Kebetulan Pengganti Takdir* - FLP Blitar

Karya : Mila Jamilaturrosyidah

Ada hal yang Tuhan tak inginkan dariku
Entah itu impianku atau imajinasiku
Sesuatu kebetulan yang menjadi pelarian,
Dari takdir yang di inginkan Tuhan
Sehasta bahkan sejengkal lagi, sendiri
Mengejar sesuatu yang pergi berlari
Tanpa pernah dimiliki

[]

Membicarakan tentang menulis, tak bisa dilepaskan dari yang namanya membaca. Entah itu hanya rentetan kata tanpa makna, membaca akan tetap disebut membaca. Usiaku yang masih terpotong tiga belas tahun, masih menghasilkan sedikit pengalaman. Tentang membaca buku, ataupun tentang menulis.  Tak sebanding dengan mereka yang berusia di atasku.

Minatku membaca muncul sejak aku mulai mengenal huruf abjad dengan baik. Media baca apapun akan tetap kubaca, entah koran atau secuil nota pembayaran di atas meja. Bahkan aku dulu kerap dimarahi, sebab mengobrak-abrik laci lemari di gudang, barangkali menemukan buku untuk dibaca. Karena tidak menemui apa yang aku cari, aku merengek meminta buku untuk kulahap habis-habisan.

Akhirnya, beberapa hari kemudian barulah aku mendapati sebuah buku yang disodorkan ayah, ketika beliau pulang. Buku bersampul hijau tua, gambar Ka’bah melekat di tengah-tengah, dan nama Nabi Muhammad SAW. ikut terpampang di sana. Niatku melahap habis buku itu musnah, bahkan ketika masih sampai pada paragraf di lembar pertama. Rentetan kata yang beranak-anak menjadi rentenan kalimat rumit untuk anak seusia tiga tahun.

#

Merasa tidak puas, aku meminta sebuah buku lagi. Buku kedua berisi tentang Kesembilan Sunan yang menyerbarkan Islam di Nusantara. Sayangnya, buku bersampul pria berjenggot dengan syurban yang membelit di kepalanya, memiliki nasib yang sama dengan buku pertama. Sulit dipahami. Ditambah dengan ukuran tulisan yang kecil, menambah kebingunganku kala itu.

Di hari-hari berikutnya, aku mulai muak dengan buku-buku itu, apalagi buku yang diberikan orang-orang padaku. Buku yang tidak bisa dibaca sama sekali, hanya berisi garis- garis untuk kemudian ditebali. Bagian mana yang bisa disebut membaca? Dan buku-buku seperti itu sama sekali tak menarik.

#

Aku  justru berulang kali bolak-balik ke rumah sakit untuk check-up. Dalam sehari aku harus meminum tiga gelas lebih teh cengkih super pahit. Pada puncaknya, dua hari setelah hari ulang tahun ketiga, aku melakukan operasi. Dan sejenak rasa penasaran itu mengabur. Hingga aku mendapati teman sekamar inap denganku sedang membaca majalah, entah itu majalah apa, aku malu untuk sekedar bertanya.

#

Rasa penasaranku dengan ‘Buku’ semakin membuncah ketika telingaku mulai menangkap kata 'sekolah’. Bayanganku, bermacam-macam buku akan dipajang berderet di lemari yang  panjang, bacaan yang akan menenggelamkan masa kecilku. Belum lagi, kakak sepupuku terus merecoki otakku tentang keindahan dan enaknya bersekolah. Membuatku tergiur dengan  ucapannya, jadilah aku memaksa masuk di Taman Kanak Kanak, meski usiaku belum mencukupi.

Namun aku justru kerap berkelahi, dengan alasan berebut buku di perpustakaan, saling tarik menarik rambut, hingga dilerai oleh guruku. Sejak itu, aku malas ke perpustakaan, dan menghabiskan waktu istirahat dengan bermain ayunan di taman belakang sekolah. Begitu seterusnya, hingga aku pun kembali  malas menyentuh buku.

#

Memasuki Sekolah Dasar, aku amat girang, memiliki banyak teman, dan tentu saja buku pelajarannya lebih berisi dibanding bukuku sewaktu masih Taman Kanak- Kanak. Hari demi hari terlewati di sekolah yang menghadap langsung di hamparan sawah, bersanding dengan parit yang kerap meluap ketika hujan besar turun.

Aku  merasa ada yang aneh dengan sekolahku  itu. Barulah ketika kelas dua Sekolah Dasar aku tahu.
Sekolah dengan cat hijau dengan variasi berbeda-beda, ayunan dan pohon yang dijadikan markas ulat bulu berada di tengah sekolah. Di bagian lain, hanya terdiri dari lapangan upacara berlantai paving merah, yang sudah berlumut dan memakan banyak korban, ruang-ruang kelas di lantai dua dan lantai satu, lantai satu masih ditambah ruang guru kecil–berdinding papan triplek dicat hijau, meja besar berlapis taplak putih, dan ruang kepala sekolah memotong seperempat luas ruangan itu,  tiga pohon jati raksasa menjadi markas utama kerajaan ulat bulu.

