Shinning Smile - FLP Blitar

Shinning Smile

Bagikan
Rain menatap dalam dalam selembar foto di tangannya. Rahangnya mengeras disertai matanya yang berkaca kaca menyiratkan kekecewaan yang cukup dalam di hatinya. Perjuangannya selama ini untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya seakan hanya menyisakan sebuah kehampaan belaka. Tanpa disadari tangannya semakin erat menggenggam membuat foto tersebut berkerut. Jari jemarinya meremas foto tersebut lalu melemparnya sembarangan. Ia benci. Benar benar benci. Ia merasakan kehancuran yang teramat sangat di hatinya. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri saat teringat akan kehidupan kelamnya. Airmatanya lantas jatuh dan mendarat di rerumputan yang masih basah selepas hujan. 

Rain adalah seorang anak tunggal dari sebuah keluarga Kristen Protestan yang taat. Meninggalnya dua orang yang begitu menyayanginya dua tahun lalu benar benar telah menghancurkan hampir seluruh isi alam kehidupannya. Hilangnya cinta dan kasih sayang disekitarnya juga telah menghilangkan lengkung senyumnya yang kini hanya menyisakan isakan kesedihan setiap kali pemuda 19 tahun itu merenung. Tidak berhenti di situ, beberapa waktu lalu seorang Dokter telah memvonis dirinya mengidap leukimia membuat Karin -kekasihnya- memilih untuk meninggalkannya. Hal itu tentunya membuat ia semakin terpuruk akan kesunyian. Sering kali ia keluar masuk pintu Gereja hanya untuk memohon pada Tuhannya agar menguatkan hatinya dan segera membebaskannya dari segala cekalan berbagai masalah yang kini dirasakannya. 

"Tuhan Yesus... Untuk kesekian kalinya aku datang pada-Mu. Aku tau Engkau senantiasa bersamaku. Maka dengarkanlah do'a yang kulantunkan ini. Kuatkanlah hatiku ini menghadapi segala pencobaan-Mu. Tiada lagi tempat bagiku tuk mengadukan nasib selain hanya kepada-Mu. Cinta kasih-Mu tiada berkesudahan oleh apapun, maka kasihilah diriku ini. Tuhan Yesus... Bukalah hati dan telingaku. Agar di tengah kebisingan dunia dan kesibukanku, aku bisa bisa mendengar suara-Mu dengan lebih baik saat Engkau memanggilku untuk datang kepada-Mu. Amiin..." 

Di pagi yang masih menebarkan rasa sejuk embunnya ini ia bertekad dengan segenap untuk selalu tegar. Ia yakin dan percaya Tuhannya tak pernah meninggalkannya. Segala pencobaan ini mungkin adalah bentuk kasih sayang Yesus kepadanya. Ia yakin Yesus memberikan pencobaan ini agar ia menjadi pribadi yang lebih kuat. Entah siapakah yang baru saja tertangkap oleh kedua bola matanya. Namun lengkung senyum itu sungguh membekas di benaknya. Sejenak ia merasakan setangkai bunga mekar dengan indahnya. 

Dia adalah seorang gadis bertudung kepala. Roman wajah asing namun seakan menebar kedamaian itu menarik Rain untuk mengetahui siapakah gerangan tersebut. Gadis tersebut menyatukan kedua telapak tangannya dan merapatkannya ke dada saat Rain mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Nama saya Aisyah Azzahrah, panggil saja Zahra." katanya dengan kesan senyumnya yang meluluhkan hati Rain. Keduanya berteman. Bagi Rain, memiliki teman kembali sungguh terasa seperti berada di tengah tengah taman bunga nan luas yang tiba masanya untuk bermekaran. Selama dua tahun terakhir ini pemuda itu sama sekali tak tersentuh oleh rasa senang. Waktu kian berjalan dan kian mengakrabkan keduanya. Waktu sering keduanya habiskan bersama. Bahkan Zahra telah mengetahui tentang penyakit mematikan yang kini bersemayam di dalam tubuh Rain. Ia hanya bisa berdo'a untuk kesembuhannya sembari terus menyemangatinya. Rain bukan lagi beranggapan hubungannya dengan Gadis Muslim tersebut hanya sebuah pertemanan, ia ingin lebih dari itu. 

