Project-S Chapter #5 - FLP Blitar

Project-S Chapter #5

Bagikan

 

Oleh Abi Subekti

 

 

 

#5 – Berita

9-10 Juli 2019

-Ditulis oleh Masha Putri

 

 

Hai, hai, hai. Kembali lagi bersama aku, Masha. Hari ini, kami berempat mau bantuin teman Haris buat bersih-bersih sekret. Jadi teman Haris ini adalah anggota Mapala di UIB. Kebetulan, hari ini sampai besok Mapala ada diklat di luar kota. Nah, teman Haris dan satu teman mapalanya tidak ikut karena ditugasi bersih-bersih sekret yang amburadul banget katanya. Karena dirasa kewalahan cuma dua orang, dia minta kami untuk membantu.

 

Begitu selesai beres-beres setelah sarapan di kosan, kami berempat bergegas menuju kampus. Kami berjalan berjajar lewat gang selatan kosan, dimana jalanan gang ini membujur lurus ke barat, tembus jalan raya depan kampus sisi barat. Sengaja kami memutar lewat sini, lantara gerbang utara kampus dikunci. 

 

Diriku berjalan di tengah, samping kananku ada Haris, sementara Cokro dan Dona  di samping kiri. Di sebelah kanan jalan gang, berjajar beberapa rumah warga yang hampir setiap hari selalu sepi dari aktivitas. Sependek yang kutahu selama di kosan, memang gang ini minim aktivitas warga, tapi gak tahu juga sih, soalnya aku jarang-jarang menginap di kos. Sementara di sisi kirinya, membentang tembok kampus yang menjulang empat meter tingginya. 

 

Kami terus berjalan hingga ujung gang yang dekat jalan raya, kemudian membelok ke kiri, memasuki kampus dari gerbang barat. Ada dua pos jaga di halaman barat kampus, masing-masing satu di sebelah utara, dan sebelah selatan. di depan antara pos ini, tepatnya di belakang tulisan universitas yang menghadap jalan raya, terdapat dua buah pohon tinggi besar yang rindang. Dahannya sesekali bergoyang-goyang di hempas angin. Aku tidak tahu ini pohon jenis apa, tapi diameter pohonnya besar, kulitnya putih kecokelatan, serta dahan bawahnya dipangkas hingga menyisakan dahan atas yang lebar dan rimbun. 

 

Tidak banyak yang kami bicarkan sejak beranjak dari kosan tadi, hanya haha-hihi haha-hihi tidak penting.

 

Di depan dua pohon besar, membentang dua bidang taman rumput berwarna hijau cerah. Rumputnya tebal, tapi tingginya tidak beraturan, terlampau lebat kurang terurus. Meski begitu, hamparan hijaunya menguarkan aura kesejukan, membuatnya nampak seperti oase sejuk di tengah padang pasir. 

 

Lalu di sisi utara, dekat tembok, terdapat bangunan persegi tempat menyimpan sebuah generator listrik. Di sebelahnya ada bangunan memanjang berisi mesin-mesin ATM dari berbagai bank konvensional. Sementara area pinggir mepet tembok ditanami pohon-pohon bambu kuning serta bunga-bunga.

 

Hamparan langit di atas kepala kami memancarkan warna biru cerah hari ini, gumpalan-gmpalan awan putih berarak rapi di bawahnya. Sekarang masih pukul sembilan lebih empat puluh, tapi menurutku sinar matahari sudah terasa panas menjamah kulit.

 

Kami terus melanjutkan langkah menyusuri lorong teras ruang kelas di kampus barat ini, kemudian berbelok kiri. Melewati batas antara kelas barat dan gedung utama. 

