Haiko dan Bocah 20 Tahun Silam - FLP Blitar

Haiko dan Bocah 20 Tahun Silam

Bagikan

| Cerpen by Ahmad Fahrizal A.

Sumber foto : Siggi Meissner's Art


Aku lupa siapa namanya, namun kuingat 20 tahun silam, ia selalu duduk menyendiri di kursi sudut itu. Tangannya sibuk mengarsir lembaran kertas HVS yang ia minta dariku. Saat aku dekati, kulihat sebuah gambar menawan ia ciptakan. Hanya dengan sepucuk pensil HB.

"Oh bagus sekali," Pujiku.

Ia tersenyum malu-malu, lalu pergi berlari entah kemana. Sepertinya anak itu berbakat menjadi pelukis, atau pengarsir. Di masa depan, mungkin ia akan menjadi seniman atau pekerja kreatif dalam bidangnya.

Setiap kali aku mengeluarkan kertas HVS, ia selalu meliriknya, dan meminta selembar atau dua lembar. Waktu itu sambil KKN, aku memang ngebut untuk merampungkan skripsi. Target lulus 3,5 tahun. Jadi, sembari KKN di desa terpencil itu, aku memborong laptop, printer, dan beberapa buku.

Untungnya, karena skripsiku menggunakan pendekatan kualitatif, sehingga tak perlu banyak referensi. Tiap akhir pekan, aku harus kembali ke Kota, merampungkan penelitian, sekaligus konsultasi dengan dosen pembimbing di rumahnya.

Persis 20 tahun berlalu, ketika aku KKN disini dan kembali lagi untuk mengantarkan mahasiswa-mahasiswaku yang juga akan KKN. Ingatanku tiba-tiba tertuju ke anak itu, dan aku benar-benar lupa siapa namanya.

Sekarang dia pasti sudah dewasa. Jika dihitung dari usia terakhir kami berjumpa, usianya kini mungkin sudah 30-an tahun. Usiaku sendiri sudah 42 tahun. Mungkin dia sudah menikah. Sekilas wajahnya kuingat, namun 20 tahun telah berlalu. Tentu sudah banyak yang berubah.

Desa ini pun sudah banyak berubah, dibanding 20 tahun silam. Kebijakan pemerintah pusat terkait dana desa sepertinya dimaksimalkan dengan baik. Kepala desa sekarang juga orang terdidik, Sarjana pertanian. Dibandingkan kepala desa yang menyambut kami 20 tahun silam, yang sekarang sudah meninggal.

Aku bertanya pada kepala desa, dan beberapa perangkatnya yang berusia 30-an tahun, yang sepertinya satu angkatan dengan anak itu.

"Siapa namanya Pak?" Tanya salah seorang mereka.

Itu masalahnya. Aku benar-benar lupa siapa namanya, bahkan nama panggilannya pun tak ingat.

"Pokok anaknya pandai menggambar," Jawabku.

Mereka saling menatap, nampak keraguan. Apakah tak ada satupun yang ingat tentang seorang anak yang suka menggambar itu? Padahal hasil gambarannya begitu bagus.

Aku teringat Haiko, Mahasiswi Jepang yang ikut pertukaran pelajar di Indonesia. Dia hobi menggambar, dan ingin bekerja dalam bidang itu, bercita-cita menjadi seorang Mangaka.

"Beruntungnya di Jepang ya, orang bisa memiliki cita-cita seperti itu. Disini belum tentu dihargai," Ucapku pada Haiko saat kami makan siang di kantin UGM.

Industri kreatif di Jepang memang berkembang begitu pesat. Bahkan produk kartun dan animasi dari negara itu menjejali negara-negara seperti Indonesia. Maka kebutuhan SDM penghasil karya kreatif semacam itu sangat tinggi.

"Di Indonesia juga enak. Sepertinya hidup mereka sangat tenang," responnya dengan logat yang sedikit aneh.

"Maksudnya?"

Haiko tak menjawab sampai ia menghabiskan makan siangnya. Meneguk segelas air putih dan mulai bercerita. Menjelaskan betapa kompetitifnya hidup di negaranya sana, seperti tak ada kesempatan untuk bersantai.

"Saya nanti harus bersaing dengan banyak orang yang punya cita-cita sama," Jelasnya.

-00-

Perpustakaan desa itu dibiarkan tak terawat. Buku-buku sudah dipindah ke gedung sebelah kantor desa, yang lebih bagus. Sementara gedung tua bekas perpustakaan itu masih belum dipugar, dibiarkan sejak 5 tahun silam.

Dinding-dindingnya ditumbuhi tanaman paku, sebagian sudut lembabnya ditumbuhi ketupang air. Bagian luarnya dipenuhi rerumputan. Pintu dan jendela kayunya sudah keropos.

Waktu KKN, sering aku tertidur di tempat ini, menjadi penunggu perpustakaan hingga pagi. Alasannya, aku lebih nyaman mengerjakan tugas-tugas dan skripsi disini. Tiap sore, kami rutin mengajar anak-anak desa mengaji. Paginya, membantu merealisasikan program desa.

"Pak dosen."

Seseorang memanggilku. Setengah berlari ia menghampiriku.

"Apa anak yang bapak maksud itu, si Mahmud?" Tanya Kasman, salah satu perangkat desa.

"Hanya si Mahmud yang pintar gambar pak, adik kelas saya," Jelasnya.

"Sekarang kemana si Mahmud?" Tanyaku.

"Dia merantau ke Semarang."

"Kuliah atau kerja? Kerja apa?"

"Di pabrik roti."

-00-

Setelah prosesi pengantaran dan serah terima mahasiswa KKN selesai, aku dan rombongan ijin pulang, sembari berbisik pada Febri, ketua KKN.

"Nanti kalau ada anak yang pintar gambar atau sketch, kamu kabari bapak ya?"

Kami pun pulang. Menempuh perjalanan tak kurang dari 3 jam menuju Kota Sleman. Dalam perjalanan, aku mengirim pesan via whatsapp ke Haiko. Hanya bertanya kabar saja.

Haiko tak akan langsung menjawab, butuh beberapa jam kemudian. Sepertinya dia fokus pada pekerjaannya, menjadi salah satu asisten dari Mangaka terkenal di Jepang. Apakah dia menyukai pekerjaannya?

Pasti. Bukankah itu pekerjaan yang selama ini ia idamkan? Meskipun sesekali Haiko meneleponku dan mengeluhkan betapa kritisnya penonton atas karya-karya yang ia buat besama tim kreatifnya.

Pada saat itupula direktur perusahaan menekan mereka agar berkarya lebih maksimal. Beda Haiko dan juga si Mahmud, yang sama-sama punya bakat cemerlang dalam bidang itu. []

Sleman, 10 Januari 2019

No comments:

Pages