"Berdo'alah, aku yakin kamu bakal sembuh." katanya suatu ketika saat Rain mencurahkan isi hatinya padanya. "Bahagia itu kita yang buat. Dalam dunia ini kamu cuma dihadapkan pada dua pilihan hidup. Bahagia, atau sengsara. Dan untuk memilih kau harus memiliki kunci untuk meraih pilihanmu. Jika kamu ingin hidup bahagia, kau harus tau kunci kebahagiaan itu apa." untuk kesekian kalinya ia menenangkan hati Rain yang gundah dengan lengkung senyumnya. 

"Kaulah orang yang selama ini aku cari. Kaulah senyum itu. Senyum yang berbinar. Aku tak ingin kamu pergi." 

Rain akhirnya mendapat kembali apa yang dicarinya selama dua tahun ini. Senyum itu. Perjuangannya selama ini mekawan kerasnya hidup ternyata tidaklah sia sia. Singgahnya Zahra di kehidupannya seakan telah mengobati rasa sedih yang selama ini menyelimuti hatinya. Lengkung senyum gadis muslim tersebut telah menerbitkan kembali senyum Rain yang selama ini terpendam oleh kelamnya kisah. 

"Tetaplah bersamaku selamanya. Aku ingin kita bersatu." Rain sangat berharap. Ia mencintai Zahra, si Gadis muslim bertudung tersebut. Namun pada kenyataannya keduanya tak mungkin bisa bersatu. Keyakinan memaksa mereka untuk tetap berada di dunia yang berbeda. Rain seorang Nasrani, dan Zahra seorang Muslim. Orang orang akan memiliki opini dan asumsi yang buruk pada keduanya jika terjalin kisah kasih. Zahra tak mampu berkata apa apa saat Rain menyatakan perasaannya. Bingung menguasainya. 

"Aku tidak bisa." hanya itulah kalimat yang bisa Zahra katakan. 

Bukan ia tidak mencintai Rain, namun ia tak mau membohongi dirinya sendiri. Meski bisa saling beradu pandang, namun ada dinding yang memisahkan kedua insan yang saling mencintai itu. Harapan tinggallah sebuah harapan. Tekad Rain yang kuat tak menyurutkan semangatnya. 

Dengan lantangnya ia berkata kepada Zahra. "Kalau begitu, ajarkan aku Islam." 

Langkah Zahra tercekat mendengar suara lantang tersebut. Ia kembali menghadapkan wajahnya pada pemuda itu. Ia merasakan sebuah ketulusan yang tak berarah. 

"Islam bukanlah agama yang dipaksakan oleh apapun. Seseorang memeluk islam harus dengan hati yang yakin dan ikhlas. Jangan jadikan besarnya cintamu padaku sebagai alasanmu menjadi seorang Muallaf. Meyakini bahwa Allah SWT hanya Tuhan yang pantas disembah adalah tujuan sebenarnya seseorang memeluk islam." Zahra berlalu menyisakan kebisuan. 

Di atas sajadah biru berlukiskan rumah suci Zahra bersujud dan berdo'a penuh kebimbangan. Ia mengangkat kedua telapak tangannya dan berkata, "Ya Allah, Ya Rabb,... Hanya kepada-Mu lah hamba-Mu ini berharap. Engkaulah tempat segala sesuatu bergantung. Tunjukkanlah jalan-Mu yang lurus. Bila Engkau memang menakdirkannya untukku, maka buatlah kami bersatu. Namun bila Engkau menghendaki yang lain, maka buatlah hati ini tabah menerimanya agar hamba tetap bisa istiqomah di jalan-Mu yang lurus. Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari segala bentuk kemunafikan, riya, keangkuhan. Penuhilah hatiku dengan keikhlasan, kejujuran dan kerendahan hati. Karena hanya Engkau lah Penguasa hati manusia." 

Senyum itu memperindah wajah. Karena dengan wajah tersenyum maka mencerminkan perasaan yang tenang. Senyum itu ibadah yang mudah untuk dilakukan, tetapi mampu menyempurnakan kemuliaan akhlak. Senyum adalah kecantikan yang lahir dari hati dan jiwa, sebuah anugerah yang bisa menenangkan, menyejukkan, dan menentramkan hati yang gelisah. Senyummu adalah kebahagiaan bagimu dan juga orang lain. 

"Jika memang itu senyum itu dariku, aku ingin kau selalu menjaganya. Kita memang tak bisa bersatu. Namun selama kau masih mengingat senyum yang sudah kuberikan itu, kau akan selalu melihatku dimanapun kau berada."

No comments:

Pages