Menengok Kematian - FLP Blitar

Oleh : Ahmad Radhitya Alam

Kematian adalah akhir dari kehidupan fana yang mengakar di dunia. Yang penuh luka-luka, merekah duka-duka sampai melebur menjadi dosa. Dan kematian merupakan jalan lain. Tol pengharapan menuju kekekalan. Arah menuju surga yang kita harapkan.

Langit di atas kota ini masih abu-abu semu, menyisakan sisa hujan yang belum sepenuhnya tumpah. Sedangkan dari bawah kaki langit, jalanan ini masih tetap ramai berlalu-lalang. Tak akan pernah berhenti, dan yang hilang berganti. Semua terjadi bekali-kali, berlalu pergi dan muncul yang baru kembali. Homo sapiens memang rakus dan tamak, mereka tak akan membiarkan sedetik pun berlalu tanpa mengerjakan sesuatu entah dengan hanya melongok menatap kosong pada tong sampah pinggir jalan atau berjalan di pinggir jalan atau berjalan tergesa melewati gerombolan sejenisnya.

***

    Senja ini terasa lain. Awan-awan bergelantung pekat di langit senja. Dan rinai-rinai masih membasahi jalanan kota. Aku bangun dan dadaku terasa sangat sesak. Aku tahu selama ini tidak pernah mengalami gangguan pernapasan. Aku bangkit dari tempat tidur dan mulai berpikir di mana aku kini berada. Namun kepalaku sangat berat untuk diajak berpikir, hingga tak sengaja aku kembali menutup mata, dan pernapasan mulai mereda.

Beberapa jam berlalu. Aku agak bingung, aku terbangun untuk kedua kalinya. Namun bangunku kali ini terasa sangat berbeda. Aku melihat tubuhku sendiri kaku dan kian membiru. Merasuk duka-duka sembilu. Dingin semakin menusuk ke sela-sela jasad matiku, ketika senja merintikkan air-air langit. Hujan menderas menuju temaram. Menghapus luka-luka jahanam di ujung jalan.

***

Barangkali memang ini terdengar aneh, aku dapat menengok kematianku sendiri. Wajah khas anak desa dan kulit coklat kekuningan itu memang mudah untuk dikenali. Tapi tubuh kaku serupa batu dan kulit yang mendingin menandakan kematian telah tiba. Dan di samping jasadku, aku mendengar pembicaraan tentang pemakaman. Tentu saja soal kematianku.

Sirine berlarian dengan kencang mobil ambulan. Bertalu-talu dan bersahut-sahutan memenuhi jalanan. Aku sangat tegang ketika merenung. Memikirkan segala sesuatu aku kerjakan dalam baying-bayang dunia yang maya. Karena kematian ini akan membuka jalanku menuju Tuhan. Dan perenungan merupakan hulu dari penantian pembalasan.

“Tuhan, apakah aku dapat menggapai surga dan mendapat ridhamu”, renungku dalam hati.

***

Sore ini aku berkunjung ke rumah. Rumah peraduan tempat tinggal dan gubuk pengharapanku selama mampir minum di dunia. Tadi siang jasadku dimakamkan, setelah kemarin malam jasad kakuku dimandikan oleh sanak keluarga, dikafani dan disholatkan oleh handai taulan. Aku langsung saja menuju ruang tengah.

“Hmm… sebuah aroma yang memikat kerongkongan," gumamku. Terhidang berbagai makanan kesukaan sebagai sebuah penghormatan.

Sehabis para jamaah keluar secara teratur dari surau untuk sembahyang. Tahlilan pun akhirnya dimulai. Doa dan zikir bertaburan dalam suasana penuh kekhusukan. Terkadang tangis juga terdengar. Tangis dari keluargaku, yang belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergianku untuk selamanya. Akupun ikut tersedu sedan, takut untuk terus merindukan mereka. Juga terharu dengan berbagai ritus-ritus doa yang dirapal secara berjamaah oleh para tetangga dan sanak keluarga.

Doa-doa tersebut terus bergulir sampai beberapa hari kemudian, dan selama itu pula melakukan aktifitas yang sama. Aku mulai mengikhlaskan bahwa aku telah meninggal, begitu pula para sanakku. Dan kematianku ternyata tidak hanya menyisakan kesedihan. Tetapi juga menghadirkan kebahagiaan bagi para tetangga yang mendapat rezeki dadakan, kenduri makanan selamatan.

***

Dan ternyata kematian adalah suatu keniscayaan. Takdir yang telah dituliskan tuhan sejak zaman azali di Lauhul Mahfudz dan semuanya telah tertuang dengan rinci dalam Al Quran. Kita juga telah diingatkan oleh utusan-Nya. Kematian tiba-tiba akan dating tanpa dapat kita sadari dan perkirakan, ataupun persiapkan. Nyawa akan tiba-tiba keluar dari kerongkongan. Ditarik oleh Izrail, sang malaikat kematian.

Kematian adalah kesempurnaan, menuju alam kekekalan. Dan ini hanyalah perpindahan dari dunia yang fana. Di sana kita akan kekal untuk selama-lamanya. Karena kematian adalah awal kehidupan tanpa kematian. Akhirnya akupun usai juga.[]

No comments:

Pages