 

Kemudian membelok ke kanan, berjalan lurus masuk ke celah di belakang lantai bawah, gedung utama sisi timur. Celah ini menyimpan bebarapa ruangan yang mungkin dulunya dimaksudkan untuk sekret setiap UKM. Meski dari tiga ruangan berjajar, hanya ada Mapala yang menghuni di sini. Aku pernah dengar kabar sih, dulunya pernah ada sedikit gesekan─sengketa ruang UKM, tapi sekarang, sepertinya sudah tidak menjadi masalah. 

 

Ketika kami datang, ada dua orang tengah duduk santai di depan ruangan. Laki-laki dan perempuan. Di depan si laki-laki ada sapu dan pengki bekas digunakan. Sementara si perempuan memegang serbet dan semprotan kaca di genaggaman. Kayaknya mereka sudah nyicil bersih-bersih dari tadi. 

 

"Udah selesai nih," celetuk Haris. Dua orang tadi memandangi kami.

 

"Baru mulai, kali," sahut di perempuan. Dari responsnya, sepertinya dia ini yang temannya Haris.

 

"Yaudah, terus tugas kami?" tanya Haris memastikan.

 

Perempuan tadi berdiri, membersihkan celananya dari debu-debu. "Kalian bisa beresin lemari dulu, ada dua. Beresin aja berkas-berkas di dalamnya terus masukin kresek merah. Semuanya ya, biar nanti kami yang pilah kalau udah selesai. Oh ya, di laci-laci meja juga, oke?"

 

"Siap-siap," jawab Haris penuh semangat. 

 

Kami kemudian bergegas menjalankan tugas yang diberikan. Lantai di dalam sekret ini nampak bersih karena baru saja di sapu. Namun, beberapa barang terlihat masih berantakan tidak karuan. Ada kartu uno, kartu remi, papan catur, kertas monopoli, pamflet iklan mobil, pamflet sales hp, botol air mineral, dan banyak barang lain berserakan. Maklum sih, sekret UKM yang dihuni banyak orang pastinya akan banyak barang juga yang berserakan. 

 

Sebenarnya tidak jauh beda dengan kosan kami, hehe. Kelihatan bersih dari luar, tapi dari dalamnya seperti kapal pecah meski setiap hari dibersihkan. Ya gimana lagi, kalau pas lagi kumpul pasti tetap banyak sampah di sana-sini. 

 

Diriku dan Dona kemudian memunguti barang yang berserakan di lantai terlebih dulu. Memilahnya sesuai dengan jenis masing-masing, lantas memasukkannya ke dalam kantong plastik hitam besar. Barulah Haris dan Cokro yang membereskan berkas-berkas di dalam lemari. Karena ada dua lemari, mereka membagi tugas masing-masing satu lemari.

 

Dua orang tadi juga mulai bersih-bersih kembali. Kali ini si laki-laki ganti mengelap kaca jendela, sementara si perempuan langsung memilah barang-barang yang kiranya masih perlu. Sementara yang sudah tidak diperlukan akan dibuang ke tempat sampah. 

 

Meski letakknya terpencil, tapi sekret ini tidak sepengap yang aku bayangkan. Mungkin meski banyak barang berserakan, sekret ini rutin dibersihkan jadi udaranya tetap bersih. Ditambah terdapat pengaharum ruangan menempel di tembok dan di belakang kipas angin. Sepanjang koridor depan yang membentang dari utara ke selatan juga bersih. Apalagi di balik tembok pembatas kampus merupakan hamparan persawahan, pastinya menambah segarnya udara setiap kali angin bertiup.

 

Satu setengah jam berlalu. Pekerjaan kami akhrinya usai. Sekret Mapala ini telah bersih dan rapi seperti sedia kala. Sebelum pergi kami diajak makan siang bersama dulu. Lantas kemudian segera pamit, kembali ke kosan untuk beristirahat. 

 

Hah, lumayan sih capeknya kalau soal beres-beres. Bukan hanya capek fisik, tapi capek batin juga lihat barang-barang amburadul tak karuan.

 

DRRRTT! DRRRT! DRRRT!

