Kopi Hitam yang Tak Jadi Kupesan - FLP Blitar

Kopi Hitam yang Tak Jadi Kupesan

Bagikan



Tidak selalu saya memesan kopi hitam kala nongkrong di kafe atau warung. Ada banyak menu yang bisa dipilih, biar tidak terkesan itu itu saja.

Selain matcha latte, kadang cappucino latte, atau wedang jahe, yang lebih sering. Bukan kopi hitam. Sebab untuk minuman yang satu ini, ada perlakuan khususnya.

Biasanya saya memesan bubuk kopi via online, kadang juga memesan kopi Sirsah yang asli Gandusari. Menyeduhnya sendiri, dengan penuh penghayatan, sembari menyelipkan doa agar lewat segelas kopi ini, bisa lahir dua atau tiga tulisan.

Itu jadi rutinitas setiap pagi, ketika di rumah. Bagi saya menyiapkan kopi sendiri dengan membeli jadi itu berbeda. Apalagi kopi kaleng, apalagi kopi sachet. Haduh.

Memang kadangkala pesan di kafe lebih enak. Peraciknya sudah terlatih, dipadu dengan takaran yang pas dan alat yang memadahi. Namun rasa tidak hanya terletak pada lidah. Kepuasaan, mood, dan sebagainya, ada pada proses ketika kita sendiri yang meraciknya, sekalipun dengan keterbatasan wawasan dan sarana.

Kata El, dalam filosofi kopi, ini bukan soal kecerdasan, tetapi soal rasa.

Ada rasa ketika tulisan yang sedang saya buat harus beradu dengan waktu, sebelum kopi benar-benar dingin. Sebab ketika kopi kehilangan panas atau kehangatannya, ia menjelma jamu atau air gula. Entah kenapa ada orang yang suka minum ice kopi.

Meskipun saya sendiri bukan penikmat kopi sejati, sebab masih harus mengikutkan beberapa sendok gula untuk diaduk, mendistraksi kemurniannya.

Masih mending dibanding variasi rasa kopi yang kini ditawarkan, sampai orang mengeluh kenapa ada kopi yang pahit. Padahal kopi kan memang pahit dominan. Kalau ada asam dan manis, itu hanya sebagian, dari teknik seduhnya.

Sejak kakek saya masih bekerja sebagai pandai besi, yang menghasilkan celurit, cangkul, dan sebagainya, tiap pagi selalu tersaji kopi hitam super pahit pada sebuah cangkir lurik, yang kadang saya intip dan ikut mengicipinya.

Kopi khusus orang dewasa, sebab terjamin kemurniannya. Tanpa ada campuran jagung atau beras. Sangrainya pun khusus. Biasanya nenek menyiapkan dua toples. Satu toples khusus kopi murni yang hanya boleh diminum orang dewasa, sebagai minuman penguat sebelum bekerja.

Minum kopi memang bikin kuat. Kuat fisik dan kuat berpikir. Dalam bahasa arab kopi disebut Kohwa.

Berpikir memang butuh energi yang cukup. Namun ketika nongkrong di kafe atau warung, saya tidak sedang ingin berpikir berat. Inginnya bersantai saja. Sebab itu tak jadi memesan kopi hitam.

Cukup wedang jahe, untuk menghangatkan tubuh dan suasana. []

Senin, 25 November 2019
Ahmad Fahrizal Aziz

No comments:

Pages