gak usah."

Kami memang menerima apa yang diberikan orang-orang yang telah kami bantu. Tapi rasanya permintaan tolong dari Mbak Arlin ini membuat kami sungkan jika harus menerimanya. Lagian juga cuma diminta ngambil kamera, meski lama dan muter-muter kagak jelas.

"Eh, jangan gitu dong. Kalian udah bela-belain sampai sore, lho."

Aku berusaha mengembalikan amplop. Kurengkuh tangan Mbak Arlin. Meletakkan amplop tadi, kemudian kukatupkan jari-jemarinya yang setiap kukunya berhias kutek merah muda. Lembut banget. Kenapa ya tangan cewek-cewek selalu terasa lembut? Perasaan meski cowok gak pernah angkat-angkat tangannya tetap aja kasar.

"Terima kasih banyak. Tapi, mohon maaf tidak us-"

"Heh, heh!" Haris menarik tanganku yang masih memegangi telapak Mbak Arlin.

Ganggu aja si Haris.

"Ya sudah. Sebagai gantinya, ketika kafe ini opening nanti. Kalian saya beri gratis empat hari makan dan minum di sini."

"Wah, terima kasih sekali, Mbak," Haris menunjuk mukaku, "tapi temen saya ini makannya gak aturan. Nanti Mbak Arlin rugi lagi."

"Santai. Gak apa-apa," Balas Mbak Arlin setengah tertawa. 

Kami kemudian segera pamit. Sementara Mbak Arlin meneruskan menata rumah itu. Ih, gak serem apa sendiran sore-sore gini. 

Begitu kakiku menginjak halaman berbatu depan rumah. Aku teringat sesuatu.

"Ris, bukannya tadi kita beli siomay?"

"Masak?"

"Gak ada yang masak."

"Mosok?"

Aku menatap Haris. "Iya"

Haris menatapku balik. Tanpa aba-aba kami langsung berlari keluar. Melihat bahwa aa' tukang siomay beserta gerobaknya ternyata masih mangkal di samping pertigaan. Sebenarnya tadi liat, tapi gak ingat sama sekali kalau kami tadi beli, bahkan kami kan udah pesen dari sebelum siang. Gawat, pasti aa' siomay kecewa dengan kami.

Aku menuntun sepeda sambil berlari. Sementara Haris sudah berlari duluan di depanku.

"A', maaf kami yang ... pesen siomay ... tadi siang." jelas Haris ngos-ngosan. Ia mencoba mengatur kembali napasnya. 

Aku mengangguk, sambil berusaha mengatur napas juga. Maklum, kami kan generasi muda jarang olahraga. Kalaupun kami olahraga ya palingan cuma badminton, itu pun jarang.

"Oh, Iya. Saya sudah mau tutup. Kalau gak diambil rencana saya bawa pulang lagi, Mas. Ini sambelnya saya pisah. Tapi sudah dingin, Mas. Mau diangetin lagi?"

"Enggak usah, A'. Langsung aja, maaf sekali sudah merepotkan," jelasku.

Aa' penjual siomay lalu menarik keresek. Memasukkan dua plastik siomay kami plus sambel kacangnya. 

"Oh, ya, Mas. Ini ada sedikit sisa batagor. Mau?" tawarnya.

Aku dan Haris melirik sisa batagor di atas peniris minyak yang nangkring di atas wajan.

"Enggak usah, A'. Terima kasih. Udah ngerepotin masa dikasih bonus," kata Haris.

"Tidak apa-apa, Mas. Kalau sisa gini biasanya memang saya kasih. Soalnya saya dan teman-teman juga udah bosen makan sisa batagor. Kebetulan siomaynya habis semua jadi gak ada sisa, cuma batagor. Saya plastikin sekalian, ya?" Aa' itu kemudian mengambil plastik, memasukkan satu persatu sisa batagor ke dalamnya.

"Waduh, terima kasih banyak, A'. Saya jadi gak enak. Semoga rejekinya selalu lancar, laris manis siomaynya," ucap Haris mendoakan aa'-nya.

Aku dan Aa' penjual siomay lalu mengucapkan amin bersamaan.

Dalam hati, aku sangat bersykur sih. Lumayan, batagor bisa buat lauk malam ini. Kalau siomay kan bisa diangetin besok pagi, jadi lebih hemat, hehehe.

Kami kemudian menaiki sepeda, aku ganti membonceng di depan. Langit sore ini masih terang kemerahan. Setelah kami berbelok kanan, melewati pertigaan timur MI Perwanida. Aa' penjual siomay tadi lekas mendorong gerobaknya menjauh ke barat, arah Istana Gebang. Sosoknya berangsur-angsur tenggelam dari pandanganku selaras sepeda yang kugowes semakin jauh meluncur ke selatan. Semakin jauh ... semakin jauh ... tiba-tiba sampai kosan.

No comments:

Pages