 

Suara ponsel bergetar. Ponsel Haris, ia segera mengangkat teleponnya. 

 

"Halo, wa'alaikumussalam. Senggang Pak. Oh bisa-bisa, tapi sore aja gak papa Pak? Baik, sama-sama."

 

"Siapa Ris?" tanya Cokro. Kami melanjutkan langkah setelah sempat terhenti di tengah Aula terbuka. 

 

Aula terbuka di gedung utama sangat sepi. Hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan, kecuali hanya terlihat tiga anak berjalan dari selatan. Aula terbuka ini ternaungi oleh kanopi yang terpasang dari ujung selatan sampai ujung utara, membuatnya sangat teduh meski di siang yang terik seperti sekarang.

 

"Ini Pak Kan, minta tolong buat ngerapiin rumput di taman barat, sama bunga-bunga hias yang lain. Kujanjiin aja sore nanti, kan udah teduh, gak panas."

 

Dona manggut-manggut. "Wah, hari ini full bersih-bersih kita." 

 

Aku juga ikut mengangguk. "Terus alatnya?" tanyaku.

 

"Nanti di bawain, ada pemotong rumput, gunting rumput, sabit, cangkul. Lengkap," jawab Haris.

 

Angin bertiup menderu, menebarkan kesejukan. Menurutku hari ini cuaca memang sedang terik, jadi begitu ada angin bertiup rasanya sungguh melegakan sekali.

 

"Permisi. Mohon maaf!"

 

Kami menoleh ke sumber suara. Tiga orang yang kulihat tadi kini berjalan terburu-buru menghampiri kami, apalagi laki-laki yang di depan. Mereka menghambur lantas menghentikan langkah, kemudian melempar tanya.

 

"Mohon maaf apakah Kakak-kakak yang membuka jasa bantuan di situ?" tanya si laki-laki. Telunjukknya mengarah ke kosan. Dia menghampiri kami dengan dua teman perempuannya.

 

"Ya," jawab kami hampir bersamaan.

 

Matanya berbinar. Dari mimik mukanya tergambar antusiasme. Ia lalu mengeluarkan kartu pers. Bukti bahwa ia anggota LPM di UIB. Tiga orang itu lalu memperkenalkan diri masing-masing. 

 

Si laki-laki tadi Van, tingginya sejajar dengan Cokro, dengan rambut pendek terpangkas modis. Van mengenakan kemeja flanel, dipunggungnya tersemat ransel hitam. Dua teman perempuannya, masing-masing Keila dan Gebi. Sama-sama berkerudung dan membawa ransel.

 

Mereka bertiga meminta waktu kami untuk bertanya-tanya beberapa hal. Aku merasa canggung. Sedari awal kami tidak berniat sedikitpun untuk menjadi ya famous, tapi mau gimana lagi, kalau akhirnya harus jadi famous gini. Duh, dadaku terasa jedag-jedug.

 

"Lu aja yang ge’er, Sha." Aku menatap Dona di samping kananku. Ia menatapku balik, tatapannya ngece pol, plirak-plirik­­ koyo mama-mama judes ndek sinetron. Suara apa barusan. Suara hati Dona kah?

 

"Tau, cuma gini aja udah famous-famous ...." Suara  hati Cokro? Aku menoleh ke arahnya di samping kiri dekat Haris. Cokro juga mentapku ngece. Ke ... kenapa kalian bisa ... ada apa ini? Aaaaaa.

 

"Jadi boleh tiga pertanyaan aja ya Mas, Mbak?” Van mengatakan hanya wawancara dadakan yang singkat. “Kami sebelumnya dapet kabar tentang ini, terus tadi melihat kalian keluar dari kos situ. Ternyata bener." 

 

Kami mengangguk. Mungkin mereka dengar tentang kami dari orang-orang, tapi karena saat ini kebetulan pas papasan, mereka memanfaatkannya untuk segera mengorek informasi.

