Kemarin, Bedah Puisi Bersama Alfa Anisa dan Jon Blitar - FLP Blitar

Kemarin, Bedah Puisi Bersama Alfa Anisa dan Jon Blitar

Bagikan

Minggu, 1 Maret 2020, area Makam Bung Karno selalu ramai seperti biasa. Penuh pengunjung. Setelah menitipkan tas di tempat penitipan Perpustakaan Bung Karno dan berbasa-basi sebentar dengan Pak Satpam, saya dan Luluk memasuki perpustakaan.

Luluk langsung menuju ke lantai dua untuk mengembalikan buku. Sementara saya tetap di lantai satu. Hanya saja langsung ke ruang koleksi khusus. Belum ada teman-teman FLP Blitar disana.

Walau sudah ada sedikit bocoran dari Fahri tentang suasana ruang koleksi khusus, tetap saja saya terhenyak. Ruang petugas koleksi khusus dipindah sebelah timur dekat rak-rak buku sehingga ruangan barat menjadi kosong dan bisa dijadikan tempat pertemuan.

Ketika saya masuk, terlihat kursi tersusun berderet rapi seperti di kelas-kelas formal. Saya disambut ramah Pak Purwo dan Heppi, peserta baru.  Kami bersama-sama merubah susunan kursi berbentuk melingkar, sehingga tiap-tiap peserta nanti bisa saling berhadapan.
Satu-persatu peserta kelas puisi 2 mulai berdatangan dan memenuhi kursi. Acara pun dibuka oleh Nezli. Lalu dilanjutkan kultum oleh Bu Miza tentang pentingnya menjaga niat dalam menulis. Yaitu usahakan untuk mencari ridho Allah saja.

Kemudian bedah buku dimulai. Hari ini rencananya kita akan membedah 7 puisi. Berurutan puisi yang dibedah adalah milik Pak Adi, Imro'atus, Abi, Bu Miza, Bu Ning, Ikla Harmoa, dan Nezli. Kami melalui perbincangan yang seru selama beberapa menit ke depan, membahas tentang pemilihan diksi, unsur-unsur puisi bagaimana menghidupkan puisi. Semua puisi dibedah dengan teliti oleh Jon Blitar dan Alfa Anisa. Tentunya semakin menambah semangat kami untuk menulis puisi lebih banyak lagi. 

Seperti biasa, kami selalu larut dengan kegiatan ini dan lupa pada waktu yang tiba-tiba saja mendekati pukul 1 siang. Di luar perpustakaan, hujan mulai turun rintik-rintik. Acara ditutup oleh Nezli, meski kami enggan mengakhiri kelas ini.
Perbincangan tentang kepenulisan masih berlanjut sembari menunggu hujan reda. Entah kapan semua benar-benar meninggalkan perpustakaan. Saya dan Luluk harus pamit pulang duluan, karena ada anak-anak yang menunggu kami di rumah.
Tetapi esok kami pasti datang lagi berbincang puisi di kelas puisi FLP Blitar ini.

"Bagaimana caranya agar tempat dalam puisimu tidak hanya sekedar tempelan? Coba lihat, rasakan dan dengarkan apa-apa yang ingin kamu tuliskan. Fokus pada satu objek, buatlah benda-benda di sekitarnya seolah hidup. Jadi pembaca bisa merasakannya." Kata Alfa Anisa yang sukses terngiang dalam ingatan.

No comments:

Pages