#

Di sanalah keanehan itu kusadari, sekolah yang kudamba tak memiliki perpustakaan, ruang UKS, dan lapangan yang masih tepotong kolam gurame
Sekolah di mana aku bisa merasakan kebenaran tentang pendidikan, tempat di mana para calon penerus bangsa yang baik akan dibentuk. Para guru yang profesional, bahkan tak pernah menggertak muridnya, meski gajinya tak sepadan dengan tenaga yang ia keluarkan. Murid-muridnya yang santun dan ramah, meski tanpa mereka sadari mereka bersekolah di tempat yang kumuh dan tak terawat. Mereka yang akan berebut untuk mecium tangan guru mereka, menunggu sang guru datang, dan membawakan tas kerjanya sampai di kelas. Tak pernah membantah atau bahkan mencaci gurunya.

#

Karena kami tahu sejak kecil, guru adalah orang tua kami. Orang yang akan membimbing kami mencari jalan ke masa depan. Para malaikat pengurus anak-anak bangsa di dalam dekapnya. Mendapat lirikan dari guru, atau melihat raut marahnya, sudah membuat kami berbondong bondong untuk meminta maaf. Sekali pun kami tak pernah membantah titah guru.

Di sana, kami diajari untuk jadi manusia yang jujur, maka setiap kali ada yang menyontek, atau mengerjakan tugas rumah di sekolah, akan diadukan ke guru. Begitu seterusnya, hingga semua usaha guru kami akan dibuktikan nanti sepuluh tahun lagi, atau bahkan tak perlu waktu sebanyak itu.

Kami keluarga di sana, bahkan kepala sekolahku sendiri kerap mengobrol dengan para murid, tanpa ada raut kekejaman, atau jabatan. Di sana, kami punya guru-guru favorit yang kami berikan kejutan pada hari ulang tahunnya.

Segalanya tentang masa itu, akan menjadi kenangan indah di benak kami masing-masing. Dan, guruku akan mendapat tersendiri di hati kami. Karna merekalah guru yang dibutuhkan oleh negeri ini.

#

Perpustakaan baru  selesai dibangun ketika kami duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Perpustakaan yang berukuran kira- kira lima kali enam meter, dibangun tepat di samping tangga sebelah kanan, berada satu jalur dengan ruang guru. Ruang perpustakaan yang merangkap dengan ruang komputer. Aku jatuh cinta pada ruangan itu. Sebelumnya aku membenci bel istirahat karena aktivitas belajarku terhenti, namun ketika bel berdering aku berlari tunggang-langgang ke perpustakaan.

Ketika bosan membaca terus menerus, maka aku akan menata buku sesuai dengan tempatnya, merapikan buku, menyampuli, dan menghabiskan waktu istirahat di dalam perpustakaan. Bukan hanya itu, aku sangat ingin terpilih menjadi petugas perpustakaan, membantu tugasnya si penjaga perpustakaan. Sayang seribu sayang aku tak terpilih, mendaftar saja tak boleh!
Alasannya cukup tak masuk akal, yang dipilih justru adik kelasku. Yang bahkan hanya jajan di kantin dan ngerumpi di kelas. Mungkin, anak kelas enam diminta fokus menghadapi Ujian Nasional.

#

Di sekolah itulah, aku masih menjadi sebulir air di atas daun talas, yang mengikuti semua arahan dari guruku, atau aku masih seperti ketas putih yang belum mendapat coretan apapun. Dan buku terbaik yang pernah kudapat di ruangan 5x6 meter itu, adalah antologi cerpen berjudul ‘Sebatang Pensil’.

#

Masa Sekolah Menengah Pertama, meski aku gagal masuk di sekolah yang aku harapkan. Aku bersyukur, amat bersyukur. Di sini, di suatu tempat di mana aku merasakan sesak di dada, merasakan luapan emosi yang meletup letup. Menjumpai banyak orang, dan mengenal kepribadian mereka. Mungkin, masa remajaku tak akan monoton dengan belajar.

#

Memasuki sekolah, yang dipenuhi oleh ratusan siswa, membuatku menoleh untuk kedua kalinya pada satu objek. Dari kejauhan semua yang disini nampak sempurna. Life’s look better from outside. But the fact, it’s broken inside. Aku merasakan, ajaranku semasa Sekolah Dasar telah luntur dengan perlahan di sini. Aku tak tahu siapa yang bersalah untuk kasus ini.

Aku kehilangan arah. Kehidupan di sini sesungguhnya ganas! Ketika aku masih menjadi murid baru, aku masih rajin mendatangi perpustakaan sekolah yang berukuran dua kali lebih besar dibanding perpustakaan sekolah SD-ku. Dalam satu semester saja membuatku berganti buku catatan peminjaman sebanyak dua kali. Dua buku kuhabiskan dalam sehari, entah akan kubaca sembunyi-sembunyi di laci meja, atau di balik buku paket.