 

"Sejak kapan biro ini berdiri?"

 

"Masih satu bulan sih. Mulai tgl 12 Juni sampai sekarang," jawab Haris singkat.

 

"Lalu jangkauan targetnya?" Ganti temannya yang bertanya. Keila.

 

Haris mempersilahkan salah satu dari kami gantian menjawab. Dona menawarkan diri. "Tidak ada kekhususan. Jadi siapapun yang butuh bantuan, boleh langsung datang. Asalkan yang positif, bukan yang aneh-aneh."

 

"Lantas luaran atau output yang ingin dicapai oleh Anda sekalian. Apakah ini akan berkepanjangan selama Anda kuliah?"

 

Gantian Cokro menjawab. "Kami belum berpikir sejauh itu. Jangka pendeknya hanya sampai liburan berakhir ini saja. Outputnya, emm ... manfaat yang dirasakan orang lain. Itu kan?" Ia menoleh ke arah kami bertiga, kami langsung menggangguk mengiyakan. 

 

Aku sama sekali belum menjawab atau bahkan sekadar menambahkan. Mana udah tiga pertanyaan lagi. Kenapa rasanya gugup sekali, padahal waktu presentasi di depan kelas biasa-biasa saja.

 

Mereka ngobrol sebentar. Mungkin dirasa sudah cukup.

 

"Oh ya satu lagi boleh?” tawar Van.

 

Kami kembali mengangguk. 

 

“Apakah hal ini sengaja dibuat agar menjadi viral?" Van melanjutkan pertanyaannya. 

 

Kami berkernyit. "Tidak, tidak. Tidak ada niatan ke arah sana," terang Haris. Disusul kami bertiga mengiyakan.

 

"Iya ... jadi ... kami hanya ingin membuka jasa bantuan saja. Tidak lebih." Diriku sedikit menambahkan penjelasan. Yey, akhirnya.

 

"Tapi kami dari LPM saja tidak tahu kalau ada hal semacam ini di dekat kampus. Justru kami mendapat informasi dari orang luar. Taukah Mas Mbak, bahwa banyak orang di luar sana mengatakan kalian hanya anak-anak yang mencari uang dengan menawarkan jasa amatiran ke orang yang membutuhkan?"

 

DEG!

 

"Maaf?" Cokro melangkah maju mendekati Van.

 

Dua teman Van setengah berbisik padanya untuk tidak melanjutkan tanya atau mereka akan dihukum. Kelihatannya mereka anggota baru di LPM. Tirk psikologinya terbaca dengan jelas. Ia hanya memancing. Tidak seperti anggota lain yang kukenal, yang lebih terlihat "profesional” soal jebak-menjebak dengan pertanyaan.

 

"Biarkan aja Ris. Dia hanya memancing," bisikku. Tatapan Haris meluapkan rasa tidak nyaman.

 

"Mohon maaf sekali. Mungkin rumor ini belum sampai ke telinga Mas Mbak. Tapi fakta di lapangan desas-desus udah menyebar, seperti yang kami terima ya gini. Ini bukan saya lho yang mengatakan," Van mengangkat kedua tangannya, "bagaiamana pendapatnya?"

 

"Tidak ada. Kami rasa cukup," jawab Haris singkat. Ia segera berbalik badan, akan melagkah pergi. Cokro dan Dona bergerak mencoba menenangkannya. 

 

"Baik, baik. Terima kasih atas jawaban dan waktunya Mas, Mbak. Semangat!” 

 

Kami berempat sekarang merasa canggung. Aku yakin dua teman perempuan anak ini juga. Dih, sok banget. Kami kemudian pamit, memilih untuk segera berlalu pergi meninggalkan mereka.

 

“Tapi, fakta tetaplah fakta kan ...." Van tertawa kecil sebelum kami melangkah jauh.

 

"Sialan!" Tanpa diduga Haris berbalik lagi, lalu menarik kerah baju Van erat-erat. Keila dan Gebi panik. Kami bertiga juga.

 

Kami berusaha menenangkan Haris yang terengah dalam amarahnya. Begitu tangannya lepas, kami langsung mengajaknya pergi. Dari kejauhan, Keila dan Gebi terlihat protes dengan apa yang dilakukan Van barusan.

***

 

Sore hari. Sesuai janji kami pada Pak Kan. Begitu semua peralatan untuk bersih-bersih siap. Kami langsung membagi tugas bersih-bersih taman di halaman kampus barat. 

 

“Sok asik banget tadi tu anak.” Haris mendorong mesin pemotong rumput memutar kembali ke arah barat, ia sekarang bergerak dari timur. Satu larikan sudah diselesaikan olehnya. Rumput di sisi kirinya masih nampak rimbun, kontras dengan larikan sisi kanan yang sudah terpotong rapi, meski masih terdapat sisa potongan rumput yang belum aku sapu.

 

“Kita cari sampai ketemu nanti. Gak betah gue” kata Haris kemudian masih dengan kejengkelan yang meletup-letup.

 

“Hei ....” Cokro membalik badan, menatap arah kami, setelah sebelumnya ia memangkas bunga-bunga yang terlampau rimbun di bawah tembok, di antara pohon bambu kuning. 

 

Dona juga menghentikan sebentar pekerjaanya mengangkut sampah-sampah plus daun-daun kering. 

 

“Ris, kita kan udah bicara tadi. Kita tunggu aja kelanjutan wawancaranya diolah jadi berita gak, barulah bisa memutuskan untuk bergerak.”

 

“Ini tentang harga diri woi! Kalian kok santai sih dari tadi?” sergah Haris. Ia juga turut menghentikan peekerjaannya.

 

“Bener kata Dona, Ris. Tadi kan udah rembugan juga─”

 

“Gue kesel banget, Sha.” 

 

“Tahan, Ris, tahan.” Aku setenah berbisik. Berharap Haris menahan rasa kesalnya.

 

Haris tidak menjawab. Ia kembali meneruskan pekerjaannya, kami bertiga juga.

 

***

 

Keesokan harinya, 10 Juli 2019. Hari ini Cokro sama Dona berangkat duluan ke Kediri. Perlombaan antar SD sekaresidenan digelar hari ini. Dona mendampingi tim estafetnya yang akan bertanding. Sementara Cokro mengajak dua anak timnya yang gagal bertanding untuk menonton temannya yang lain. 

 

Aku masih di rumah. Anak didikku sama Haris masih akan bertanding nanti siang lepas Dhuhur. Mereka yang ikut lomba diantar oleh guru mereka naik mobil. Sebenarnya kami dibolehkan berangkat bersama maupun berangkat sendiri. Jadinya ya aku pilih berangkat sendiri nanti aja, nyusul sama Haris.

 

Ibuku menyapu lantai dapur selepas kami beres masak tadi. Diriku duduk di kursi samping meja. Di meja dekatku sudah tersaji secangkir teh hangat ditemani roti bakar. Meski Ibu biasanya sudah masak sayur di pagi hari, tapi aku terbiasa sarapan makanan yang kuanggap ringan sebelum makan makanan berat.

 

Pagi ini, bapak sudah berangkat kerja ke bengkel lain. Jadi, selain di bengkel miliknya sendiri, bapak sering dipanggil juga sebagai montir di salah satu bengkel khsusus truk dan kendaraan besar yang ada di Kanigoro. Adik laki-lakiku juga sudah berangkat ke sekolah. Ia masih kelas dua SMP.

 

"Jadi ke Kediri Sha?" tanya Ibu. Aku mengikuti gerakan tubuhnya yang masih menyapu lantai.

 

"Jadi, siang kok." Tanganku meraih sepotong roti, lantas menyantapnya perlahan.