#

Sayangnya, lambat laun semuanya berbeda. Diriku sendiri diterpa derasnya perubahan yang waktu timpakan padaku. Hanya setahun, kini aku bahkan seakan sudah lupa bau perpustakaan. Terakhir aku masuk ke perpustakaan adalah ketika latihan untuk lomba presentasi hari buku dan latihan penyambutan tim adiwiyata. Tak ada lagi, aku yang akan berlari tunggang-langgang ke perpustakaan. Tak akan lagi terjumpai gadis kecil yang cengengesan sehabis menyembunyikan buku yang tidak sempat terpinjam agar tidak diserobot orang lain. Selimutku pun rindu menyembunyikanku dan buku dari balik pelukannya.

Ibuku selalu melarangku membaca novel dan buku-buku sejenis roman picisan, yang digandrungi kaum remaja sepertiku. Anggapannya, novel dan buku selalu membuat nilaiku menurun. Jadilah, aku hanya disuguhi puluhan kamus dan buku latihan OSN, membuatku diam-diam merutuki takdir ini.

Aku selalu iri pada temanku, Devina namanya. Ibunya membebaskanya membeli novel-novel, asalkan tidak melenceng. Bahkan koleksi novelnya bertambah setiap seminggu atau selang dua hari ia akan membeli novel baru. Maka dari itu kerap kali aku meminjam novel-novelnya untuk kubaca. Hingga dari kesekian buku yang kubaca, aku mulai tertarik dengan suatu hal, apalagi didukung dengan suasana baper ala anak SMP.

#

Sastra. Aku tertarik pada satu kata itu. Entah kapan dan bagaimana, aku tak tahu. Only God know it. Aku mulai tergila gila dengan puisi, katakanlah aku berlebihan. Bukankah wajar, jika aku akan tertarik pada salah satu pria diantara ratusan pria yang berada satu tempat denganku. Rasa suka yang tak bisa dideskripsikan, akan tertuang dalam sebuah tulisan, menjadi bahan kajian tentang pengujian kesabaran. Membaca empat seri buku trilogi, karya Andrea Hirata. Membuatku mewajarkan yang namanya cinta bahkan tanpa harus mengenal namanya.

#

Entah terdorong oleh apa, aku masuk ke delam ekstrakurikuler Jurnalistik di sekolahku. Bahkan membayangkan saja tak pernah untuk masuk di Jurnalistik. Namun, lagi-lagi sebuah kebetulan hanyalah kata pengganti dari takdir.

#

“Dua mata kuyu terpejam
Mengadahkan pada Tuhan, bertolak
Harapan bertolak kenyataan,
melukai angan dan bayang
Melipur dalam kenang”

Hingga pada bulan Desember 2016, aku menghadiri acara launching buku pertama FLP Blitar. Aku menjumpai banyak orang yang familiar bagiku. Namun, aku gagal mengingatnya. Dan, aku tak pernah terbayang akan masuk di dalam grup FLP Blitar. Ini semua di luar ekspektasiku. Sungguh, aku hanya iseng sebenarnya dalam mengisi formulir yang berminat masuk dalam FLP Blitar. Aku juga tak menyangka, bahwa guru pembina jurnalistik di sekolahku-Bu Lilik-juga anggota FLP Blitar, dan termasuk anggota awal pembentukan FLP Blitar.

#

Karena banyak pertimbangan, dan pertanyaan yang tarik ulur di kepalaku. Semisal, aku akan menjadi anggota yang paling muda, kecil dan bodoh dalam menulis. Diari, aku hanya sebatas penulis diari dan pengagum rahasia. Bahkan , buku diariku sendiri sudah kubakar. Ceritanya sangat panjang, aku akan menceritakan nanti di lain waktu.

#

Bergabung dengan FLP Blitar, mengajariku banyak hal, dan jangan lupakan soal informasi yang penting- penting bagiku. Menumbuhkan semangat menulisku. Dan kuputuskan untuk uji coba dalam aplikasi wattpad, dan masih sedikit yang membacanya. Tak apalah, semua itu butuh proses. Dan aku adalah pecinta cerita atau kisah yang menggantung, dan kurang suka happy ending.

#

Dalam hal menulis, yang paling parah kulakukan adalah banyak pengulangan kata yang sama, kesannya jadi seperti monoton ceritanya. Kesalahan yang tidak pernah absen adalah typo yang bertebaran. Masalah utamanya, membuat judul yang mencakup keseluruhan cerita. Mohon bantuannya :”).

#

Terimakasih atas segenap waktunya membaca cerita ini, eh aku juga nggak tau ini bisa disebut cerita atau apalah.[]

Blitar, 21 Pebruari 2017

*dibuat untuk Writing Challenge FLP Blitar, dalam rangka menyambut Milad FLP ke-20.

No comments:

Pages