 

Tak berselang lama, sebuah pesan dari Dona mendarat di grup kami berempat. Pesan berisi link berita yang terarah ke web LPM. Dari judulnya saja berita ini pasti memuat wawancara kami kemarin. Namun, setelah kubaca-baca semakin ke bawah terdapat beberapa pernyataan yang tidak pernah kami sampaikan sebelumnya. 

 

Aku kembali ke ruang chat. Cokro ternyata sudah mengetik panjang lebar menjelaskan bahwa nanti, jam sembilan PU (pimpinan umum) LPM mengajak kami bertemu di kedai Vocci selatan Bon Rojo. Kebetulan PU LPM adalah kakak tingkat Cokro di Teknik Informatika. Cokro juga sudah meminta mereka untuk menghapus berita yang tidak sesuai itu. Tampaknya Cokro mengantisipasi reaksi Haris tentang ini.  Karena Cokro sama Dona tidak bisa ikut hadir. Jadinya hanya diriku dan Haris yang mewakili pihak kami. 

 

Benar-benar di luar dugaan. Bisa-bisanya anak itu nulis berita dengan tambahan keterangan palsu seperti ini. Sebelumnya sempat terlintas aku akan menghubungi temanku di LPM, tapi karena Cokro sudah memberitahu katingnya selaku PU LPM, ya kuurungkan niatku tadi.

 

"Oke," balas Haris sangat singkat. Kayak aneh aja sih melihat reaksinya soal berita ini. Kuharap pada kenyataanya ia benar-benar bisa menahan emosinya.

 

Pukul sembilan lebih dua puluh. Aku dan Haris baru tiba di Vocci. Kami berboncengan. Tak kusangka PU LPM telah menunggu dari tadi. Ia ditemani seorang perempuan.

 

Kami kemudian saling berkenalan. Si perempuan bernama Nur, Ketua Redaksi Penyiaran LPM, secara teknis semua tulisan yang termuat di website LPM harus dengan persetujuan dirinya. Namun, untuk kasus kali ini tidak. Ia mengaku kecolongan. Nur meminta maaf pada kami terkait tulisan ini.

 

"Memang beberapa anggota baru kali ini terlalu menggebu-gebu. Mereka kelewat idealis sampai mengarang pernyataan yang sebenarya diharamkan dalam ranah pers. Kami sekali lagi meminta maaf. Atas nama LPM, saya selaku PU, berjanji akan menindak anggota sesuai aturan yang ada," jelas PU LPM, namanya Imam.

 

"Saya mau anaknya sendiri yang meminta maaf Mas, di kosan kami, saat ini juga," kata Haris tegas. Kami semua terkesiap mendengarnya.

 

Mas Imam kembali menjelaskan dengan diplomatis. "Baik, tapi kami akan memastikan dulu apakah anaknya bisa atau tidak. Karena kami juga sudah melayangkan teguran padanya."

 

"Sekarang juga, atau tidak ada maaf sama sekali."

 

Kami bertiga terdiam mematung mendengarnya. Haris bersikap tegas untuk hal ini. Maklum, ini menyangkut harga diri kami sebenarnnya. Jadi ia bersikap demikian, tapi jika jatuhnya berlebihan kurasa itu juga tidak baik. Aku bingung harus nimbrung bagaimana. Sebenarnya menarik kembali berita yang beredar, kemudian disusul klarifikasi serta permintaan maaf sudah cukup bagiku, yang terpenting harga diri kami pulih sebelum beritanya tersebar meluas.

 

Haris tiba-tiba berdiri dari tempatnya duduk. "Saya pikir cukup. Terima kasih responsnya. Saya izin duluan." 

 

Wajah Mas Imam dan Mbak Nur terlihat kurang lega. Kupikir mereka juga sama dongkolnya dengan Haris akan kelakuan anggota baru mereka. Ditambah mereka yang menanggung malu di hadapan orang lain.

 

"Gue duluan Sha."

 

"Ris."

 

Ia berbalik, menatapku dengan tatapan tidak mengerti.

 

"Kita kan boncengan.”

 

Haris memasang wajah seolah baru ingat sesuatu. "Oh, iya, yuk."

***

 

Pukul sebelas di hari yang sama. Kami menunggu Van yang kemarin mewawancarai kami di kampus. Perasaanku tidak tenang kali ini. Jantungku terus bertalu-talu, seolah akan meloncat keluar. Dona dan Cokro juga mengatakan padaku untuk sebisa mungkin menahan Haris, karena telepon dari mereka tidak diangkat oleh Haris. Chatnya pun sama sekali tidak dibaca.

 

Satu jam kami menunggu. Haris tidak mau kuajak masuk ke kosan. Ia lebih memilih menunggu sambil duduk di bangku cor teras depan. Van bilang akan ke kosan tidak sampai tengah hari. Kepalaku sekarang setengah pening memikirkan apa yang akan Haris lakukan nantinya.

 

Sebelas lebih lima belas. Seorang dengan motor bebek hitam berhenti di depan kosan. Van. Ia melepas helm kemudian merapikan rambutnya. Haris langsung berdiri begitu melihat anak itu beranjak dari motor. Melangkah menghampiri Van dengan amarah yang nampak ditahan-tahan.

 

"Ris ...," kataku mencoba menggapai tangan Haris, berusaha menahannya. Namun, Haris segera menepis tanganku─abai. 

 

Ia terus berjalan menedekat. Aku merasakan seolah waktu berjalan sangat pelan. Mereka berdua sama-sama melangkah dalam gerak slwomo. Haris semakin mendekat, tangan kanannya berangsur-angsur terkepal. Di sisi lain, Van membuka satu-persatu kancing kemejanya, seolah siap dengan apa yang akan terjadi. Jaraknya dekat, tapi rasanya pertemuan mereka sangat lama sekali. Bahkan orang lewat di seberang gang yang menoleh ke arah kami ikut-ikutan slowmo.

 

Lama bener, diriku sudah engap karena deg-degan berlebih ini. Di sisi lain aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Dan ... akhirnya ... kini ... aku melihat kembali pribadi lain dari Haris yang telah lama dipendamnya selama ini. Sisi gelap dari dirinya sewaktu di SMK dulu.

***

 

"Iya, terima kasih atas bantuannya. Mohon maaf sekali Bu." Jariku lalu menekan tombol merah di layar, mengakhiri panggilan telepon.

 

Aku dan Haris tidak jadi berangkat ke Gor Jayabaya Kediri siang ini, tempat dimana festival digelar. Diriku meminta tolong Mbak Eli sebagai pendamping pengganti tim kami. Perlombaan bidang kreatif yang kami handle hanyalah pameran hasil karya juga rancangan karya paling menarik. Dimana konsep sekaligus pengerjaan sebelumnya telah dilakukan sendiri oleh anak-anak itu dengan arahan dariku dan Haris. 

 

Jadi meski kami tidak jadi hadir, tidak akan terlalu berdampak banyak bagi mereka. Ya, walaupun pastinya mereka akan kecewa. Tak apalah, aku berjanji seusai perlombaan, kami akan mendatangi mereka di sekolahan lanjut makan bareng.

 

Haris duduk mmenyender tembok di ruang tengah kosan. Kaki kanannya ditekuk, sementara kaki kiri ia selonjorkan. Aku baru saja membantu membersihkan luka di jempol, lutut, serta siku kiri Haris, lantas memberinya plester untuk dipakainya sendiri.

 

"Kalau masih sakit teriak aja, Ris," ejekku sembari berlalu ke dapur. Aku hendak membuat minuman hangat untuk kami berdua. Siang ini tiba-tiba langit lekas gelap tertutup mendung. Kurasa akan turun hujan.

 

 "Bodo," jawabnya jutek.


No comments:

Pages